Kita Terlalu Sibuk Mencari Orang Hebat

Senior Lecturer, Universitas Syiah Kuala
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setelah menulis tentang bagaimana kampus sering kali lebih cepat melihat kekurangan daripada potensi, ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya.
Bagaimana jika persoalannya bukan hanya kampus?
Bagaimana jika cara kita memahami pembangunan manusia memang sejak awal terlalu berfokus pada individu, sementara kita kurang memberi perhatian pada lingkungan yang memungkinkan individu itu bertumbuh?
Kita hidup dalam zaman yang sangat mengagungkan sosok-sosok luar biasa.
Kita berbicara tentang talenta.
Tentang inovator.
Tentang pemimpin.
Tentang generasi unggul.
Tentang anak-anak muda yang dianggap mampu mengubah masa depan.
Namun jauh lebih jarang kita bertanya tentang sesuatu yang lebih mendasar:
Di mana orang-orang itu sebenarnya tumbuh?
Selama bertahun-tahun berkecimpung di dunia musik, saya sering menemukan hal-hal yang sulit dijelaskan oleh logika pendidikan formal.
Saya mengenal musisi yang tidak pernah belajar di sekolah musik, tetapi memiliki sensitivitas yang luar biasa terhadap bunyi.
Saya mengenal mahasiswa yang tampak biasa saja di ruang kuliah, tetapi berubah menjadi sosok yang berbeda ketika berada di ruang latihan, panggung, atau komunitas tempat ia merasa diterima.
Saya juga menyaksikan kelompok-kelompok kecil dengan sumber daya yang sangat terbatas mampu menghasilkan energi kreatif yang jauh lebih besar dibanding berbagai program yang dirancang dengan anggaran dan struktur yang lebih lengkap.
Semakin lama mengamati, semakin saya curiga bahwa kemampuan manusia sering kali tidak tumbuh di tempat yang selama ini paling kita banggakan.
Ia tumbuh di antara manusia.
Dalam perjumpaan.
Dalam percakapan.
Dalam proses yang berlangsung berulang kali hingga melahirkan rasa percaya.
Sebagai seorang yang belajar musik, terutama musik yang dimainkan bersama, saya selalu tertarik pada satu kenyataan sederhana.
Tidak ada ansambel yang dibangun hanya oleh pemain-pemain hebat.
Dalam sebuah kelompok musik, kemampuan memainkan instrumen hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan proses.
Yang jauh lebih penting adalah kemampuan mendengar.
Kemampuan membaca ruang.
Kemampuan memahami kapan harus mengambil peran dan kapan harus memberi tempat bagi orang lain.
Dalam tradisi musik apa pun, dari rapai hingga jazz, kualitas pertunjukan tidak ditentukan oleh siapa yang paling menonjol, melainkan oleh kemampuan setiap orang untuk saling merespons.
Musik yang baik lahir dari hubungan.
Bukan dari individualitas.
Semakin sering saya memikirkan hal itu, semakin saya merasa bahwa masyarakat sebenarnya bekerja dengan cara yang tidak jauh berbeda.
Kita terlalu sering membicarakan cara mencetak orang-orang hebat.
Padahal yang sering hilang adalah ruang yang memungkinkan mereka saling menemukan.
Banyak kebijakan pembangunan masih berangkat dari keyakinan bahwa kemajuan dapat diciptakan melalui fasilitas, program, dan struktur organisasi.
Tentu semua itu penting.
Namun pengalaman menunjukkan bahwa kehidupan sosial tidak pernah tumbuh hanya karena sebuah struktur dibentuk.
Kita bisa mendirikan organisasi.
Kita bisa membangun gedung.
Kita bisa menyusun program kerja.
Tetapi tidak ada satu pun di antaranya yang secara otomatis menghasilkan kepercayaan.
Sementara hampir semua kerja sama yang bertahan lama justru bertumpu pada kepercayaan.
Di Aceh, saya sering melihat paradoks itu.
Kita cukup akrab dengan pembangunan yang terlihat secara fisik. Jalan, gedung, pagar, dan berbagai proyek lain mudah dikenali sebagai tanda kemajuan.
Sebaliknya, pembangunan yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia sering kali luput dari perhatian karena hasilnya tidak langsung tampak.
Padahal banyak perubahan penting justru berawal dari sana.
Seorang seniman bertemu peneliti.
Seorang mahasiswa bertemu pelaku usaha.
Seorang fotografer bertemu musisi.
Seorang pegiat komunitas bertemu orang lain yang selama ini memikirkan persoalan yang sama dari sudut pandang berbeda.
Awalnya hanya percakapan.
Kemudian menjadi kerja sama.
Lalu berkembang menjadi pengetahuan baru, karya baru, atau kemungkinan-kemungkinan lain yang sebelumnya tidak pernah direncanakan.
Dalam kebudayaan, proses seperti itu hampir selalu menjadi titik awal.
Pertemuan lebih dahulu hadir daripada institusi.
Kepercayaan lebih dahulu tumbuh daripada organisasi.
Kerja bersama lebih dahulu terbentuk daripada struktur.
Sayangnya, kita sering membalik urutannya.
Kita membangun struktur, lalu berharap kehidupan sosial mengisinya.
Kita membentuk organisasi, lalu berharap kolaborasi muncul dengan sendirinya.
Kita menyiapkan panggung, lalu heran ketika tidak banyak yang benar-benar terjadi di atasnya.
Barangkali karena terlalu lama terbiasa melihat pembangunan sebagai urusan fisik, kita lupa bahwa setiap masyarakat juga membutuhkan infrastruktur yang tidak kalah penting: ruang yang memungkinkan manusia bertemu, berbagi pengalaman, dan belajar satu sama lain.
Bukan sekadar tempat berkegiatan.
Bukan sekadar lokasi acara.
Melainkan ruang yang membuat orang memiliki alasan untuk kembali, berbincang, bekerja bersama, dan membangun sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Banyak kota yang berhasil mengembangkan ekosistem kreatif memahami hal ini dengan baik.
Mereka tidak hanya berinvestasi pada bangunan dan fasilitas.
Mereka juga merawat ruang-ruang perjumpaan.
Sebab kreativitas tidak lahir dari isolasi.
Pengetahuan tidak tumbuh dalam kesendirian.
Inovasi jarang muncul dari individu yang bekerja tanpa jejaring.
Sebagian besar lahir dari hubungan yang terus dirawat dalam jangka panjang.
Mungkin karena itu saya semakin yakin bahwa masa depan sebuah kota tidak terutama ditentukan oleh seberapa banyak orang hebat yang dimilikinya.
Yang lebih menentukan adalah seberapa besar peluang bagi orang-orang tersebut untuk saling menemukan.
Sebab hampir semua hal yang kemudian kita rayakan sebagai kreativitas, kolaborasi, inovasi, bahkan pertumbuhan ekonomi, pada mulanya hanyalah beberapa orang yang dipertemukan oleh ruang yang tepat, pada waktu yang tepat, lalu memilih untuk tidak segera berjalan ke arah masing-masing.
