kumparanTALK: Mengenal Toxic Relationship

teman kumparan

teman kumparanverified-green

Ayo gabung ke komunitas teman kumparan!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Denrich Suryadi, M.Psi Foto: instagram/angiedenrich
zoom-in-whitePerbesar
Denrich Suryadi, M.Psi Foto: instagram/angiedenrich

Seperti hidup yang terus berputar, hubungan percintaan juga seringkali mengalami perubahan. Terkadang mereka bisa sangat membahagiakan, tetapi suatu saat bisa sangat menyesakkan. Dengan dalih sudah terlanjur cinta, kamu tak sadar merelakan segala sesuatunya tanpa berpikir secara logis. Bisa saja selama ini, kamu menjalani hubungan toxic tanpa menyadarinya.

Lalu, bagaimana caranya membedakan hubungan yang sehat (healthy relationship) dengan hubungan yang toxic? Pada kesempatan kali ini, teman kumparan berkesempatan untuk berdiskusi membahas Healthy vs Toxic Relationship bersama dengan salah satu psikolog klinis dan relationship expert, Denrich Suryadi, M.Psi. Penasaran dengan perbedaan hubungan yang sehat dengan hubungan toxic? Simak obrolannya di sini.

Poster kumparanTALK WOMAN. Foto: dok kumparan

Tanya: Apa tolok ukur hubungan dianggap toxic?

Jawab: Hubungan dianggap toxic apabila ada masalah yang tidak pernah selesai dan tidak mungkin selesai. Ini berarti masalah tersebut tidak bisa dicari solusinya. Selain itu, hubungan toxic juga ditandai dengan tidak menghasilkan kebahagiaan bagi keduanya.

Tanya: Apa yang harus dilakukan bila kita sebagai teman, jika mengetahui teman kita berada dalam toxic relationship?

Jawab: Tugas kita sebagai teman adalah mengingatkan dan menyadarkan. Besar kemungkinan jika orang yang sedang berada dalam relasi itu akan tidak sadar karena cenderung terbawa perasaan sayang dan berpikir bahwa situasi akan dapat berubah.

Tanya: Bagaimana cara menanggulangi terjadinya toxic relationship?

Jawab: Ada beberapa cara seperti yang disebutkan berikut ini:

  1. Mulailah hubungan secara sehat, misalnya bukan karena tidak enak hati, balas budi, pelampiasan, alasan orangtua, syarat tertentu, atau masih ada relasi di masa lalu yang belum terselesaikan, dll.

  1. Cari tahu latar belakang pasangan terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menjalin relasi.

  1. Menjalani relasi dengan perasaan tulus, tetapi tidak sepenuhnya hanya mengandalkan emosi. Logika juga diperlukan agar ketika menghadapi masalah, kita tidak terlena dan tidak sadar bahwa hubungan ini justru semakin membuat masing-masing pasangan menderita, bukan bahagia.

  1. Telusuri juga apakah diri sendiri masih punya masalah pribadi yang belum terselesaikan, misalnya dulu pernah menjadi budak cinta dalam relasi sebelumnya, patah hati belum tersembuhkan, sakit hati terhadap lawan jenis, atau tidak cinta namun tidak ingin sendiri.

Tanya: Saya dan pasangan hanya berbeda 1 tahun dan telah berpacaran sekitar 1 tahun. Pertanyaannya, bagaimana kalau pacar saya sering menggunakan cara yang memaksa demi perkembangan hidup saya? Ketika tidak dituruti dia memaki dan tidak mau mengalah. Menurutnya, amarah yang ia sampaikan adalah gertakan agar kita tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Namun ketika saya meminta putus, dia mengancam melakukan sesuatu yang di luar nalar.

Jawab: hmmmm ini tricky ya. Di satu sisi membantu kamu 'naik kelas' sebagai individu, tetapi juga menuntut dengan sangat keras. Yang perlu diperhatikan adalah, jika ada unsur pemaksaan dan amarah artinya ini kualitas relasi yang negatif. Yang positif seperti apa? Ya relasi dimana pasangan mengembangkan diri atas dasar sukarela dan paham bahwa sangat baik untuk bersama-sama 'naik kelas' sebagai individu. Bukan bentuknya dengan 'menyeret' pasangan, apalagi harus sesuai dengan standar salah satu pasangan. Ini sudah ke arah verbal dan psychological abuse. Ditambah ketika kita ingin putus, ia mengancam. Sebenarnya ia sendiri 'insecure', ia takut kehilangan kamu. Relasinya tidak sehat sih. Sekarang ukurannya, apakah kamu masih nyaman dengannya dengan cara seperti itu? meskipun cinta.

