Belajar dari Hoaks yang Viral: Menguji Daya Kritis Netizen di Media Sosial

Penulis dan pengamat fenomena sosial-budaya. Aktif memotret dinamika pendidikan dan keseharian masyarakat.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Teddy Afriansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menyoroti fenomena hoaks hilangnya gaya tarik Bumi dan rapuhnya literasi sains masyarakat di media sosial.

Media sosial masa kini dihebohkan oleh kabar bohong yang sangat aneh. Isinya menyebutkan bahwa gravitasi atau gaya tarik Bumi akan hilang selama beberapa saat. Lucunya, banyak netizen langsung panik dan buru-buru menyebarkan pesan tersebut tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu. Komentar yang muncul pun beragam, mulai dari yang ketakutan sampai tanggapan polos yang bikin netizen menggelengkan kepala. Reaksi tersebut menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Indonesia masih mudah percaya hoaks dan malas berpikir kritis ketika menerima informasi di internet.
Mengapa Netizen Mudah Tertipu Judul yang Heboh?
Otak manusia secara alami langsung bereaksi ketika mendengar kabar tentang ancaman atau bencana. Hal tersebut yang menjadikan suatu berita tentang kiamat atau kejadian aneh selalu cepat viral. Ketika membaca judul yang menakutkan, rasa panik netizen biasanya mengalahkan logika sehat. Padahal, jika netizen bisa tenang sedikit, hoaks yang muncul sangat mudah terbongkar. Sebagai contoh, agensi antariksa NASA sebenarnya sudah membantah tegas rumor hilangnya gravitasi Bumi tersebut, seperti yang sempat diberitakan oleh detikInet.
Sayangnya, rasa panik telanjur membuat netizen malas membaca. Banyak orang langsung membagikan berita tanpa membuka dan membaca isinya secara utuh. Masalah tersebut diperparah oleh sistem media sosial itu sendiri. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Azfi dan teman-temannya di Jurnal Penelitian Nusantara, algoritma media sosial memang dirancang untuk terus menyodorkan konten yang memancing emosi netizen. Akibatnya, netizen terjebak dalam lingkaran konten sejenis dan makin percaya pada hoaks tersebut. Berita bohong pun akhirnya menggelinding bebas dan makin sulit dibendung.
Penyakit Asal Sebar Tanpa Membaca Isi
Cara orang membaca berita sekarang sudah berubah. Banyak netizen merasa cukup hanya dengan membaca judul atau menonton video pendek yang lewat di beranda. Begitu melihat judul yang menarik, jempol langsung otomatis membagikannya ke grup WhatsApp keluarga atau teman tanpa mengecek kebenarannya. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Azfi dan teman-temannya di Jurnal Penelitian Nusantara, grup obrolan yang sifatnya privat seperti WhatsApp justru menjadi tempat paling subur bagi penyebaran hoaks. Hal tersebut terjadi karena tidak ada pengawasan atau koreksi dari pihak luar di dalam grup tersebut.
Kebiasaan buruk tersebut menunjukkan masalah besar pada budaya membaca masyarakat masa kini di Indonesia. Banyak orang yang memiliki ponsel pintar, tetapi cara berpikirnya belum cukup cerdas untuk menyaring informasi. Teknologi yang makin canggih ternyata tidak otomatis membuat penggunanya pintar dalam membedakan berita asli dan palsu. Setiap kali membagikan berita palsu secara terburu-buru, netizen sedang ikut menyuburkan lingkaran hoaks di internet.
Jago Main Medsos Bukan Berarti Pintar Saring Fakta
Kemahiran memakai smartphone dan aplikasi keren ternyata tidak menjamin seseorang pintar membedakan fakta. Angka pengguna internet di Indonesia memang sangat tinggi, tetapi pemahaman netizen tentang sains dasar masih sangat rendah. Celah yang muncul sering dimanfaatkan oleh pembuat hoaks. Banyak berita bohong sengaja memakai istilah ilmiah atau bahasa asing supaya terlihat keren dan tepercaya, padahal isinya kosong. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nisa dan teman-temannya di Impressive Journal of Education, ketidakmampuan menyaring informasi di tengah derasnya arus internet justru membuat netizen makin bingung dan tersesat.
Masalahnya, netizen Indonesia sering malas mencari sumber berita pembanding yang resmi. Kasus hoaks hilangnya gravitasi Bumi yang sedang viral hanyalah contoh kecil dari lemahnya logika masyarakat Indonesia. Dikarenakan malas mengecek ulang informasi secara mandiri, banyak orang akhirnya menjadi korban empuk para pembuat hoaks. Mulai sekarang, netizen harus mengubah cara berpikir. Netizen harus lebih kritis supaya tidak mudah dibodohi oleh berita palsu yang dibungkus dengan istilah-istilah keren tetapi bohong.
Mulai Sekarang, Biasakan Saring Sebelum Sharing!
Menangkal hoaks sebenarnya bisa dimulai dari langkah yang sangat sederhana, yaitu jangan buru-buru. Ketika melihat berita yang aneh atau menakutkan, tahan jempol untuk tidak langsung membagikannya ke orang lain. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nisa dan teman-temannya dalam Impressive Journal of Education, kemampuan dasar untuk memeriksa siapa pembuat berita menjadi kunci utama untuk melawan hoaks. Kebiasaan mengecek kebenaran berita tersebut dapat menjadi pelindung terbaik dari serbuan kabar bohong di internet.
Dengan bersikap sedikit ragu dan kritis, masyarakat Indonesia tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga menjaga ketenangan orang-orang di sekitar. Melatih logika di media sosial menjadi bentuk kepedulian bersama untuk menjaga kenyamanan digital. Langkah kecil seperti meluangkan waktu satu menit untuk mengecek kebenaran berita bisa menyelamatkan banyak orang dari kepanikan yang sia-sia. Pada akhirnya, pertahanan terbaik melawan hoaks yaitu diri sendiri yang selalu memakai akal sehat ketika berselancar di dunia internet.
