Indosat Ooredoo Hutchison dan Adobe Dorong Kreator Lokal Go Global Lewat AI
ยทwaktu baca 3 menit

Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) resmi menjalin kolaborasi strategis dengan raksasa teknologi Adobe dan Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) RI. Langkah kolaboratif ini dirancang untuk memberdayakan generasi muda dan kreator lokal dalam memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) guna mengubah kreativitas menjadi peluang ekonomi yang nyata.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam peluncuran kemitraan ini, potensi dampak ekonomi dari pemanfaatan AI di Indonesia diproyeksikan dapat mencapai USD 366 miliar pada tahun 2030, dengan tingkat penggunaan AI harian sebesar 80 persen serta potensi peningkatan produktivitas hingga 10 kali lipat.
President Director and Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menekankan pentingnya memberikan akses yang merata bagi seluruh talenta di tanah air. Ia menegaskan komitmen Indosat dalam menjembatani kesenjangan peluang tersebut agar talenta lokal mampu bersaing di panggung dunia.
"Bakat itu tersebar merata, tetapi kesempatan tidak," ujar Vikram dalam sambutannya. Ia juga menambahkan pandangannya mengenai peran AI bagi para kreator di masa depan. "AI hanyalah rekan kerja, AI adalah sebuah alat."
Melalui kerja sama ini, seluruh pelanggan Indosat (IM3 dan Tri) akan mendapatkan akses premium gratis ke Adobe Express selama enam bulan. Program ini juga didukung oleh modul pembelajaran praktis dari Adobe Digital Academy yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Indonesia jadi pionir
JAPAC President Adobe, Ben Goodman, menyatakan antusiasmenya terhadap transisi ekonomi kreatif Indonesia menuju panggung dunia. Ben menyoroti besarnya ekosistem kreator di tanah air yang kini telah melibatkan puluhan juta orang.
"Ekonomi kreatif di Indonesia melibatkan sekitar 27,4 juta orang. Kami percaya kolaborasi ini menjadi fondasi yang luar biasa untuk membawa kreativitas dan inovasi Indonesia ke kancah global," ungkap Ben.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Adobe menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia untuk meluncurkan program monetisasi kreator di aplikasi Adobe Express. Program ini menghadirkan template yang dirancang secara lokal, sehingga memungkinkan para kreator Indonesia memperoleh penghasilan langsung dari karya mereka. Peserta yang terpilih nantinya juga mendapatkan kesempatan untuk menampilkan karyanya di ajang IDEAFEST.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teuku Riefky Harsya, menyampaikan sektor ekonomi kreatif di Indonesia menunjukkan performa yang sangat kuat.
Pada tahun 2025, ekonomi kreatif nasional tumbuh sebesar 6,86 persen, mengungguli pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 1,75 poin persentase.
Teuku Riefky menekankan kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru seperti AI menjadi kunci utama keberlanjutan industri kreatif ini di masa depan.
"Di tengah perubahan dunia yang begitu cepat, mereka yang akan unggul bukan mereka yang paling besar, tetapi mereka yang paling adaptif," tutur Teuku Riefky saat menutup sambutannya.
Upaya kolaboratif ini juga diintegrasikan dengan platform pemberdayaan anak muda milik Indosat, GENSi (Generasi Terkoneksi), yang menargetkan jangkauan hingga 15.000 anak muda tahun ini. Di sisi lain, Kemenekraf akan memperkuatnya melalui inisiatif program ECHOES (Ekraf Creates Harmony on Education Sector) untuk memperluas literasi ekonomi kreatif dan adopsi AI di sekolah-sekolah serta kampus di seluruh Indonesia.
