Menguap Itu Menular: Tinjauan Biopsikologis tentang Mirror Neurons

Mahasiswa S1 Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Thalita Giska tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan saja sedang terjebak di dalam rapat membosankan yang seakan tak kunjung berakhir. Suasana hening, hanya keributan pembicara yang terdengar monoton di telinga. Tiba-tiba, seseorang di seisi ruangan ternganga, matanya semakin sembab. Tanpa sadar, tanpa bisa dicegat, ternyata mata kita pun juga ikut tertiup oleh angin.
Reaksi ini muncul dengan spontan, tampaknya ada echantment yang memaksakan untuk menduplikasi sebagai “subjek”.... Mengapa? Dua kata ajaib: “mirror neuron”. Fenomena menguap yang menular, meski terlihat sepele, justru mengungkap cara kerja otak manusia—khususnya dalam memunculkan empati.
Rahasianya terletak pada mirror neuron (neuron cermin). Tulisan ini akan menjelaskan kaitan antara neuron cermin dengan "efek bunglon", yaitu kecenderungan alami kita untuk meniru orang lain. Dimulai dengan orang “B” yang duduk di hadapan kita, semua orang tanpa sadar meniru pose, gestur jari-jari, ekspresi wajah orang lain untuk mempengaruhi agar kita merasa “dekat” dan “nyaman”. Menguap juga termasuk dalam kategori itu.
Hal yang sama terjadi dengan hewan. Sebagai contoh, burung beo dikenal suka menguap di samping mengepakkan sayap mereka sebagai langkah untuk menguatkan ikatan sosial mereka dalam kelompok. Peniruan secara spontan seperti itu bertindak sebagai cairan yang membantu mengembangkan perasaan kebersamaan.
Menurut artikel Psychology Today, “Peniruan adalah suatu pengetahuan yang menunjukkan bahwa pesimis tidak disadari. mungkin memperparah rasa ingin tahu dan meningkatkan hubungan antara kedua belah pihak”. Dengan kata lain, secara bawah sadar, ketika kita ikut menguap, kita berhasil memberikan sambungan yang halus — yang merupakan rasa bahwa kita semuanya adalah orang yang sama.
Dalam artikel yang terbit di Web MD pada 15 Maret 2024, seseorang yang punya empati tinggi biasanya lebih mudah ikut menguap ketika melihat orang lain menguap. Selain itu, semakin dekat hubungan seseorang, semakin besar kemungkinan ia akan ikut menguap.
Hal itu sebelumnya juga diungkapkan dalam studi yang ditulis oleh peneliti dari University of Pisa di Italia, Ivan Norscia dan Elisabetta Palagi dari Institute of Cognitive Sciences and Technologies di Roma, yang terbit pada jurnal Plos One pada 2011. Tingkat orang ikut menguap paling tinggi ketika merespons keluarga, teman, kenalan, baru kemudian orang asing. “Anda seolah-olah berbagi emosi sehingga respons Anda menjadi lebih tinggi (pada orang terdekat), karena Anda mencerminkan emosi satu sama lain,” kata Ivan Norscia.
Dari penelitian tersebut disebutkan pula bahwa ikut menguap bisa menjadi bentuk empati terhadap orang lain yang mengalami suatu perasaan seperti stres, kecemasan, kebosanan, atau kelelahan. “Ini memberikan penjelasan yang cukup meyakinkan bahwa empati mungkin terlibat dalam proses menguap yang menular di antara manusia,” ujar ahli biologi evolusi dari Princeton University, Andrew Gallup yang juga memelajari soal menguap.
Pada akhirnya, menguap yang menular adalah mekanisme sosial yang cerdas dan menyentuh. Ia adalah bahasa tubuh universal yang mengaburkan batas antara diri sendiri dan orang lain. Tak heran, setelah kita "ketularan" menguap dan menyadarinya, respons alami berikutnya adalah seringkali saling tersenyum. Senyuman itu adalah pengakuan, penutup hangat dari sebuah percakapan non-verbal yang baru saja terjadi. Jadi, lain kali kamu ikut menguap, sadarilah bahwa itu bukan cuma tanda mengantuk, melainkan bukti nyata bahwa kita adalah makhluk sosial yang terhubung oleh ikatan peniruan dan empati yang paling mendasar.
Pada hakikatnya, fenomena menguap yang menular mengajarkan betapa eratnya hubungan kita satu sama lain. Setiap kali kita ikut menguap karena orang lain, kita sedang menjalankan warisan evolusioner sebagai makhluk sosial. Ini adalah mekanisme alami yang membantu kita menyelaraskan diri dengan kelompok, memahami keadaan emosi orang lain, dan memperkuat ikatan sosial.
Jadi, lain kali kamu tanpa sadar ikut menguap melihat orang di sebelahmu, coba berhenti sejenak. Jangan anggap itu sebagai gangguan atau sekadar lelah biasa. Rasakan momen kecil itu sebagai sebuah keajaiban biologis yang sedang bekerja dalam dirimu. Itu adalah bukti nyata dari kompleksitas dan kedalaman hubungan kita sebagai manusia.
Mirror neurons, sang dalang di balik layar, ternyata tidak hanya membuat kita jadi makhluk peniru yang andal. Mereka adalah jembatan tak terlihat yang dengan lembut menghubungkan pengalaman batin antara manusia satu dengan pengalaman batin manusia lain. Mereka mengubah perasaan lelah, bosan, atau bahkan senang yang awalnya personal, menjadi sebuah pengalaman kolektif yang bisa saling kita pahami. Dalam tarikan napas panjang yang kita tiru, terkandung percakapan primitif dan paling jujur antarbenak kita — sebuah cara untuk mengatakan, "Aku mengerti. Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan."
Oleh karena itu, fenomena menguap yang menular ini jauh lebih bermakna daripada yang kita kira. Ia bukan cuma refleks, melainkan simfoni empati yang paling sederhana dan paling otentik. Ia mengingatkan kita bahwa pada intinya, kita adalah makhluk yang dirancang untuk berbagi, untuk merasakan, dan untuk terhubung.
Di dunia yang kadang terasa individualistis, mekanisme kecil dalam otak ini terus-menerus membisikkan sebuah kebenaran mendasar, bahwa kita saling terhubung, dan bahwa kita tidak benar-benar sendirian. Pada akhirnya, setiap kali kita ikut menguap, itu adalah tanda bahwa hati dan pikiran kita tetap terbuka — siap merespons dan merangkul pengalaman orang lain sebagai bagian dari pengalaman kita sendiri.
Jadi, menguap yang menular itu bukan cuma sekadar refleks biasa. Di baliknya, ada mirror neuron yang dengan lembut menyambungkan perasaan kita dengan orang lain. Setiap kali kita ikut menguap, tanpa sadar kita sedang berkata, "Aku mengerti, aku merasakan yang kau rasakan."
Fenomena sederhana ini mengajarkan kita sesuatu yang sangat dalam: bahwa sebagai manusia, kita memang dirancang untuk saling terhubung. Bukan hanya melalui kata-kata, tapi juga melalui gerak tubuh, empati, dan momen-momen kecil seperti menguap.
Di dunia yang kadang terasa individualis, mekanisme kecil di otak kita ini terus mengingatkan: kita tidak sendiri. Kita punya kemampuan alami untuk merasakan, memahami, dan berbagi perasaan dengan orang lain—bahkan tanpa satu pun kata diucapkan.
