Krisis Harga Smartphone 2026: Saatnya Komunitas Oprek Turun Gunung?
Tulisan dari Ari Fathur Ramdani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkan di tahun ini anda berpikir untuk mengganti Handphone karena sudah lambat, dan usang karena tidak lagi mendapatkan update dari produsen? Namun, begitu anda melihat harga Handphone yang sudah anda pinang dua bulan sebelumnya melonjak tinggi, anda pun mengurungkan diri dan terpaksa tuk bertahan dengan apa yang anda miliki saat ini.
Tren harga Handphone memang sudah sangat tidak masuk akal, dan Indonesia menjadi salah satu korban yang terdampak cukup signifikan. Berdasarkan laporan riset pasar IDC, dan Counterpoint Research, harga rerata smartphone di Indonesia, mengalami lonjakan mencapai 45% akhir-akhir ini. Adapun Counterpoint Research dalam riset yang lain, memproyeksikan bahwasanya kenaikan harga smartphone akan meningkat 20% seiring waktu hingga akhir tahun 2026, dan model smartphone terbaru mengalami peningkatan 30% dari tahun ke tahun. Sehingga walaupun kita memutuskan untuk menabung, harapan untuk membeli Handphone yang kita pinang akan semakin merosot karena harga dan spesifikasi yang didapat tidak lagi sepadan.
Penurunan Penjualan dan Siklus Pemakaian Memanjang
Dilansir dari media internasional The Street "Nvidia’s key chip supplier has a surprising warning for customers” terdapat fenomena di mana banyak konsumen mulai menahan diri untuk mengganti HP mereka, alhasil angka pengiriman HP global mengalami penurunan sebesar 20% secara year-over-year pada kuartal ketiga.
Tren pabrikan pada tahun ini mulai sedikit bergeser. Pabrikan-pabrikan besar kini lebih fokus untuk memoles HP kelas flagship mereka, sementara opsi upgrade untuk pengguna midrange ke bawah seringkali terasa overpriced dan terkesan downgrade dibandingkan seri sebelumnya.
Akankah Custom Rom dan Rooting kembali relevan?
Pada awal HP Android mulai dipakai oleh seluruh lapisan masyarakat, keterbatasan hardware seringkali menjadi hal yang menyebalkan bagi para pengguna. Oleh karena itu, banyak dari pengguna mulai melakukan modifikasi ekstrim terhadap perangkat mereka, serta membagikan projek mereka secara open source (terbuka). Hal tersebut terus terulang, dari satu brand HP ke brand lainnya sehingga praktik modifikasi perangkat (oprek) semakin lumrah, Custom Rom semakin menjamur; tidak hanya Lineage OS, Cyanogen, ataupun CrDroid, tetapi Axion, Infinity, Rising OS, serta Rom lainnya yang tidak dapat saya sebutkan. Para pengembang lepas mengembangkan Operating System mereka sendiri dengan sepenuh hati hingga mampu menyamai OS ciptaan brand-brand besar. Berkatnya setiap brand Handphone memiliki komunitas tidak resmi mereka sendiri, dengan tujuan untuk mengakomodasi para pengguna awam yang berniat membebaskan diri dari setiap batasan produsen.
Oleh karena itu, mengingat bahwa kini harga Handphone semakin melambung tinggi dan mencekik dompet konsumen. Maka satu-satunya cara paling rasional bagi sebagian pengguna yang ingin merasakan Android atau OS terbaru tanpa perlu membeli HP baru adalah dengan memaksimalkan potensi hardware HP lama mereka.
Custom ROM dan Rooting Sebagai Solusi Logis
Napas Baru Lewat OS Independen:
Produsen Handphone rata-rata memberikan dukungan update software 2-3 tahun. Maka dari itu dengan memanfaatkan fitur bootloader dan meng-instal Custom ROM memberi nyawa baru agar HP bisa bertahan lebih lama dengan fitur terkini dan security patch terbaru.
Optimalisasi RAM dan Performa:
Adapun dengan melakukan modifikasi software menggunakan metode Rooting memberikan anda kebebasan untuk menghapus bloatware (aplikasi bawaan produsen) yang memakan RAM dan Storage, dan melakukan tuning terhadap kernel sehingga perangkat dapat beroperasi lebih efisien atau lebih kencang tergantung konfigurasi yang diterapkan.
Tantangan berat di era modern
Tantangan berat di era modern
Tantangan keamanan tingkat tinggi:
Meski modifikasi Custom ROM dan Rooting menawarkan nafas segar bagi sebagian pengguna. Terdapat kendala besar bagi pengguna oprekan masa kini, yaitu Play Integrity buatan Google yang terus diperketat. Aplikasi perbankan dan e-wallet kini sangat agresif memblokir perangkat yang terdeteksi memiliki akses Root atau berstatus Unlock Bootloader (UBL).
Restriksi Vendor:
Selain faktor di pihak ketiga, kendala lainnya muncul dari kebijakan Vendor sebagai produsen HP. Handphone seperti Xiaomi misalnya, membatasi kuota pengguna HP mereka untuk melakukan UBL, sehingga menjegal pengguna untuk keluar dari sistem operasi bawaan perangkat mereka.
Kesimpulan
Jadi, akankah praktik “oprek” mungkin untuk kembali mainstream? Sayangnya tidak, Meskipun benar adanya bahwa Custom ROM dan Rooting dapat memaksimalkan potensi hardware, namun kebutuhan akan akses layanan finansial dan keamanan yang terjamin menjadi pertimbangan berat bagi sebagian pengguna. Sementara itu bagi sebagian besar pengguna lain: bukan lagi hal yang dapat dikompromikan jika menyangkut keduanya.
Namun, bagi komunitas tech-savvy atau mereka yang terdesak kebutuhan ekonomi, metode “oprek” ini akan tetap hidup sebagai solusi perlawanan terhadap inflasi harga perangkat keras yang makin tidak masuk akal.

