Alasan Kenapa Handphone yang Tethering Nyala Jangan Disimpan dalam Tas

kumparanTEKNOverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Handphone Meledak Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Handphone Meledak Foto: Shutterstock

Pakar Keamanan Siber Vaksincom, Alfons Tanujaya, mengatakan bahwa handphone yang dipakai tethering bisa terbakar karena baterainya mengalami thermal runaway. Ini merespons kejadian dua unit hp milik penumpang meledak hingga mengeluarkan asap di dalam KRL yang berhenti di Stasiun Rawa Buntu, Tangerang Selatan, pada Kamis (17/9) lalu.

Menurut Alfons, kondisi tersebut dapat terjadi ketika panas yang dihasilkan baterai tidak dapat tersalurkan dengan baik. Penggunaan HP secara terus-menerus untuk tethering, ditambah perangkat disimpan di dalam tas dengan sirkulasi udara terbatas, dapat membuat suhu perangkat semakin tinggi hingga mengalami thermal runaway.

Thermal runaway merupakan kondisi ketika sel baterai lithium-ion mengalami pemanasan yang tidak terkendali. Fenomena ini dapat menghasilkan suhu sangat tinggi, gas, asap, hingga api. Menurut UL Research Institutes, thermal runaway terjadi ketika panas yang dihasilkan sel baterai jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan sel untuk membuang panas tersebut.

Ketika baterai mengalami panas berlebih, bagian-bagian di dalam sel yang semestinya terpisah oleh membran tipis dapat mengalami kerusakan. Kondisi itu kemudian dapat memicu reaksi kimia yang menghasilkan panas dan api.

Karena melibatkan reaksi kimia di dalam baterai, kebakaran baterai lithium-ion memiliki karakteristik berbeda dari kebakaran biasa. Api yang muncul dari baterai tidak dapat diperlakukan sama seperti api konvensional.

“Api yang dihasilkan oleh baterai HP itu bukan api biasa yang bisa dipadamkan dengan pemadam api konvensional, melainkan api kimia dari campuran unsur baterai,” kata Alfons.

Reaksi kimia pada baterai dapat terus menghasilkan panas dan mendukung proses pembakaran sehingga sekadar menghilangkan oksigen dari lingkungan belum tentu menghentikan proses thermal runaway pada baterai.

Pakar Siber Alfons Tanujaya. Foto: Facebook/Alfons Tanujaya

Mengapa HP yang Dipakai Tethering Bisa Panas?

Alfons menduga penggunaan HP untuk tethering dalam waktu lama menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan suhu perangkat. Ketika tethering aktif, HP terus bekerja untuk membagikan koneksi internet ke perangkat lain. Beban kerja tersebut dapat membuat perangkat menghasilkan panas. Jika HP kemudian disimpan di dalam tas, panas yang dihasilkan menjadi lebih sulit dilepaskan ke lingkungan.

“Ponsel tethering melakukan proses membagikan koneksi terus-menerus tanpa henti dan mengalami panas berlebih. Ditambah disimpan di dalam tas di mana ponsel tidak mendapatkan sirkulasi udara yang cukup sehingga panasnya tidak tersalur dan proses tethering berjalan terus,” kata Alfons.

Kondisi tersebut bisa semakin berisiko jika HP tethering disimpan berdekatan dengan perangkat lain yang juga sedang bekerja dan menghasilkan panas.

“Kalau disimpan bersama dengan ponsel lain yang juga melakukan proses komputasi dan baterainya jadi panas, maka ini makin memperparah panas yang ditimbulkan oleh kedua ponsel,” ujarnya.

Namun, penyebab pasti dua HP yang terbakar dalam insiden KRL Rawa Buntu belum dapat disimpulkan hanya dari kondisi tersebut.

Alfons juga menduga sistem perlindungan baterai pada perangkat dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Perangkat modern umumnya memiliki mekanisme perlindungan untuk menghadapi kondisi suhu yang terlalu tinggi. Salah satu mekanisme yang mungkin digunakan adalah mematikan perangkat secara otomatis ketika suhu mencapai batas tertentu.

