Konten dari Pengguna

Krisis Senyap di Balik Gemuruh Digitalisasi Pendidikan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tiara Khoirunnafiss tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Digitalisasi dalam pendidikan Foto oleh Ron Lach  dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/duduk-anak-kecil-anak-anak-siswa-10638069/
zoom-in-whitePerbesar
Digitalisasi dalam pendidikan Foto oleh Ron Lach dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/duduk-anak-kecil-anak-anak-siswa-10638069/

Ada paradoks yang jarang dibicarakan terbuka dalam wacana pendidikan Indonesia: semakin canggih teknologi yang kita punya, semakin terlihat jelas betapa rapuhnya fondasi yang mendasarinya. Kita sibuk membicarakan AI di kelas, platform pembelajaran adaptif, dan kurikulum berbasis proyek — sementara persoalan mendasar seperti kemampuan literasi dan numerasi dasar masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas untuk sebagian besar pelajar di negeri ini.

Ini bukan pesimisme tanpa dasar. Ini realitas yang perlu dihadapi dengan jujur, karena hanya dengan mengakuinya kita bisa mulai memperbaikinya dari akar, bukan sekadar menambal di permukaan.

Ketika "merdeka belajar" berhenti jadi slogan

Konsep merdeka belajar sejatinya ide yang baik: memberi ruang bagi siswa dan pendidik untuk tidak terpaku pada metode kaku dan seragam. Tapi ide baik tanpa infrastruktur pendukung yang memadai berisiko berhenti sebagai slogan di atas kertas. Guru yang idealnya jadi motor perubahan justru sering terjebak beban administratif yang menumpuk, minim pelatihan berkelanjutan, dan bekerja dengan fasilitas seadanya — terutama di luar kota-kota besar.

Kondisi ini menciptakan jarak antara kebijakan yang dirancang di meja pembuat regulasi dengan realitas yang dihadapi guru dan siswa di lapangan. Kebijakan pendidikan yang baik semestinya lahir dari dialog dua arah, bukan sekadar top-down tanpa mempertimbangkan kesiapan di lini terdepan.

Generasi yang haus validasi, bukan haus ilmu

Ada fenomena menarik yang layak jadi perhatian: budaya belajar generasi muda hari ini banyak dipengaruhi oleh logika media sosial — cepat, instan, dan berorientasi hasil yang terlihat. Ini berdampak pada cara mereka memandang proses belajar itu sendiri. Banyak yang lebih tertarik mengejar sertifikat dan pencapaian yang bisa dipamerkan, dibanding benar-benar menguasai substansi.

Fenomena ini bukan sepenuhnya salah generasi muda. Sistem pendidikan dan dunia kerja pun turut membentuk pola pikir ini, dengan terlalu menekankan kredensial formal dibanding kompetensi yang sesungguhnya. Akibatnya, muncul kesenjangan antara apa yang tertulis di CV dengan kemampuan aktual yang dimiliki seseorang saat benar-benar dihadapkan pada persoalan nyata.

Perguruan tinggi: laboratorium karakter, bukan sekadar pabrik ijazah

Bagi mahasiswa, kampus semestinya menjadi ruang eksperimen berpikir — tempat gagasan diuji, argumen dipertajam lewat diskusi, dan keberanian mengambil sikap dilatih lewat berbagai forum. Sayangnya, tekanan untuk lulus tepat waktu dengan IPK tinggi kerap membuat mahasiswa memilih jalan aman: menghindari mata kuliah yang menantang, enggan terlibat organisasi karena dianggap membuang waktu, dan memilih pasif dalam diskusi demi menjaga citra di depan dosen.

Padahal, justru dari ketidaknyamanan itulah kapasitas berpikir kritis dan kepemimpinan tumbuh. Mahasiswa yang berani mengambil risiko intelektual — bertanya hal yang berisiko terlihat "bodoh", mengambil proyek yang di luar zona nyaman, atau memimpin inisiatif yang belum tentu berhasil — pada akhirnya akan punya bekal yang jauh lebih relevan dibanding sekadar transkrip nilai yang rapi.

Membangun ulang makna "berhasil" dalam pendidikan

Barangkali, akar dari banyak persoalan pendidikan kita bukan soal kurangnya inovasi metode atau teknologi, melainkan soal cara kita mendefinisikan keberhasilan itu sendiri. Selama ukuran keberhasilan masih sempit — nilai tinggi, gelar, status — maka seluruh sistem di baliknya, termasuk motivasi belajar siswa dan mahasiswa, akan terus diarahkan untuk mengejar hal-hal itu saja, bukan pertumbuhan yang sesungguhnya.

Perubahan besar dalam pendidikan tidak akan datang dari kebijakan tunggal yang revolusioner. Ia akan lahir dari akumulasi keberanian kecil: guru yang berani keluar dari metode nyaman, mahasiswa yang berani gagal dalam proses belajarnya, dan institusi yang berani mengevaluasi ulang apa yang sebenarnya ingin mereka hasilkan dari setiap lulusannya.

Tiara Khoirunnafiss, Mahasiswi S1 Sistem Informasi Universitas pamulang