Konten dari Pengguna

Usia Boleh Senja, Kebutuhan Tak Pernah Pensiun

Teresiaa Sianturii

Teresiaa Sianturii

Mahasiswi Fakultas Hukum, Universitas Katolik St. Thomas Medan

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Teresiaa Sianturii tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Deskripsi foto: Lansia tetap bekerja di usia senja—potret keteguhan hidup saat kebutuhan tak pernah pensiun. Gambar ini dihasilkan dari Gemini AI.
zoom-in-whitePerbesar
Deskripsi foto: Lansia tetap bekerja di usia senja—potret keteguhan hidup saat kebutuhan tak pernah pensiun. Gambar ini dihasilkan dari Gemini AI.

Di banyak sudut kota dan desa di Indonesia, kita masih dapat melihat pemandangan yang sama: seorang kakek mengayuh becak di bawah terik matahari, nenek menjajakan gorengan di depan rumah, atau lansia yang tetap menjaga warung kecil meski langkahnya tak lagi sekuat dulu. Pemandangan ini sering dianggap sebagai bukti ketangguhan generasi tua. Namun di balik ketangguhan itu tersimpan kenyataan yang lebih getir: bagi banyak orang lanjut usia di Indonesia, bekerja bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Usia boleh saja menua, tetapi kebutuhan hidup tidak pernah ikut pensiun.

Fenomena lansia yang tetap bekerja sebenarnya bukan hal baru. Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, persoalan ini semakin nyata seiring meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk lansia di Indonesia telah melampaui 10 persen dari total populasi. Artinya, Indonesia mulai memasuki fase yang dikenal sebagai aging population, yakni kondisi ketika proporsi penduduk usia lanjut semakin besar. Perubahan demografi ini membawa konsekuensi besar, terutama dalam hal jaminan sosial, kesempatan kerja, dan kesejahteraan hidup di usia tua.

Sayangnya, peningkatan jumlah lansia tidak selalu diiringi dengan kesiapan sistem perlindungan sosial yang memadai. Banyak lansia yang harus tetap bekerja bukan karena ingin tetap aktif atau produktif, melainkan karena tidak memiliki pilihan lain. Tabungan yang terbatas, akses terhadap pensiun yang minim, serta dukungan keluarga yang tidak selalu tersedia membuat sebagian besar lansia tetap berada di pasar kerja informal. Dalam kondisi seperti ini, usia senja bukanlah masa istirahat, melainkan fase baru dari perjuangan hidup yang belum selesai.

Lansia Indonesia dan Realitas Ekonomi

Dalam masyarakat yang ideal, masa tua sering digambarkan sebagai waktu untuk menikmati hasil kerja keras selama puluhan tahun. Namun realitas di Indonesia menunjukkan gambaran yang berbeda. Bagi banyak orang, masa pensiun justru menjadi masa yang penuh ketidakpastian.

Data BPS menunjukkan bahwa tingkat partisipasi kerja lansia di Indonesia masih tergolong tinggi. Sekitar setengah dari populasi lansia masih aktif bekerja. Sebagian besar dari mereka berada di sektor informal seperti perdagangan kecil, pertanian, jasa sederhana, atau pekerjaan berbasis keluarga. Pekerjaan-pekerjaan ini biasanya tidak memberikan jaminan pendapatan yang stabil, apalagi perlindungan sosial seperti asuransi kesehatan atau jaminan pensiun.

Ada beberapa alasan utama mengapa banyak lansia tetap bekerja. Pertama adalah faktor ekonomi. Tidak semua pekerja di Indonesia memiliki akses terhadap sistem pensiun formal. Program pensiun biasanya hanya tersedia bagi pegawai negeri atau pekerja di sektor formal tertentu. Sementara itu, sebagian besar tenaga kerja Indonesia berada di sektor informal yang tidak memiliki sistem jaminan pensiun yang jelas.

