See The Unseen, Listen The Untold: Merayakan Cerita Manusia Bersama Manusiaui

teman kumparan

teman kumparanverified-green

Ayo gabung ke komunitas teman kumparan!

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi manusia-manusia di New York. Foto: Pixabay/Ali Vidle
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi manusia-manusia di New York. Foto: Pixabay/Ali Vidle

"You think the only people who are people, are people who look and think like you. But if you walk the footstep of the strangers, you'll learn thing you never knew, you never knew."

― kutipan lagu "Colors of The Wind"

Sosok fotografer dan penulis cerita di balik proyek photoblog bertajuk Humans of New York (HONY), Brandon Stanton, menyadari adanya power of strangers atau kekuatan dari orang-orang asing yang membagikan cerita mereka.

Sebelum menjadi sosok di balik Humans of New York, Brandon Stanton merupakan pekerja di bidang industri keuangan. Setelah meninggalkan pekerjaan tersebut, Brandon mengejar mimpinya untuk menjadi fotografer dan berkeliling New Orleans, Pittsburg, Philadelphia, dan akhirnya New York.

Brandon sangat tertarik dengan kehidupan di kota dengan julukan city that never sleeps tersebut sehingga ia memutuskan untuk tinggal dan membuat album bertajuk Humans of New York. Ia turut membagikan 'hasil buruan' foto beserta kisahnya di laman Instagram @humansofny

Terinspirasi dari Humans of New York, Ricky Subagja, founder Manusiaui yang kini sudah menjadi alumnus FISIP Universitas Indonesia angkatan 2015, membuat kegiatan serupa yang menyorot kehidupan pribadi manusia di Universitas Indonesia yang mungkin tidak terlihat dan terdengar.

Pada awalnya, Humans of UI (sejak tahun 2018 sudah rebranding menjadi Manusiaui) merupakan proyek inisiatif dari Ricky untuk memenuhi tugas mata kuliah Media dan Komunikasi Antar Budaya di mana Ricky ingin mematahkan stigma tertentu tentang Universitas Indonesia, terutama tentang mahasiswanya, dan lebih mengapresiasi keberagaman manusia di UI yang tidak terlihat dengan membagikan cerita mereka di Manusiaui.

Pada saat itu, Ricky yang masih merupakan mahasiswa semester 5, secara mandiri mencari orang-orang di Universitas Indonesia yang berasal dari berbagai latar budaya, memotret orang tersebut, mendengar cerita mereka, menulis cerita, dan mengunggah hasil tulisannya di media sosial. Ricky tidak berhenti sampai di akhir kewajiban tugas mata kuliah saja. Pada tahun 2018, Ricky mengajak 4 kawannya untuk membuat proyek Manusiaui menjadi lebih settle.

"Kita tidak harus selalu mencari inspirasi terlalu jauh, misalnya, dari tokoh motivator. Tanpa kita sadari, orang-orang terdekat kita pun ternyata menyimpan suatu cerita dan dapat menginspirasi."

- Ricky Subagja, Founder Manusiaui

instagram embed

Tentang Manusiaui

Manusiaui merupakan sebuah kanal untuk berbagi cerita dan menghubungkan manusia-manusia di Universitas Indonesia. Sosok manusia yang diliput tidak hanya terbatas dalam lingkup mahasiswa saja, tetapi pun meliputi karyawan, staf pengajar, para alumni, dan orang-orang yang berjasa bagi kehidupan kampus UI, seperti supir bikun (bis kuning), penjual makanan, atau penjaga makam di hutan UI.

Pada dasarnya, Manusiaui ingin menjadi sebuah tempat bagi para manusia UI yang ingin berbagi cerita tentang perjalanan hidup yang mereka alami. Tidak harus selalu hal yang terlihat baik. Manusiaui pun ingin menjadi tempat di mana setiap orang bisa menceritakan 'mimpi buruk' mereka. Nilai yang dibawa oleh Manusiaui adalah melihat apa yang tidak terlihat (see the unseen) dan mendengar apa yang tidak terdengar (listen the untold).

Dalam kurun waktu tiga tahun, pengikut (followers) Manusiaui di Instagram sudah mencapai 14.800 orang. Tim Manusiaui melihat followers mereka sebagai orang-orang yang percaya terhadap Manusiaui. Selain menginspirasi kalangan masyarakat di Universitas Indonesia, Manusiaui turut menjadi sebuah encouragement bagi mahasiswa di berbagai kampus untuk membuat proyek serupa, seperti UPN Veteran Jakarta dengan Sudut Pandang UPN VJ (Instagram: @sudutpandang.upnvj) dan ITB dengan Sobat Gajah (Instagram: @sobatgajah).