Jenis-jenis kekerasan dalam hubungan. Foto: Denrich Suryadi/kumparan

Tanya: saat ini saya pribadi ingin putus, tetapi saya takut akan ancaman yang sebelumnya disampaikan pasangan saya. Selain itu, saya takut menyesal karena mutusin duluan. Saya juga kadang merasa bahwa walaupun dia seperti itu, dia sangat baik kepada saya. Terkadang saya merasa bahwa berhasil mendapatkan goals saya, tetapi saya merasa berubah menjadi orang lain. Terkadang dia juga cemburu berlebihan, bahkan dengan orang yang tidak dikenal dan melarang saya untuk ini itu. Jujur batin saya tersiksa mbak, tapi terkadang saya luluh akan kebaikannya.

Jawab: Abuse-nya banyak ya... kalau masih mau dicoba, kasih waktu buat dia. Sadarkan dia dan ajak dia konseling. Biasanya tipikal orang seperti ini punya masalah trust issue, masalah relasi dengan orang tua ataupun keluarga. Kamu sudah level 'terjebak' sebenarnya. Terkadang lebih banyak kasihannya karena merasa dia sudah banyak berkorban untukmu. Sekali lagi saya ingatkan: jangan terlalu berharap dia akan berubah ya. Menikah itu bukan berarti akan mengubah pasangan. Justru setelah menikah kemungkinan besar akan lebih parah karena sudah merasa 'memilikimu'. Pakai logika ya, dengarkan isi hati dan minta support dr lingkungan terdekatmu.

Tanya: Kenapa banyak orang yang bilang secara psikologis, orang yang terjebak dalam toxic relationship selalu berpikir bahwa dirinya 'tidak worth it untuk orang lain'? Misalnya saja, maaf agak kasar dalam menjelaskannya, seseorang yang sebelumnya sudah melakukan hubungan sex selalu merasa ketika dirinya ingin keluar dari hubungan toxic itu dirinya sudah tidak "suci dan worth" untuk orang lain? Padahal, suci atau tidak bukankah everybody is worth to loved?

Jawab: Karena jika kita pernah 'terjebak' dengan pasangan yang toxic, maka tanpa sadar kita akan menyalahkan diri karena merasa bodoh, tertipu, menghabiskan waktu dan yang pasti "racun" pasangan berhasil diserap oleh kita. Biasanya kata-kata mengancam, marah dll akan membuat harga diri kita jatuh, dan pasangan yang toxic akan memanfaatkan situasi itu untuk semakin 'menjajah' karena status kita semakin pasrah, tidak berdaya dan menganggap diri kita tidak berharga. Apalagi jika sudah menyangkut masalah keperawanan yang masuk norma sosial dan agama, duhhh makin dalam lukanya dan malu jika hubungan berakhir.

Tanya: lalu bagaimana caranya kita keluar dalam hubungan seperti itu? dan menghilangkan pikiran-pikiran yang tadi saya sebutkan?

Jawab: Sadar diri dulu bahwa kita sebenarnya berharga, makanya pasangan kita selalu 'meracuni' kita agar tidak pergi darinya. Kedua, cari support dari lingkaran terdekat seperti sahabat dan orang tua. Mereka akan membantu kita selama masa putus dan terhindar dari ancaman mantan yang toxic. Biasanya ancaman itu dibuat agar kita takut merasa bersalah. Kumpulkan bukti yang jelas di WA atau apapun juga agar ketika mantan melukai diri atau kita maka kita terhindar dari gugatan atau disalahkan. Ini bukan salah kita dan itu sepenuhnya konsekuensi pasangan sendiri. Konseling akan sangat baik untuk membantu memulihkan pikiran-pikiran negatif kita kepada diri sendiri. Love yourself first.

Tanya: Setelah kita sebutkan bahwasanya teman saya berada di dalam toxic relationship, dia ikutan berpikir dan mengamini kondisinya yang tidak dalam hubungan yang sehat. Namun, dia seperti terkurung gitu mba. Nggak bisa keluar dari situasi tersebut. Jadinya ya kaya gitu. Bucin. sambil gemas sendiri kalau apa yang dilakukannya sepertinya tidak tepat. Dia berusaha mencari 'pertolongan', seperti healing, dan konsultasi. Namun tampaknya belum ada yang ter-trigger dan bikin dia keluar dari toxicnya Mba. Sama seperti unul. Terjebak. huhuhu. Hanya saja, kita bukan orang yang berada di lingkungan itu secara langsung. Namun melihat teman kita demikian, kita sebagai temannya jadi bingung sendiri harus gimana.