“Ponsel yang mengalami thermal runaway ini kemungkinan kurang memiliki fitur pengamanan. Kemungkinan ponsel model lama dan tidak memiliki fitur shutdown jika baterai overheat. Harusnya untuk ponsel modern memiliki fitur auto shutdown jika overheat,” ujar Alfons.

Meski demikian, keberadaan fitur proteksi tidak berarti baterai sepenuhnya bebas dari risiko. UL Research Institutes mencatat thermal runaway dapat dipicu oleh kegagalan internal maupun kondisi eksternal pada sel baterai.

Sejumlah penumpang KRL Commuter Line Bogor menunggu datangnya kereta di Stasiun Depok, Selasa (8/9/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Jangan Gunakan HP Sambil Di-charge dan Disimpan di Tas

Alfons mengingatkan pengguna untuk memperhatikan kondisi ketika HP digunakan secara intensif sekaligus sedang diisi daya, terlebih jika sumber daya berasal dari power bank. Penggunaan berat seperti tethering ketika HP sedang di-charge dapat membuat perangkat semakin panas. Risikonya menjadi lebih tinggi jika HP dan power bank kemudian disimpan berdampingan di dalam tas tertutup.

“Kalau sedang digunakan dengan berat tidak disarankan sambil charging, misalnya di-charge di power bank, apalagi disimpan bersamaan di dalam tas tertutup,” katanya.

Dia menilai kondisi tersebut dapat membuat panas dari kedua perangkat terakumulasi. Jika salah satu baterai mengalami thermal runaway, panas dan api yang dihasilkan juga berpotensi memengaruhi perangkat lain yang berada sangat dekat.

“Sekali satu ponsel terbakar, apinya sangat ganas dan akan cepat menyambar ponsel sebelahnya. Kalau terkena baterai ponsel yang tadinya tidak thermal runaway malah jadi ikut-ikutan thermal runaway dan memperbesar api,” ujar Alfons.

Mengapa Baterai HP Tidak Boleh Disepelekan?

Insiden di KRL Rawa Buntu menunjukkan mengapa kondisi baterai perangkat perlu diperhatikan, terutama ketika perangkat digunakan dalam waktu lama dan berada di ruang dengan ventilasi terbatas.

Dalam kejadian tersebut, petugas menemukan dua HP terbakar di dalam tas penumpang. Peristiwa itu sempat memicu kepanikan di dalam gerbong dan membuat perjalanan Commuter Line 1641 relasi Rangkasbitung-Tanah Abang mengalami keterlambatan sekitar tujuh menit.

Alfons kemudian membandingkan situasi tersebut dengan penerbangan. Risiko baterai menjadi perhatian serius dalam transportasi udara karena perangkat atau baterai yang mengalami thermal runaway harus dapat segera diketahui dan ditangani oleh awak maupun penumpang.

“Beruntung hal ini terjadi di kereta. Karena itulah di pesawat udara dilarang pakai power bank dan baterai dilarang disimpan di bagasi atau kompartemen atas dan harus disimpan di lokasi yang mudah diawasi oleh pemiliknya jika terjadi thermal runaway,” ujar Alfons.

Kondisi tersebut menjadi lebih sulit jika kebakaran baterai terjadi di dalam pesawat karena ruang dan prosedur penanganannya berbeda dengan kereta.

“Kalau di pesawat ponsel terbakar kan tidak mungkin main buang keluar seperti di kereta,” katanya.

Pada akhirnya, pengguna perlu memperhatikan kondisi perangkat ketika HP terasa sangat panas, terutama jika perangkat sedang bekerja berat, digunakan untuk tethering, atau sedang diisi daya. Menempatkan HP dan power bank dalam ruang tertutup juga perlu dihindari agar panas dapat terlepas dengan lebih baik.