Kedua adalah faktor budaya. Dalam masyarakat Indonesia, bekerja sering dianggap sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap keluarga. Banyak lansia merasa tidak nyaman jika harus bergantung sepenuhnya pada anak atau kerabat. Karena itu, mereka memilih tetap bekerja selama masih mampu, meskipun penghasilan yang diperoleh tidak terlalu besar.

Ketiga adalah faktor keterbatasan perlindungan sosial. Program jaminan sosial bagi lansia memang mulai berkembang dalam beberapa tahun terakhir, tetapi cakupannya masih terbatas. Bantuan sosial untuk lansia umumnya bersifat selektif dan belum mampu menjangkau seluruh kelompok yang membutuhkan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan lansia bukan hanya soal usia, tetapi juga soal sistem sosial dan ekonomi yang belum sepenuhnya ramah terhadap kehidupan di masa tua.

Ketika Pensiun Menjadi Kemewahan

Di banyak negara maju, pensiun merupakan fase yang relatif terjamin. Pekerja biasanya memiliki tabungan pensiun, asuransi kesehatan, serta berbagai bentuk perlindungan sosial lainnya. Namun di Indonesia, pensiun sering kali menjadi kemewahan yang hanya dapat dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat.

Sebagian besar pekerja Indonesia tidak memiliki skema pensiun yang jelas. Hal ini terutama berlaku bagi pekerja informal seperti pedagang kecil, petani, nelayan, atau pekerja lepas. Mereka bekerja sepanjang hidup tanpa sistem tabungan pensiun yang terstruktur.

Akibatnya, ketika usia mulai menua dan kemampuan fisik menurun, banyak dari mereka tetap harus bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagi sebagian orang, berhenti bekerja berarti kehilangan sumber penghasilan utama. Dalam situasi seperti ini, pensiun bukanlah pilihan yang realistis.

Fenomena ini terlihat jelas di berbagai daerah. Kita sering menjumpai lansia yang masih bekerja sebagai tukang parkir, penjaga toko, penjual makanan kecil, atau pekerja serabutan lainnya. Mereka bekerja bukan untuk mengejar karier atau ambisi, melainkan sekadar untuk memastikan dapur tetap mengepul.

Ironisnya, kerja keras yang dilakukan lansia sering kali tidak diimbangi dengan perlindungan yang memadai. Banyak dari mereka bekerja tanpa jaminan kesehatan atau keamanan kerja. Jika sakit atau mengalami kecelakaan, mereka harus menanggung sendiri biaya pengobatan yang tidak sedikit.

Situasi ini menunjukkan bahwa sistem perlindungan sosial bagi lansia di Indonesia masih memiliki banyak celah yang perlu diperbaiki.

Tantangan Kesehatan dan Produktivitas

Selain persoalan ekonomi, lansia juga menghadapi tantangan kesehatan yang tidak ringan. Seiring bertambahnya usia, kemampuan fisik manusia secara alami akan menurun. Penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan sendi menjadi lebih umum terjadi pada kelompok usia lanjut.

Bagi lansia yang masih bekerja, kondisi kesehatan ini dapat menjadi hambatan besar. Pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik sering kali menjadi semakin sulit dilakukan. Bahkan pekerjaan ringan sekalipun bisa terasa berat ketika tubuh tidak lagi sekuat dulu.

Namun di sisi lain, banyak penelitian menunjukkan bahwa tetap aktif bekerja atau berkegiatan dapat memberikan manfaat psikologis bagi lansia. Aktivitas produktif dapat membantu menjaga kesehatan mental, mengurangi rasa kesepian, dan meningkatkan rasa percaya diri.

Dengan kata lain, bekerja di usia lanjut tidak selalu menjadi hal yang buruk. Yang menjadi persoalan adalah ketika pekerjaan tersebut dilakukan karena keterpaksaan ekonomi, bukan karena pilihan yang bebas.

Peran Keluarga yang Berubah

Dalam budaya Indonesia, keluarga secara tradisional memiliki peran penting dalam merawat lansia. Anak-anak biasanya bertanggung jawab untuk membantu orang tua mereka ketika memasuki usia tua.

