Psikolog: Pola Asuh dan Keluarga yang Tak Komunikatif Picu Perilaku Bully

Kasus bullying atau perundungan di sekolah kembali hangat diperbincangkan akhir-akhir ini. Pada awal Februari lalu, netizen digegerkan dengan kasus perundungan yang menimpa MS siswa kelas 7 SMPN 16 Kota Malang. Akibat perundungan tersebut dua ruas jari MS harus diamputasi karena jaringan-jaringan otot pada jarinya sudah mati.
Masih di bulan yang sama, beberapa hari lalu, kasus perundungan juga kembali terjadi pada siswa perempuan di salah satu SMP di Purworejo, Jawa Tengah. Kasus ini viral setelah beredar video di Twitter yang menampilkan aksi tidak pantas tiga siswa laki-laki yang menendang hingga memukul seorang siswa perempuan di kelasnya.
Tanggapan netizen pun bermunculan, mereka mengecam para pelaku dan menuntut agar segera ditindak tegas. Hingga beberapa jam setelahnya, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo memberikan tanggapan langsung atas kasus ini.
Ahli psikologi, Gianti Gunawan, mengatakan perundungan memang seringkali terjadi pada remaja. Menurutnya, remaja merupakan satu masa pencarian jati diri, sehingga mereka berkompetisi. Menunjukkan bahwa dirinya eksis dan memiliki konformitas yang tinggi kepada kelompok.
Sayangnya, banyak dari mereka belum mampu mengendalikan ekspresi emosionalnya, sehingga masih labil dan belum terkendali. Mereka belum mampu memisahkan antara sistem nilai-nilai atau norma dari para pendukungnya yang mungkin dapat membuat mereka melakukan berbagai pelanggaran.
Oleh karena itu, perundungan cenderung dilakukan pada usia remaja untuk dapat tampil eksis, dianggap keren oleh teman-teman, kelompok, gengnya, tanpa mempertimbangkan tindakannya melanggar norma yang universal,
Gianti.
Benarkah pelaku perundungan adalah mereka yang mengalami hal yang sama sebelumnya?
Ada banyak faktor yang menyebabkan seorang remaja melakukan perundungan. Salah satunya adalah remaja mengalami masa pertumbuhan yang tidak mudah. Perubahan dari anak-anak menuju dewasa, kadang menjadi kondisi yang tidak nyaman bagi remaja dengan begitu banyaknya perubahan fisik yang mereka alami.
Pola asuh orang tua atau kondisi keluarga yang tidak komunikatif juga dapat menjadi pemicu tindakan perundungan. Anak akan mencari jalan di luar rumah untuk mendapatkan kenyamanan.
Gianti menambahkan, pada umumnya, mereka yang melakukan perundungan juga mungkin pernah mengalami tekanan yang sama di lingkungan sekitar seperti keluarga.
Adanya disfungsi keluarga, seperti kurangnya kasih sayang, sering dibanding-bandingkan atau mendapatkan kekerasan fisik akan membuat anak cenderung melampiaskan emosinya pada orang lain.
"Hal itulah yang mendorong anak melakukan perundungan, apalagi kalau remaja hidup dalam lingkungan yang banyak memberikan contoh negatif, seperti ketika ada seseorang yang di-bully dibiarkan, ditonton, atau bahkan disoraki, dapat membuat perilaku ini menguat dan berulang," tegasnya.
Oleh karena itu, peran orang tua dan guru sangat penting dalam perkembangan remaja. Orang tua diharapkan bisa memperbaiki pola asuh dengan meningkatkan komunikasi supaya anak mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Sekolah beserta guru, tidak hanya melakukan kegiatan yang mementingkan intelektualitas, tapi juga membimbing untuk pengembangan karakter anak.
Hal yang juga menjadi penting adalah anak diberikan kesempatan untuk memilih, untuk menumbuhkan kedewasaan dan rasa tanggung jawab, sehingga norma-norma mengenai benar dan salah dapat terinternalisasi pada siswa. Mereka juga perlu diberikan wadah kompetisi yang positif untuk menyalurkan kebutuhan, bakat dan energi remaja dalam wadah yang bermanfaat.
Memutus Rantai Perundungan
Perundungan bisa berdampak negatif pada kesehatan mental, seperti depresi, gangguan kecemasan, perasaan rendah diri, bahkan keinginan untuk bunuh diri. Lantas, untuk memutus rantai perundungan, remaja atau korban perundungan perlu mendapatkan pendampingan dari orang-orang terdekat untuk mengembalikan rasa kepercayaan dirinya. Hal ini bisa dilakukan dengan konseling dengan ahli.
"Salah satu terapi yang dapat dilakukan adalah Cognitive Behavior Therapy (CBT). Terapi ini tujuannya, mengubah pola pikir menjadi lebih positif, sehingga tidak terjadi lagi perilaku perundungan di masa yang akan datang," tambah Gianti
Gianti juga berpesan agar kita semua aware. Peka terhadap kondisi yang mengarah pada tindakan perundungan atau pada ciri-ciri korban yang mengalami perundungan, sehingga bisa segera mengambil tindakan pencegahan sebelum membahayakan. Seperti dengan melaporkannya kepada orang tua siswa atau pihak sekolah.
Penting baik orang tua dan pihak sekolah, menanamkan konsep diri yang matang, kepercayaan diri yang kuat, keterampilan sosial yang baik kepada anak.
"Banyak mendengarkan pendapat anak dan menumbuhkan komunikasi yang berkualitas, karena perlu disadari masalah perundungan ini tidak bisa dianggap sepele dampaknya, baik bagi pelaku, korban, maupun lingkungan sekitarnya," tutup Gianti***
