News
·
21 Oktober 2020 15:01

Perjuangan Mahasiswa Baru Di tengah Wabah Corona

Konten ini diproduksi oleh Temali
Perjuangan Mahasiswa Baru Di tengah Wabah Corona (80814)
Oleh: Dhita Dewitri
Tahun 2020 rasanya menjadi tahun paling sulit yang pernah dialami. Bagaimana tidak, pada bulan Januari saja Indonesia sudah dihantam oleh banjir yang terjadi di Jakarta tepat pada 1 Januari 2020. Ditambah lagi, dengan permasalahan dunia yang menghantui. Baru saja hadapi dua bulan di awal tahun 2020, COVID-19 beraksi dengan menyebar ke seluruh negara dalam waktu yang sangat singkat.
ADVERTISEMENT
Oleh sebab itu, semua orang sebisa mungkin melakukan aktivitasnya di dalam rumah dan sebisa mungkin meminimalisir aktivitas diluar rumah. Tak terkecuali mahasiswa baru.
Mahasiswa baru sedikit berbeda dengan mahasiswa yang sedang menginjak tahun kedua dan seterusnya pada tahun ini. Mereka belum pernah mengalami pembelajaran secara langsung. Selain itu, tak sedikit dari mereka yang merasa kurang memahami pelajaran, hingga jenuh ketika menjalani pembelajaran jarak jauh atau biasa disebut (PJJ).
Mahasiswa baru juga tidak merasakan masa-masa orientasi dengan seniornya secara langsung. Tidak ada lagi basa-basi busuk yang bertujuan untuk mengakrabkan diri dengan teman sebaya. Juga, tidak ada lagi candaan dan sapaan hangat ketika memasuki kelas.
Dengan permasalahan kuliah daring ini, banyak mahasiswa baru merasa terbebani. Salah satunya adalah Rahmat Hermawan, mahasiswa baru jurusan ilmu gizi Universitas Brawijaya.
ADVERTISEMENT
Rahmat yang sejak awal ingin terjun ke dunia gizi ini mengalami culture shock ketika memasuki dunia perkuliahan jarak jauh. Ia kaget dengan penggunaan aplikasi pendukung perkuliahan jarak jauh seperti google meet, zoom dan aplikasi lainnya. Rahmat pun mengaku sedikit kaget melihat teman-teman sebayanya yang mempunyai pemikiran kritis dibanding dirinya.
“Belum kenal banyak temen kelas sendiri, ya mungkin karena komunikasi yang saat ini digunain cuma chatting di Whatsapp,” tutur Rahmat.
Ia juga mengaku sering menghadapi stres, seperti tidak ingin mengerjakan tugas-tugas yang belum menemukan jalan keluarnya. Untuk meredakan stressnya, Rahmat mempunyai trik tersendiri yaitu dengan istirahat sebentar dan meminum air putih. Cara itu terbukti ampuh atasi stressnya.
Meski awalnya sedikit kesulitan, Rahmat kini mulai berbaur dengan teman sekelasnya. Ia juga menceritakan trik-trik khusus agar segra berbaur dengan teman sekelasnya.
ADVERTISEMENT
Pertama ia memperkenalkan diri kepada teman-teman sekelasnya. Kemudian, ia sebisa mungkin membantu teman-temannya yang sedikit kesulitan, terakhir ia juga memberikan respon cepat digrup.

Apa kata psikolog?

Ketika ditanya mengenai apakah ada dampak Covid-19 bagi psikologis seseorang, Nisa Hermawati Ketua ULP dan dosen Fakultas Psikologi UIN SGD Bandung membenarkannya.
Dari data yang masuk di Unit Layanan Psikologi UIN Bandung, banyak mahasiswa yang berkonsultasi karena cemas, khawatir dan jenuh akibat COVID-19 ini. “Dengan adanya wabah ini, semua kan ada di rumah. Terbayang dong bagaimana seseorang yang biasa beraktivitas diluar kini harus tinggal di rumah.”
Nisa menambahkan khususnya mahasiswa, pada usia remaja menuju dewasa, biasanya mahasiswa lebih menyukai berkumpul dengan teman sebaya sekedar bercengkrama, atau mendiskusikan sesuatu.
ADVERTISEMENT
“Mahasiswa yang butuh teman sebaya kini harus ada di tempat tinggalnya. Berkomunikasi hanya via daring. Belum lagi kuliah daring banyak kekurangan, mahaiswa kadang susah memahami. Jadi kecemasan itu muncul,” ucap Nisa ketika di wawancara.
Untuk meredakan stress pada masa kuliah daring, Nisa memberi saran kepada seluruh mahasiswa untuk setidaknya relaksasi disela-sela pembelajaran daring. Relaksasi memberi dampak positif baik bagi kesehatan tubuh dan kesehatan mental. Jika melihat layar terlalu lama, itu juga memberi dampak buruk baik bagi psikologis maupun kesehatan mata seseorang.
Lebih lanjut, Nisa memberi saran orang tua yang buah hatinya sedang melakukan pembelajaran jarak jauh untuk selalu memberikan dukungan dan semangat, Baik secara verbal, maupun non verbal.
Sabar, semua ini akan segera berakhir. Semoga..
ADVERTISEMENT