Jawab: Bisa jadi ada yang dijadikan 'sandera' oleh pasangannya. sudah berhub seksual-kah? atau ada kaitannya dengan keluarga? atau kadang bisa jadi teman kita ini juga awalnya pny issue sendiri. kesepian, temannya sedikit sehingga kalau putus sm pacar toxicnya, dia akan semakin sendirian.

Ilustrasi percintaan. Foto: unsplash/Kelly Sikema

Tanya: Anggaplah semua yang dikatakan ini benar mba. Lalu, kita harus apa? Karena pada saat itu aku pernah melewati toxic relationship juga sama pasanganku mbak, jadinya merasa seperti yang mbak Denrich bilang barusan.

Jawab: ya ini memang biasa. Toxic relationship pastinya membelenggu. toxic girlfriend atau boyfriend itu manipulatif biasanya. pintar memanfaatkan kelemahan kita untuk benefitnya. Biasanya yang dipilih pasangan yang pasrah, submisif (menempatkan diri di bawah pasangan), pendiam, penakut, dll. Ibaratnya seperti orang sedang linglung ke atm, ketemu penipu yang sekali tepok bisa langsung mempengaruhinya untuk transfer uangnya ke si penipu.

Tapi sekalinya kita teguh hati, pasti bisa keluar. Dalam jangka waktu 1-2 minggu biasanya kita akan lebih sadar bahwa selama ini kita masuk dalam relasi yang tidak sehat. baru bisa secara obyektif melihat bahwa mantan kita adalah pasangan toxic.

Tanya: dia 'kebablasan'. Dia tumbuh dari keluarga yang ga utuh dan introvert, sehingga tidak yakin punya support system lain. Biasanya yang dipilih pasangan yang pasrah, submisif (menempatkan diri di bawah pasangan), pendiam, penakut dll. Ibaratnya seperti orang yang sedang linglung ke atm, ketemu penipu yang sekali tepok bisa langsung mempengaruhinya untuk transfer uangnya ke si penipu. Lalu harus apa?

Jawab: Get out from there! masih ada cowok/cewek lain yang lebih pantas mendapatkan kita. Kita menjadi lemah karena kita berhasil diracuni. semua orang berhak bahagia. Kamu mau kan? Jadi minum penawar racunnya ya... masih banyak teman atau keluarga yang mencintai kita. Jangan ragu. Karena kalau sudah sampai menikah, biasanya akan menjadi KDRT. Oh iya catatan, berdasarkan pengalaman praktik saya, pasangan yang toxic adalah pasangan yang memiliki gangguan kepribadian atau kecemasan. Jika ia tidak terapi, maka tidak akan berubah atau malah akan semakin parah.

Tanya: kenapa ada orang yang bertahan dalam toxic relationship? Bagaimana caranya supaya benar-benar lepas dari toxic relationship dan efeknya nggak terbawa sampai ke hubungan selanjutnya?

Jawab: orang yang bertahan dalam toxic relationship disebabkan karena biasanya mereka tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi mereka tahu mereka tidak bahagia, di sisi lain mereka takut akan kehilangan, takut tidak berharga lagi, takut merasa bersalah, takut mantannya akan menceritakan hal-hal buruk tentangnya dll. Cara supaya benar-benar lepas dari toxic relationship itu tegas. Langsung lakukan atau minta putus, don't turning back atau berubah keputusan, cari perlindungan atau bantuan dari teman dan keluarga. Pilih momen yang tepat untuk menghilang.

Agar tidak terbawa ke hubungan selanjutnya, bereskan kondisi psikologis kita dahulu. Bisa dengan bantuan teman, keluarga atau psikolog/konselor untuk menyembuhkan luka hati. Selama relasi pasti ada trauma, rasa bersalah, kekecewaan, kesedihan, dll. Buka interaksi baru dalam lingkungan baru. Pilih waktu atau momen yang tepat. misalnya ketika masa liburan, pindah kerja atau lulus sekolah/kuliah.

Pada akhir sesi, Denrich menuturkan kalau kita harus sadar dan mencintai diri sendiri terlebih dahulu, sebelum mementingkan orang lain. Jangan sampai kita mengorbankan kebahagiaan kita dan terjebak dalam toxic relationship.

“Kalau bukan kita yang mencintai diri kita sendiri, siapa lagi? Hanya kita yang dapat membantu diri sendiri yaa. Toxic relationship tidak hanya merugikan kita, tetapi juga nantinya ke keluarga atau teman kita juga. Karena suatu saat pasangan kita akan masuk dalam lingkup kita yang paling pribadi. So, keep love yourself. Keep aware, stay safe and you will be loved!” ujar Denrich kepada teman kumparan.

Tertarik bergabung di grup teman kumparan WOMAN?

Gabung di sini ya!