Ricky Subagja (tengah), Founder Manusiaui, bersama tim Manusiaui ketika bertemu dan berbincang dengan narasumber di kampus. Foto: dok. Manusiaui

Tentang Tim dan Program Manusiaui

Kini, Manusiaui sudah memiliki 28 anggota dan terbagi menjadi dua tim, yaitu tim program dan tim non-program. Di dalam tim program, terdapat program Berbagi Kisah (terdiri dari bidang story hunter, fotografer, dan desain), Layar Kata, Podcast Merayakan Manusia, dan Manusiaui Berbagi; tim non-program terdiri dari public relation dan content developer.

Pada Juli silam, Manusiaui telah melakukan proses rekrutmen untuk mahasiswa dan alumni UI yang ingin bergabung sebagai relawan tim Manusiaui dalam periode Agustus sampai Oktober 2020.

Manusiaui memiliki beberapa program. Konten berupa kisah inspiratif yang selama ini dilihat oleh masyarakat di laman Instagram @manusiaui merupakan program Berbagi Kisah. Pada waktu mendatang, Manusiaui akan menambah beberapa kegiatan baru, seperti program Manusiaui Berbagi, di mana Manusiaui akan berperan sebagai pintu utama sivitas akademika Universitas Indonesia untuk membantu penggalangan dana.

Selain itu, Manusiaui memiliki inovasi untuk menyajikan cerita dalam format yang lebih variatif, seperti short movie dengan tajuk Layar Kata yang akan ditampilkan melalui fitur IGTV dan podcast dengan tajuk Merayakan Manusia.

Salah satu cerita menarik yang disampaikan oleh Ricky perihal inovasi pembuatan podcast adalah ia sempat mendapat umpan balik yang seakan-akan "menampar" dirinya. Manusiaui mendapat respon yang baik dan positif di masyarakat, namun konten visual yang disajikan tidak dapat dipahami oleh orang-orang tunanetra.

Selama ini, Ricky mengira Manusiaui sudah cukup peka, namun, ternyata, belum cukup ramah untuk orang-orang disabilitas. Itu lah salah satu alasan Manusiaui ingin membuat konten dalam format audio. Kejadian tersebut turut menciptakan semangat baru bagi Manusiaui untuk lebih merangkul keberagaman dan inklusivitas.

Ricky mengaku masa pandemi COVID-19 menjadi tantangan baru bagi tim Manusiaui. Proses wawancara yang biasa dilakukan dengan tatap muka secara langsung harus beralih menjadi komunikasi secara online. "Peran komunikasi non-verbal sangat lah penting. Kalau wawancara online, kita tidak bisa melihat gestur non-verbal dari orang tersebut," ujar Ricky.

instagram embed

Selain secara aktif mencari dan mendengar cerita dari berbagai sosok di lingkungan kampus UI, Manusiaui terbuka dengan segala cerita yang dibagikan oleh manusia UI lainnya melalui open submission. Tidak ada kriteria khusus yang menggolongkan suatu cerita sebagai cerita yang menarik atau tidak menarik, selama cerita tersebut adalah tentang manusia di Universitas Indonesia. Akan tetapi, ada berbagai pertimbangan dalam proses kurasi cerita, seperti representasi fakultas, representasi gender, kebaruan cerita, dan apakah isu yang dibahas sedang relevan dengan momen yang sedang terjadi.

Makna Penting Manusiaui

Menurut Ricky, penting sekali untuk tidak mudah menilai seseorang dari luarnya saja. "In a nutshell, Manusiaui dapat memanusiakan aku sebagai manusia. Aku menjadi less-judging dan bisa melihat a whole package of a person," ujar Ricky.

Sebagai tambahan, selain manfaat personal, Ricky pun percaya Manusiaui bisa menjadi tempat belajar bagi anggota timnya untuk melakukan kerja sosial dan mengaktualisasi diri.

“Everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. Be kind. Always.”

― Brad Meltzer

instagram embed

"Kadang, kita terlalu cepat menghakimi orang lain dari cerita yang hanya kita tahu sepersekian dari keseluruhan hidupnya. Aku ingin dengan adanya Manusiaui, kita bisa lebih menghargai setiap keberagaman dan perbedaan yang ada, bersikap lebih toleran, dan memiliki empati untuk sesama manusia serta bagaimana pada akhirnya, kita bisa memanusiakan manusia." ujar Ricky kepada kumparan.

Ingin membaca cerita-cerita inspiratif dan terhubung dengan para manusia di Universitas Indonesia? Yuk, ikuti terus perjalanan Manusiaui melalui Instagram @manusiaui.

(Fab)