Namun perubahan sosial dalam beberapa dekade terakhir telah mengubah pola ini. Urbanisasi, mobilitas kerja, serta meningkatnya biaya hidup membuat banyak keluarga menghadapi tekanan ekonomi yang tidak ringan. Dalam situasi seperti ini, tidak semua keluarga mampu memberikan dukungan finansial yang cukup kepada orang tua mereka.

Selain itu, perubahan gaya hidup juga memengaruhi hubungan antar generasi. Di masa lalu, keluarga besar sering tinggal dalam satu rumah atau setidaknya dalam jarak yang dekat. Saat ini, banyak anak yang harus merantau ke kota lain untuk bekerja. Akibatnya, interaksi sehari-hari dengan orang tua menjadi lebih terbatas.

Perubahan ini tidak berarti bahwa nilai kekeluargaan di Indonesia hilang. Namun realitas ekonomi membuat dukungan keluarga tidak selalu dapat diandalkan sebagai satu-satunya solusi bagi kesejahteraan lansia.

Negara dan Tanggung Jawab Sosial

Dalam konteks negara modern, kesejahteraan lansia tidak bisa hanya bergantung pada keluarga. Negara memiliki peran penting dalam memastikan bahwa setiap warga dapat menjalani masa tua dengan layak.

Beberapa langkah telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia, seperti pengembangan program jaminan sosial melalui BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan. Program-program ini bertujuan untuk memberikan perlindungan yang lebih luas bagi masyarakat, termasuk mereka yang memasuki usia lanjut.

Namun tantangan terbesar adalah bagaimana memperluas cakupan program tersebut agar dapat menjangkau pekerja di sektor informal. Tanpa langkah yang lebih sistematis, sebagian besar pekerja informal akan tetap berada di luar sistem perlindungan sosial.

Selain itu, perlu ada kebijakan yang lebih ramah terhadap pekerja lansia. Misalnya dengan membuka peluang kerja yang lebih fleksibel, menciptakan lingkungan kerja yang aman bagi lansia, serta memberikan pelatihan keterampilan yang sesuai dengan kemampuan mereka.

Dengan pendekatan yang tepat, lansia tidak harus dipandang sebagai beban sosial. Sebaliknya, mereka dapat menjadi bagian dari sumber daya manusia yang tetap produktif dan berkontribusi bagi masyarakat.

Usia yang menua seharusnya tidak identik dengan ketidakpastian hidup. Masa tua adalah fase kehidupan yang layak dijalani dengan rasa aman, martabat, dan penghargaan atas kontribusi panjang yang telah diberikan kepada masyarakat. Namun realitas di Indonesia menunjukkan bahwa banyak lansia masih harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Fenomena ini mengingatkan kita bahwa persoalan lansia bukan sekadar masalah individu, melainkan juga cerminan dari sistem sosial dan ekonomi yang belum sepenuhnya inklusif. Tanpa perlindungan sosial yang kuat, usia senja akan terus menjadi masa yang penuh perjuangan bagi banyak orang.

Karena itu, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak. Pemerintah perlu memperkuat sistem jaminan sosial yang lebih luas dan inklusif. Dunia usaha dapat membuka peluang kerja yang lebih ramah bagi lansia. Sementara itu, masyarakat juga perlu membangun budaya yang lebih menghargai dan melindungi kelompok usia lanjut.

Pada akhirnya, cara sebuah bangsa memperlakukan lansianya mencerminkan kualitas kemanusiaan bangsa itu sendiri. Jika kita ingin membangun masa depan yang adil dan berkelanjutan, maka memastikan kesejahteraan lansia bukanlah pilihan, melainkan keharusan.

Usia boleh saja senja, tetapi kebutuhan hidup tidak pernah benar-benar pensiun. Karena itu, sudah saatnya kita memastikan bahwa setiap orang dapat memasuki masa tua dengan rasa aman, bukan dengan kekhawatiran akan hari esok.