Konten dari Pengguna

Sapaan Seharga Ratusan SKS: Seni Menyikapi dan Menikmati Realitas

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari MUHAMMAD IRSYAD ALFATIH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Romantika Pendidikan Tinggi Tertinggi

Ada momen-momen tertentu dalam hidup di mana realitas menghantam kita bukan dengan hantaman keras yang meremukkan, melainkan dengan sentilan halus yang membuat kita tersenyum kecut. Bagi saya, momen unik itu datang tidak lama setelah saya resmi menyandangkan gelar Doktor di depan nama.

Proses untuk sampai ke titik tersebut? Jelas tidak main-main. Siapa pun yang pernah menjejakkan kaki di jenjang strata tiga (S3) pasti paham betul bahwa ini bukan sekadar urusan masuk kelas, mendengarkan kuliah, lalu mengumpulkan tugas di akhir semester. Menempuh doktoral adalah sebuah perjalanan sunyi yang panjang. Mungkin juga dapat dikatakan sebuah maraton intelektual yang menguji ketahanan mental hingga ke batas terluar.

Selama bertahun-tahun, kehidupan bertransformasi menjadi ritme yang monoton namun menegangkan. Ratusan malam dihabiskan bukan untuk bersantai menikmati tayangan hiburan, melainkan untuk bertengkar dengan jurnal-jurnal ilmiah bertaraf internasional yang bahasanya sering kali sengaja dibuat rumit. Ada bab demi bab disertasi yang rasanya lebih sering dicoret tinta merah pembimbing daripada disetujui. Setiap kali draft dikembalikan dengan catatan "revisi", rasanya seperti membangun rumah pasir yang disapu ombak tepat saat atapnya baru dipasang.

Dalam fase-fase krusial itu, kopi bukan lagi sekadar minuman penyemangat di pagi hari, melainkan bahan bakar utama kehidupan yang mengalir di pembuluh darah. Ada keringat, ada linangan air mata yang tersembunyi di balik layar laptop pada dini hari yang sunyi, dan tentu saja: biaya material serta energi mental yang terkuras habis. Hubungan sosial menyempit, waktu bersama keluarga terpotong, dan pikiran hampir 24 jam sehari tersita oleh pertanyaan penilitian, metodologi, serta argumentasi kebaruan (novelty) yang tak kunjung usai.

Ilustrasi Wisuda. Sumber: Shutterstock

Namun, sebagaimana setiap cerita memiliki bab penutup, perjuangan panjang itu akhirnya menemui muaranya. Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba: Sidang Promosi Doktor.

Di depan dewan penguji, promotor, dan para tamu undangan, argumen dipertahankan dengan sisa-sisa energi yang ada. Ketika tirai sidang akhirnya ditutup, rapat dewan penguji selesai, dan predikat lulus diumumkan dengan gaung yang anggun, ada rasa lega luar biasa yang membuncah. Beban seberat ton yang selama bertahun-tahun menggelayut di pundak seolah terangkat seketika.

Tetapi, tepat setelah euforia itu mereda dan selamat demi selamat selesai diucapkan, sebuah fenomena psikologis baru yang tidak pernah diajarkan di matakuliah metodologi penelitian mendadak muncul: Fase Canggung Dipanggil Doktor.

Kecanggungan Sapaan Baru

Awalnya, kecanggungan ini hadir tanpa permisi. Setiap kali bertemu rekan kerja di koridor kantor, tetangga di kompleks rumah, atau kawan lama yang kebetulan bertemu di reuni menyapa dengan nada bersemangat:

“Halo, Pak Doktor!”

“Selamat pagi, Doktor!”

Refleks pertama tubuh dan pikiran saya adalah menengok ke belakang secara spontan. Otak saya secara otomatis mencari-cari: Apakah ada dokter spesialis kandungan, dokter spesialis jantung, atau minimal dokter umum yang sedang berdiri di belakang saya?

Ketika sadar bahwa koridor sepi dan panggilan itu murni ditujukan kepada saya, ada rasa canggung yang menjalar cepat dari ujung ibu jari kaki sampai ke ujung rambut di ubun-ubun. Serius, reaksi batin saya saat itu adalah merasa serba salah.

