Bagaimana Pemilik Gangguan Bipolar Menjalani Aktivitas Hariannya?

Manusia memiliki pelbagai emosi dan perasaan, seperti rasa senang, sedih, gembira, dan murung. Emosi dan perasaan akan datang silih berganti tergantung permasalahan yang akan dihadapi.
Ada pula orang yang kerap mengalami perubahan suasana hati dan energi yang drastis dari posisi tertinggi menjadi posisi terendah. Proses ini sering disebut bipolar.
Gangguan Bipolar adalah salah satu isu kesehatan mental yang perlu diperhatikan oleh masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan data World Health Organization(WHO) 2016, terdapat sekitar 60 juta orang yang terkena bipolar. Penyakit mental ini berada dalam urutan keenam dalam penyakit utama yang menyebabkan disabilitas di seluruh dunia.
Menurut Aktivis Komunitas Bipolar Care Indonesia, David Widodo Rehatta, bipolar bisa disebabkan oleh beberapa hal. "Kebanyakan karena stres, ada juga karena genetik atau bawaan, atau pengaruh sakit saraf pada otak," kata David
David menjelaskan, bipolar masuk ke dalam kategori gangguan jiwa paling umum, setelah depresi dan stres. Bagaimana cara mengetahui apakah kita memiliki gangguan bipolar atau tidak?
"(Caranya) harus datang ke psikiater. Tapi alangkah baiknya, jika pertama ke psikolog dulu untuk melakukan tes," jawab David.
Mengenali indikasi gangguan mental, memang berbeda dengan penyakit fisik. Misalnya untuk penyakit fisik, seseorang berpeluang besar terkena flu jika ia terpapar virus dari orang yang terinfeksi (lewat bersin atau batuk), atau menyentuh sesuatu yang telah dipegang penderita flu. Lain halnya dengan gangguan mental, seperti bipolar.
Orang yang menderita gangguan bipolar dapat merasakan mood swing, seperti rasa bahagia sangat tinggi (maniac), kesedihan yang sangat mendalam (depresi), atau rasa yang tidak terlalu ekstrem perubahan suasana hatinya (hypomanic).
Afina Syifa Biladina, Seorang mahasiswa Prodi Kesesejahteraan Sosial, Universitas Padjadjaran, berbagi kisahnya sebagai pemilik gangguan bipolar kepada Temali. Ia mengalami gangguan bipolar sejak umur 18 tahun berdasarkan hasil diagnosa dari orang profesional
“Awalnya aku mendatangi ke psikolog, baru dari psikolog direkomendasikan untuk ke psikiater. Akhirnya mereka berunding selama dua minggu dan mendiagnosa bahwa aku ada bipolar disorder,” kata Afina.
Afina menceritakan bahwa ia merasakan takut setelah mengetahui dirinya seorang gangguan bipolar. Ketakutan itu disebabkan adanya stigma masyarakat yang belum tentu akan menerima dirinya dengan kondisinya saat ini. Tak hanya itu, ia takut tidak akan diterima oleh teman-teman bahkan oleh keluarganya sendiri.
“Aku takut banget karena stigma buruk yang ada di masyarakat. Gimana yah? Apakah teman-teman aku akan tetap menerima? Apalagi keluarga apakah mereka akan menerima atau nggak. Kebetulan keluarga aku agak religius jadi aku takut banget dibilang kurang iman, kurang zikir, kerasukan dan lain-lain,” kata Afina.
Di satu sisi, Afina merasa senang dan bahagia setelah tahu dirinya memiliki bipolar disorder. Hal itu akan membantunya untuk meng-thread dirinya sendiri.
Apa yang dirasakan setiap hari oleh pemilik gangguan bipolar?
"Kalo lagi di fase bahagia (maniac) karna aku banyak omong aku meng-handle dengan berdiam dulu dan olah pernapasan. Nah, kalau di fase kesedihan (depresi) aku mengalihkan dengan melakukan hal yang aku sukai," ucap Afina.
Ketika Afina menjalani fase maniac. Fase ini membuat dirinya produktif dalam menjalani kehidupannya. Saat bertemu dengan teman-teman SMA, Afina merasa sangat bahagia, tertawa bersama teman-temannya.
Berbeda halnya ketika menjalani fase kesedihan (depresi), Afina merasa sangat sedih. Ia merasa tidak ingin bertemu orang lain dan sering mengisolasi dirinya sendiri. Hal itu juga sedikit banyaknya mempengaruhi akademik dirinya.
"Kalo lagi di fase depresi aku berusaha untuk memasak. Aku juga suka kucing dan anjing, makanya di kosan aku ada kucing untuk mengalihkan fase yang sedang kambuh," lanjutnya.
Afina mengatakan bahwa fase-fase itu akan datang terus secara berganti walaupun tidak ada pemicunya. Akan tetapi, Afina mengatakan memang ada hal-hal jadi pemicu adanya perubahan fase yang tidak bisa dikontrol.
Pertama, Afina tidak boleh merasa kecapaian. Menurutnya, bipolar itu bermusuhan dengan rasa capek. Kedua, sensitif hati yang artinya ketika dirinya dimarah atau ditegur, Afina bisa langsung berada di fase kesedihan (depresi).
Menurut Afina, penderita bipolar yang belum tau potensialnya apa biasanya akan beralih ke self harm. Oleh karena itu, penting bagi Afina untuk mengetahui potensi dan kemampuan yang bisa ia lakukan.
Hingga saat ini, Afina mengalihkan hal-hal yang baik ketika merasa di fase kesedihan (depresi)
“Dulu aku larinya ke self harm. Aku pernah nonjok diri sendiri, mukul tembok sampai menyayat tangan aku. Tapi, setelah aku tahu passion gue apa, hal yang gue sukai apa. Akhirnya bisa mengubah pelarian. Aku biasanya lari ke masak. Aku harus masak apa yang aku bisa," ungkap Afina.
Afina juga suka live di akun Instagram-nya untuk mengatasi fase kesedihan (depresi). Menurutnya, Ia sangat merasa senang dengan menjawab beberapa pertanyaan beberapa orang seputar bipolar disorder.
Support system sangat penting bagi Afina. Support system berasal dari orang tua, saudara, dan teman-temannya. Ia sangat bersyukur mendapatkan support system yang sangat baik.
"Selain dari kesadaran dari diri sendiri, support system itu sangat penting yang membantu secara tidak langsung untuk bertahan hidup."
"Cara lainnya adalah menerima, yang pasti proses penerimaan itu panjang banget. Diri kita sendiri itu butuh knowladge sehingga tau diri aku dan sayang sama diri aku sendiri. Jadi, kalau bagi aku bipolar itu bukan sebuah cobaan tapi adalah kelebihan," tutup Afina.***
[Penulis: Risky Aprilia]
