Konten Media Partner

Berapa Lama Kelas Pranikah yang Efektif?

Temaliverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto: Unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Unsplash.com

Wacana Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy, mengenai kewajiban kelas pranikah bagi calon pasangan suami istri menemui banyak pro dan kontra. Rencananya program ini akan mulai diberlakukan pada tahun 2020 nanti.

Sementara itu, Muhadjir menyampaikan tujuan dari diadakannya kelas pranikah ini adalah untuk menekan angka perceraian, pernikahan dini, hingga menurunkan penyakit stunting pada anak. Dikutip dari kumparan, Alissa Wahid, tim pakar program kelas pranikah yang tengah disusun oleh pemerintah, menyampaikan hal senada dengan Muhadjir.

Ia mengatakan bahwa pemerintah memiliki tujuan yang baik dalam menyusun program kelas prankah ini. Alissa sendiri terlibat dalam bidang psikolog dan ahli hukum Islam tentang keluarga.

Dalam wawancaranya bersama kumparan, ada hal yang Temali garis bawahi yaitu mengenai proses berlangsungnya kelas pranikah. Alissa mengatakan, kelas ini akan belangsung selama dua hari saja. Sedangkan paparan materi yang disampaikan cukup banyak.

"Pertama ke pemahaman tentang hubungan perwakilan dengan keluarga, bagaimana mengelolanya. Kedua tentang psikologi keluarga, ketiga bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga termasuk untuk program perkembangan. Terus yang keempat itu kesehatan keluarga dan mempersiapkan diri menjadi orang tua. Jadi lengkap semuanya," ujar Alissa.

Apakah dalam dua hari itu pasangan suami istri akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang cukup mengenai poin-poin yang ditekankan?

Diah Mahmudah, seorang pegiat parenting, marital counselor dan juga ahli psikologi mengatakan, jangan sampai kelas pranikah ini hanya sebatas formalitas saja. Harus ada pencapaian esensi yang menjadi tujuan dari diadakannya kelas pranikah.

"Maka dari itu saya lebih setuju 3 bulan bahkan mungkin 6 bulan, dalam arti kalau namanya pendidikan itu harus ada tiga dasar pokok yang didapatkan yaitu dari kogntif, afektif dan konatif," ujar Diah.

Dalam kognitif pasangan akan mendapatkan pengetahuan dengan menambah wawasan dan ilmu megenai dunia pernikahan. Kedua dari sisi afektif, pasangan mengetahui bagaimana membangun gairah terkait dengan motivasi kebersamaan, komitmen dan persiapan mental selama mengarungi bahtera rumah tangga. Lalu, yang terakhir konatif, yaitu ranah di mana pasangan akan mendapatkan skill yang menunjang dalam pernikahan.

"Dengan 3 pokok dasar tersebut, akan melengkapi satu sama lain untuk para calon suami istri atau ayah bunda. Mereka akan memiliki bekal yang cukup hingga akhirnya dapat dipraktekan dalam kehidupan rumah tangga," jelasnya.

Foto: Unsplash.com

Diah menambahkan, meski pada akhirnya jungkir balik juga karena tentu perjalanan suami istri tidak akan lurus-lurus saja. Tapi setidaknya, suami istri sudah punya ilmu dan persiapan mental.

"Istilahnya sedia payung sebelum hujan dari pada kita nyemplung duluan tanpa persiapan apa-apa?" katanya.

Lalu, kita tahu bahwa perceraian di Indonesia tinggi sekali bahkan Indonesia dilaporkan sebagai negara paling tinggi perceraiannya di Asia Pasifik. Ada sekitar 40 pasangan suami istri perjam bercerai di Indonesia. Ditunjang dari praktek dan data di lapangan, perceraian terjadi karena kurangnya ilmu dan kesiapan mental.

Dengan adanya data tersebut menjadi PR besar bagi pemerintah dalam kelas pranikah ini. Harus jadi agenda untuk pembekalan yang bisa mencegah perceraian dini dalam rumah tangga.

"Kalau nikah-nikah aja tanpa disertai kesiapan dan ilmu yang mencukupi, bisa aja syok dan kaget saat ada masalah," tambah Diah lagi.

Beda dengan orang yang telah dibekali, setidaknya tidak akan parah dan sudah mempunyai bekal masing-masing untuk saling mengerti. Makanya, dalam program ini pemerintah harus bisa bersinergi dengan komunitas dan pihak-pihak yang concern dalam bidang ini untuk menyukseskan program kelas pranikah****