Sebagai orang yang tumbuh dan terbiasa dengan kultur hubungan egalitarian, saya maunya biasa saja. Saya ingin orang-orang tetap memperlakukan saya persis seperti dulu sebelum ada embel-embel gelar ini: sebagai kawan ngobrol yang asyik diajak berdiskusi tanpa sekat akademis, teman makan siang yang tidak sungkan melempar lelucon konyol, atau rekan kerja yang bisa dikritik tanpa perlu sungkan pada status pendidikan.

Dipanggil "Doktor" di lingkungan non akademis murni khususnya dalam interaksi sehari-hari terasa seperti memakai stelan jas tuxedo super mewah lengkap dengan dasi kupu-kupu, padahal kita hanya sedang nongkrong di warung makan indomie saat hujan gerimis. Ada rasa kelonggaran yang tidak pas, ada kesan formalitas yang kaku, dan ada kekhawatiran terselubung: Apakah panggilan ini akan membangun tembok pembatas antara saya dan kawan-kawan yang lain? Apakah mereka akan menganggap saya berubah menjadi sosok yang tinggi hati dan sulit dijangkau?

Rasa kikuk itu begitu nyata hingga pada minggu-minggu awal pasca-kelulusan, saya kerap secara refleks memotong sapaan kawan-kawan dengan kalimat penjelas: "Aduh, jangan panggil Doktor ah, panggil nama biasa aja kayak kemarin-kemarin."

Tapi tunggu dulu. Cerita dinamika ini ternyata baru memasuki babak awal yang menarik.

Ketika Realitas Dunia Kerja Datang Menyapa

Setelah euforia sidang promosi benar-benar surut, setelah toga hitam yang megah dirapikan kembali ke dalam lemari kayu, dan setelah bingkai ijazah tersusun rapi di dinding ruang kerja, saatnya kembali menapak tanah: kembali beraktivitas di medan kerja harian.

Dalam benak seorang lulusan S3 yang masih polos (atau mungkin sedikit naif karena terlalu lama berada di dalam "menara gading" akademis), ada sedikit ekspektasi yang membumbung secara tidak sadar. Ya, tentu saja tidak perlu sampai karpet merah digelar sepanjang koridor kantor saat saya masuk di hari Senin pagi, atau alunan musik tradisional menyambut di pintu masuk utama.

Namun, secara manusiawi, ada semacam harapan implisit: Pasti ada penyesuaian signifikan. Mungkin alur karier akan melesat lebih cepat, pekerjaan strategis tingkat tinggi akan langsung dipercayakan ke meja kerja, atau minimal ada reposisi peran yang membuat ruang artikulasi pemikiran menjadi jauh lebih luas dan berdampak.

Namun, realitas operasional dunia kerja ternyata memiliki hukum gravitasinya sendiri. Begitu pintu kantor dibuka dan laptop dibuka kembali, sistem kerja berjalan seperti biasa. Sangat, sangat biasa. Pesan chat yang masuk tetap datang dengan ritme dan jenis permasalahan yang sama persis seperti sebelum saya meraih gelar. Tenggat waktu pekerjaan ruitn tetap mengejar tanpa peduli seberapa tebal disertasi yang baru saja diselesaikan dengan predikat memuaskan.

Bagi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) non-dosen, salah satu puncak pencapaian spiritual yang paling diagungkan (setidaknya menurut brosur-brosur dan pidato para pimpinan) adalah mendapatkan Tugas Belajar. Oh, bayangkan kemegahannya! Anda terpilih, disaring melalui serangkaian ujian yang lebih ketat daripada seleksi masuk sekte rahasia, lalu dikirim ke universitas ternama untuk mereguk cawan ilmu pengetahuan. Anda membedah teori-teori mutakhir, menganalisis data dengan metode rumit, dan memeras otak demi menyusun tesis atau disertasi yang diharapkan bisa mengubah wajah bangsa.

Namun, begitu Anda lulus, menggenggam ijazah dengan embos emas logo universitas, dan melangkah kembali ke koridor instansi, sebuah kenyataan pahit nan jenaka siap menyergap: Anda baru saja melakukan hibernasi karier yang sukses.

Di dalam ekosistem kepegawaian nasional kita yang adiluhung, Tugas Belajar bagi ASN non-dosen sering kali bertransformasi menjadi sebuah ritual pengorbanan diri yang sia-sia. Sebuah perjalanan akademik yang alih-alih memberi "daya ungkit" bagi karier, justru bertindak sebagai rem tangan yang ditarik maksimal di tengah tanjakan terjal.

