Konten dari Pengguna

Negeri Tanpa Pertanyaan: Budaya Otoritas dan Matinya Berpikir Kritis

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Surya Hadi Muharam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Sebuah ruang kelas yang menjadi simbol budaya otoritas dalam pendidikan. (source: Chat GPT)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Sebuah ruang kelas yang menjadi simbol budaya otoritas dalam pendidikan. (source: Chat GPT)

Bayangkan sebuah negeri di mana anak-anak tumbuh dengan keyakinan bahwa bertanya adalah tanda ketidaksopanan, sementara kepatuhan dianggap sebagai bentuk kecerdasan tertinggi. Di negeri itu, jawaban lebih dihargai daripada rasa ingin tahu, dan mengikuti aturan lebih penting daripada memahami alasan di balik aturan tersebut. Meskipun terdengar seperti kisah fiksi, gambaran ini dapat ditemukan dalam berbagai praktik pendidikan dan kehidupan sosial sehari-hari.

Dalam perspektif sosiologi pendidikan, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai arena pembentukan budaya. Salah satu budaya yang sering berkembang adalah budaya otoritas, yaitu kecenderungan untuk menerima keputusan, aturan, dan pengetahuan tanpa mempertanyakannya secara kritis.

Budaya Otoritas dalam Kehidupan Sekolah

Sejak memasuki dunia pendidikan, siswa diperkenalkan pada berbagai aturan yang harus dipatuhi. Mereka belajar kapan harus datang, kapan harus berbicara, kapan harus diam, bahkan bagaimana cara berpakaian dan berperilaku.

Aturan tersebut memang penting untuk menciptakan ketertiban. Namun, ketika kepatuhan menjadi nilai utama dan pertanyaan dianggap sebagai gangguan, sekolah berpotensi menciptakan budaya yang menempatkan otoritas di atas dialog.

Dalam situasi seperti ini, siswa sering kali lebih fokus mencari jawaban yang dianggap benar daripada memahami proses berpikir yang menghasilkan jawaban tersebut. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis perlahan tergeser oleh kebiasaan menerima informasi secara pasif.

Hidden Curriculum: Pelajaran yang Tidak Tertulis

Budaya otoritas sering kali tidak diajarkan secara langsung dalam buku pelajaran. Ia hadir melalui hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi, yaitu nilai dan norma yang dipelajari siswa melalui pengalaman sehari-hari di sekolah.

Misalnya, siswa yang selalu mengikuti instruksi tanpa bertanya sering dipuji sebagai siswa teladan. Sebaliknya, siswa yang banyak bertanya terkadang dianggap menghambat proses belajar atau menantang kewibawaan guru.

Tanpa disadari, siswa belajar bahwa menjadi "murid baik" berarti mengikuti arahan tanpa banyak mempertanyakan. Pelajaran seperti inilah yang membentuk pola pikir dan perilaku sosial mereka di masa depan.

Perspektif Paulo Freire: Pendidikan dan Kesadaran Kritis

Pemikiran Paulo Freire memberikan kritik tajam terhadap pendidikan yang hanya menempatkan siswa sebagai penerima informasi. Menurut Freire, pendidikan seharusnya menjadi proses dialog yang memungkinkan peserta didik memahami dan mengkritisi realitas sosial di sekitarnya.

Freire menyebut praktik pendidikan yang hanya mengisi pikiran siswa dengan informasi sebagai banking education. Dalam model ini, guru dianggap sebagai pemilik pengetahuan, sementara siswa hanya menjadi tempat penyimpanan informasi.

Akibatnya, siswa terbiasa menerima dunia apa adanya tanpa mengembangkan kemampuan untuk mempertanyakan ketidakadilan, ketimpangan, atau berbagai persoalan sosial lainnya.

Perspektif Michel Foucault: Kuasa dalam Pendidikan

Pandangan Michel Foucault membantu menjelaskan bagaimana kekuasaan bekerja melalui lembaga pendidikan. Menurut Foucault, kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk paksaan. Ia juga bekerja melalui aturan, pengawasan, dan kebiasaan yang membuat individu mengatur dirinya sendiri.

Di sekolah, sistem penilaian, tata tertib, absensi, dan berbagai bentuk evaluasi dapat menjadi sarana pembentukan perilaku yang sesuai dengan harapan lembaga. Melalui mekanisme tersebut, siswa belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku.

Ketika proses ini berlangsung terus-menerus tanpa ruang dialog yang memadai, budaya kepatuhan dapat berkembang lebih kuat daripada budaya berpikir kritis.

Dampak terhadap Masyarakat

Budaya otoritas yang terbentuk di sekolah tidak berhenti di ruang kelas. Nilai-nilai tersebut sering terbawa ke dunia kerja, organisasi, bahkan kehidupan politik.

Masyarakat yang terbiasa menerima informasi tanpa bertanya cenderung lebih mudah dipengaruhi oleh opini dominan. Sebaliknya, masyarakat yang terbiasa berdiskusi dan mempertanyakan berbagai persoalan akan lebih mampu berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan demokratis.

Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis bukan hanya kebutuhan akademik, melainkan juga kebutuhan sosial untuk membangun masyarakat yang lebih reflektif dan partisipatif.

Antara Menghormati dan Mempertanyakan

Berpikir kritis tidak berarti menolak semua aturan atau tidak menghormati otoritas. Sebaliknya, berpikir kritis adalah kemampuan untuk memahami alasan di balik suatu keputusan, mengevaluasi informasi secara rasional, dan menyampaikan pendapat dengan bertanggung jawab.

Pendidikan yang ideal bukanlah pendidikan yang menghasilkan individu yang selalu patuh ataupun selalu memberontak. Pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang mampu menyeimbangkan penghormatan terhadap aturan dengan keberanian untuk bertanya dan berpikir mandiri.

Kesimpulan

"Negeri Tanpa Pertanyaan" merupakan metafora bagi masyarakat yang lebih menghargai kepatuhan daripada rasa ingin tahu. Melalui budaya otoritas dan hidden curriculum, sekolah dapat membentuk kebiasaan menerima informasi tanpa banyak refleksi. Padahal, salah satu tujuan utama pendidikan adalah membangun kemampuan berpikir kritis agar individu mampu memahami, mengevaluasi, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial secara sadar.

Pada akhirnya, kualitas suatu pendidikan tidak hanya diukur dari seberapa banyak jawaban yang mampu diberikan siswa, tetapi juga dari seberapa berani mereka mengajukan pertanyaan yang bermakna.