Di mata sistem organisasi harian, Anda tetaplah seorang pegawai atau staf yang dievaluasi berdasarkan capaian target operasional harian, bukan berdasarkan berapa banyak kutipan jurnal yang pernah Anda tulis di Bab-bab Disertasi.

Pergeseran Paradigma dan Seni Menikmati "Benefit" Tersisa

Di titik inilah proses kompromi yang jujur dengan diri sendiri dimulai. Sebuah momen kontemplasi di mana seorang lulusan S3 duduk diam di meja kerjanya, melihat cangkir kopi yang mengepul, dan mulai melakukan perhitungan matematika kehidupan secara rasional sekaligus bernada humor.

Jika gelar Doktor ini tidak secara instan merombak panggung karier dan tidak meningkatkan kesejahteraan, lalu apa sebenarnya return on investment (ROI) atau manfaat konkret yang bisa langsung dirasakan dalam kehidupan sehari-hari?

Jawabannya muncul dengan sangat sederhana, sedikit menggelitik, namun sangat-sangat manusiawi: Panggilan "Doktor" dari para kolega.

Ya, benar sekali! Sungguh sebuah komedi kehidupan yang manis.

Dulu, di minggu-minggu awal, saya merasa sangat kikuk dan memohon-mohon agar orang lain bersikap biasa saja tanpa perlu membawa-bawa gelar tersebut. Namun, setelah melihat kenyataan lapangan bahwa dampak gelar ini terhadap akselerasi karier berjalan super lambat (atau bahkan hampir datar-datar saja) perspektif mental saya bergeser 180 derajat secara dramatis.

Dialog batin saya bertransformasi menjadi seperti ini:

“Tunggu dulu... Kalau karier tidak langsung melompat tinggi setidaknya biarkan saya menikmati panggilannya!”

Sekarang, setiap kali ada rekan kerja yang berpapasan di koridor, di kantin, atau di pintu lift dan menyapa dengan ceria:

“Pagi, Pak Doktor! Gimana kabar hari ini?”

Saya tidak lagi menengok ke belakang mencari dokter medis. Saya tidak lagi memotong kalimat mereka dengan permohonan "aduh jangan panggil gitu ah". Sebaliknya, saya akan tersenyum lebar, membusungkan dada sedikit (secara kiasan untuk menjaga postur tubuh, tentu saja), dan membalas sapaan itu dengan penuh kehangatan serta keramahan ekstra.

Lebih dari sekadar lelucon batin, di sinilah rasa terima kasih yang mendalam itu tumbuh. Sungguh, apresiasi setinggi-tingginya dan rasa hormat yang tulus ingin saya sampaikan kepada para kolega di kantor, teman-teman sejawat yang dengan begitu murah hati, ramah, dan penuh kesopanan berkenan meluangkan lidah untuk menyapa saya dengan sebutan "Doktor" atau "Pak Doktor".

Mungkin bagi mereka itu hanya sapaan santai di sela-sela rutinitas kerja. Namun bagi saya, kerelaan mereka menyapa dengan gelar tersebut adalah sebuah penghargaan sosial yang amat berharga. Di tengah sistem organisasi yang kadang dingin dan datar, kehangatan para kolega itulah yang menghidupkan kembali rasa dihargai. Mereka, dengan segala ketulusannya, secara tidak langsung menjadi "pengobat dahaga" bagi jiwa akademis yang baru saja selesai bertarung di medan studi. Sapaan mereka adalah validator paling ramah yang membisikkan bahwa perjuangan bertahun-tahun itu tidak sama sekali tak berbekas.

Panggilan “Pak Doktor” dari kolega akhirnya menjadi benefit paling langsung, paling nyata, dan paling instan yang tersisa dari investasi masa studi yang begitu panjang.

Panggilan itu adalah ganti rugi simbolis harian untuk ratusan malam tanpa tidur nyenyak, untuk rasa frustrasi saat artikel ilmiah ditolak oleh reviewer, untuk perdebatan sengit dengan penguji, dan untuk biaya kesehatan serta suplemen yang terkuras selama studi.

Jika sistem kerja dan birokrasi belum memberikan ganjaran karier yang sepadan setidaknya biarkan telinga ini menikmati buah manis berupa sapaan kehormatan dari rekan-rekan sejawat yang luar biasa ini. Merelakan diri untuk dipanggil "Doktor" (bahkan mulai belajar menikmatinya dengan senyuman dan rasa terima kasih) bukanlah bentuk kesombongan atau kecongkakan akademis. Sebaliknya, itu adalah bentuk self-reward (penghargaan pada diri sendiri) dan selebrasi kebersamaan yang paling realistis, paling ekonomis, dan paling menghibur yang bisa kita dapatkan saat ini.

Minimal, sapaan itu menjadi penegas kecil di tengah tumpukan kerja harian: bahwa pernah ada sebuah masa di mana kita berhasil menaklukkan salah satu puncak ujian intelektual tertinggi, dan kita dikelilingi oleh kawan-kawan kantor yang cukup peduli untuk merayakannya bersama kita setiap hari.

Makna Perjalanan Akademis

Tentu saja, jika kita bersedia melangkah sedikit lebih dalam menembus lapisan humor dan lelucon tentang sapaan kantor tadi, kita akan menemukan bahwa perjalanan doktoral sejatinya tidak pernah betul-betul sia-sia. Sangat keliru jika kita mengukur keberhasilan sebuah pencapaian intelektual hanya dari kacamata respons instan dunia kerja.

Proses menempuh S3 pada dasarnya adalah proses dekonstruksi dan rekonstruksi cara berpikir.

Ilustrasi Wisuda Sumber: Shutterstock

Sebelum menempuh doktoral, kita mungkin terbiasa melihat dunia secara hitam-putih, menyerap informasi secara mentah, atau tergoda untuk menyelesaikan masalah hanya pada permukaan gejalanya saja. Namun, gemblengan proses riset S3 memaksa kita untuk membedah masalah hingga ke akar epistemologisnya.

Ketahanan Mental dan Disiplin Diri: S3 mengajari kita bagaimana cara bertahan di tengah ketidakpastian. Ketika hipotesis gagal, ketika data lapangan tidak sesuai harapan, atau ketika teori yang kita bangun ternyata memiliki celah besar, kita dilatih untuk tidak runtuh, melainkan duduk kembali, merapikan catatan, dan mencari jalan keluar baru.

Kemampuan Berpikir Kritis dan Struktur Analisis: Kita dibentuk untuk tidak mudah percaya pada asumsi umum tanpa bukti yang sahih. Di dunia kerja (terlepas dari apakah karier kita meningkat atau tidak) kemampuan untuk memetakan masalah yang rumit menjadi bagian-bagian kecil yang terstruktur adalah keahlian tingkat tinggi yang sangat langka.

Kerendahan Hati Intelektual: Momen paling berharga dari perjalanan doktoral justru terjadi ketika kita semakin banyak membaca dan akhirnya menyadari betapa sedikitnya hal yang benar-benar kita ketahui. Gelar Doktor bukanlah stempel bahwa kita tahu segalanya, melainkan bukti bahwa kita telah belajar bagaimana cara belajar secara benar.

Pengalaman-pengalaman tersembunyi inilah yang menjadi "baja" dalam menempa karakter. Kenaikan pangkat di kantor mungkin membutuhkan momentum, ketersediaan posisi, serta dinamika politik organisasi yang sering kali di luar kendali kita. Namun, kedalaman berpikir dan ketahanan karakter adalah aset internal yang telah menyatu dalam diri dan tidak akan pernah bisa dicabut oleh siapa pun.

Jadi, jika hari ini benefit yang paling terasa baru sebatas sapaan hangat nan menggelitik dari kawan-kawan di meja sebelah, tidak ada alasan untuk berkecil hati. Sapaan itu adalah pengingat harian bahwa Anda adalah seorang finisher yaitu seseorang yang sanggup menghadapi tantangan berat hingga tuntas.

Penutup

Bagi siapa pun Anda yang sedang membaca esai ini:

Mungkin Anda adalah mahasiswa S3 yang saat ini sedang berada di titik terendah, berdarah-darah menyelesaikan revisi bab metodologi yang tak kunjung disetujui oleh pembimbing.

Mungkin Anda adalah seorang fresh graduate S3 yang baru saja kembali ke instansi kerja dan merasakan kecanggungan serta kebingungan serupa karena gelar tinggi Anda terasa "biasa saja" di mata sistem kantor.

Atau mungkin Anda adalah seorang profesional maupun ASN non-dosen yang sedang mempertanyakan: "Apakah layak saya mengorbankan waktu, biaya, dan energi demi mengejar pendidikan hingga ke jenjang tertinggi?"

Ketahuilah satu hal dengan pasti: Tidak ada ilmu, tidak ada keringat, dan tidak ada perjuangan sungguh-sungguh yang menguap begitu saja tanpa bekas.

Dunia kerja, birokrasi, maupun ekosistem industri memang memiliki penanggalan dan jalannya sendiri yang sering kali lambat, birokratis, serta tidak seirama dengan ambisi atau kualifikasi akademis kita. Namun, kapasitas intelektual, ketangguhan mental, serta kedalaman perspektif yang telah dibentuk selama proses doktoral adalah benih berkualitas unggul yang sudah tertanam di dalam diri Anda.

Ingatlah tiga prinsip penting ini dalam melangkah ke depan:

1. Hargai Setiap Bentuk Apresiasi Kecil

Jangan menunggu panggung besar atau penghargaan megah untuk merasa bahwa perjuangan Anda diakui. Jika satu-satunya bentuk apresiasi yang Anda terima hari ini adalah sapaan "Halo, Pak Doktor!" atau "Selamat pagi, Bu Doktor!" sambil tersenyum dari rekan kerja di depan koridor kantor, terimalah sapaan itu dengan rasa syukur, kerendahan hati, dan sedikit tawa. Itu adalah bentuk pengakuan jujur dan tulus dari lingkungan sekitar atas dedikasi luar biasa yang telah Anda buktikan.

2. Karier Adalah Marathon, Bukan Lomba Lari 100 Meter

Dampak dari pendidikan tinggi, terutama jenjang doktoral, jarang sekali bersifat instan dan linier seperti menekan saklar lampu. Dampaknya bersifat akumulatif dan eksponensial. Benih pengetahuan, cara berpikir strategis, dan ketenangan Anda dalam memecahkan masalah mungkin belum terlihat menonjol pada tugas-tugas rutin hari ini. Namun, ia sedang memperkuat akarnya jauh di dalam tanah. Saat krisis besar atau momentum strategis terjadi di organisasi Anda kelak, di situlah kapasitas Doktor yang sesungguhnya akan bersinar dan menjadi pembeda yang nyata.

3. Tetap Membumi, Tetap Berdampak

Gelar akademis tertinggi bukanlah sebuah puncak untuk kita berdiri menyendiri di atas awan sambil memandang rendah orang lain. Gelar Doktor adalah sebuah pijakan kokoh agar kita bisa merunduk lebih dalam, mendengarkan lebih jeli, dan memberikan kontribusi nyata yang lebih matang serta bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan tempat kita bekerja. Kehormatan sejati dari sebuah gelar tidak terletak pada bagaimana orang lain menyapa kita, melainkan pada seberapa besar manfaat yang bisa lahir dari pemikiran kita untuk orang banyak.

Catatan Akhir

Jadi, jika esok pagi Anda melangkah masuk ke pintu kantor, merapikan kemeja, lalu tiba-tiba ada kawan sejawat yang menyapa dengan nada bergurau dari jauh:

“Siap, Pak Doktor! Mohon petunjuknya untuk rapat hari ini!”

Tidak perlu canggung lagi. Tidak perlu merasa sungkan atau berusaha mengoreksi sapaan itu.

Tersenyumlah dengan hangat, anggukkan kepala Anda dengan elegan, dan nikmati momen kecil itu. Anda telah membayar harga yang sangat mahal (berupa malam-malam tanpa tidur nyenyak, pengorbanan waktu, dan perjuangan pikiran) untuk berhak mendapatkan sapaan tersebut.

Pakailah gelar itu dengan kerendahan hati yang tulus. Jadikan sapaan harian itu sebagai pengingat manis untuk terus berkarya dengan standar terbaik, dan biarkan karya-karya nyata Anda di masa depan yang berbicara jauh lebih keras daripada sekadar gelar yang menempel di depan nama Anda.

Selamat bertugas, Doktor!

Dunia sedang menunggu karya-karya terbaik Anda berikutnya.