Anak-Anak Menadahkan Tangan di Gumitir: Kita Mahasiswa Mau Apa?

Mahasiswa Universitas Jember
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Tiara Puspita Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya masih ingat betul ketika melintasi jalur Gunung Gumitir yang menghubungkan Kabupaten Banyuwangi dan Jember. Jalanan berkelok dan berkabut, dikelilingi hutan lebat yang memantulkan udara sejuk khas pegunungan. Di balik keindahan dan keheningan alamnya, saya dikejutkan oleh pemandangan yang membuat dada terasa sesak. Seorang anak kecil berdiri di tepi jalan, menadahkan tangan ke arah kendaraan yang melaju kencang. Di belakangnya, seorang perempuan tua ikut mengulurkan tangan dengan wajah pasrah. Keduanya berdiri di tikungan tajam, hanya beberapa meter dari truk besar yang melintas.
Fenomena ini bukanlah hal baru bagi masyarakat lokal. Mereka menyebutnya "awe-awe", istilah yang berasal dari suara panggilan yang digunakan anak-anak dan orang dewasa untuk menarik perhatian pengemudi agar memberikan uang. Dahulu, para awe-awe memang membantu kendaraan melewati tikungan berbahaya dengan memberi aba-aba, namun peran itu kini hilang. Yang tersisa adalah praktik meminta-minta di pinggir jalan, yang semakin hari semakin melibatkan anak-anak. Bagi sebagian pengendara, memberikan uang receh kepada awe-awe mungkin dianggap wujud kebaikan hati. Tapi jika dicermati lebih dalam, fenomena ini menyimpan luka sosial yang dalam dan menuntut perhatian serius dari semua pihak.
Anak-anak seharusnya berada di sekolah, bermain, dan tumbuh dalam lingkungan yang aman. Tetapi di Gumitir, mereka justru dijadikan bagian dari aktivitas jalanan yang membahayakan. Mereka menyeberang secara tiba-tiba demi mengambil uang yang dilempar dari jendela mobil, berdiri terlalu dekat dengan jalur kendaraan berat, dan pada dasarnya, mempertaruhkan nyawa hanya demi sekeping koin. Ini bukan hanya soal ekonomi, ini adalah cermin ketimpangan sosial yang tajam dan eksploitasi terhadap anak-anak yang seharusnya dilindungi.
Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, melibatkan anak dalam aktivitas ekonomi berisiko tinggi seperti ini jelas merupakan bentuk eksploitasi. Tetapi hukum tidak cukup jika tidak disertai dengan keberpihakan sosial dan kebijakan pembangunan yang menyentuh akar masalah. Banyak dari keluarga awe-awe hidup dalam kemiskinan struktural, di mana akses terhadap pendidikan, pekerjaan layak, dan layanan sosial sangat terbatas. Jalur Gumitir yang berada di perbatasan dua kabupaten ini sering terabaikan dalam prioritas pembangunan. Ketimpangan antara daerah kota dan pinggiran terlihat jelas di sini, namun jarang dibicarakan secara terbuka.
Apa yang kita saksikan di tikungan-tikungan itu bukan hanya bentuk kemiskinan, tapi juga hasil dari sistem ekonomi dan sosial yang belum berpihak pada kelompok rentan. Dalam pemikiran James C. Scott, kelompok miskin sering kali bertahan hidup melalui cara-cara kecil yang disebut sebagai "senjata kaum lemah". Mengemis, dalam konteks ini, bukanlah pilihan bebas, melainkan bentuk adaptasi terhadap tekanan ekonomi dan ketidakberdayaan struktural. Anak-anak yang turun ke jalan adalah akibat dari sistem yang gagal menyediakan pilihan hidup yang lebih baik bagi mereka.
Sebagai mahasiswa asal Banyuwangi, saya merasa tak bisa menutup mata. Kita yang memiliki akses ke pendidikan tinggi, ruang diskusi, dan jaringan sosial yang lebih luas, seharusnya menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton pasif. Paulo Freire pernah menyampaikan bahwa pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang mampu menghubungkan manusia dengan realitas sosialnya. Jika mahasiswa hanya belajar untuk lulus, tanpa berkontribusi pada lingkungan sekitarnya, maka keberadaan kita di kampus hanya memperpanjang jurang antara yang terdidik dan yang tertindas.
Saya percaya bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari gerakan besar. Tindakan sederhana seperti membuka ruang belajar informal untuk anak-anak di sekitar Gumitir, mendampingi keluarga yang rentan secara sosial dan ekonomi, atau membuat riset pemetaan sosial yang benar-benar memahami kondisi mereka, adalah bentuk kontribusi nyata. Kampus dan organisasi kemahasiswaan bisa menjadi motor penggerak yang memfasilitasi kolaborasi antara mahasiswa, LSM, komunitas lokal, dan pemerintah daerah. Apalagi banyak mahasiswa yang sedang mencari topik skripsi atau pengabdian masyarakat—mengapa tidak menjadikan fenomena ini sebagai ladang pengabdian yang relevan?
Fenomena awe-awe di Gumitir adalah potret ketimpangan yang nyata di depan mata kita. Ironisnya, banyak dari kita sudah terbiasa melihat mereka dan menganggap itu sebagai bagian "biasa" dari perjalanan. Padahal di balik setiap tangan yang terulur, ada mimpi yang terkubur. Di balik senyuman kecil mereka saat menerima uang logam, ada kehidupan yang tertunda, masa depan yang tergadaikan. Kita tidak bisa terus membiarkan ini menjadi pemandangan yang dianggap lumrah hanya karena kita sudah terlalu sering melaluinya.
Gumitir adalah jalur yang indah secara fisik, namun perih secara sosial. Di saat wisatawan menikmati sejuknya udara dan pemandangan yang memanjakan mata, anak-anak lokal masih berdiri di pinggir jalan, menantang maut untuk sesuap nasi. Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau aparat hukum, tetapi tanggung jawab kita bersama sebagai warga yang memiliki kesadaran. Terutama mahasiswa, yang selama ini digadang-gadang sebagai agen perubahan, harus membuktikan bahwa gelar dan ilmu yang dimiliki bisa menjawab tantangan nyata yang dihadapi masyarakat kecil.
Membangun keadilan sosial tidak cukup hanya dengan teori dan diskusi di ruang kelas. Kita harus hadir di tengah masyarakat, memahami realitas mereka, dan bergerak bersama menciptakan solusi. Jangan sampai kita menjadi generasi terpelajar yang hanya sibuk mengejar karier dan prestise, sementara anak-anak di jalanan tetap menadahkan tangan tanpa harapan. Mahasiswa seharusnya menjadi pelita di tengah gelap, bukan hanya pembaca yang apatis.
Anak-anak di Gumitir tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin hidup yang layak, kesempatan belajar, dan masa depan yang lebih cerah. Tugas kita bukan sekadar mengasihani, tetapi memastikan mereka tidak lagi harus berdiri di pinggir jalan untuk mendapat perhatian. Lilin perubahan itu bisa kita nyalakan hari ini, dimulai dari keberanian untuk peduli dan bergerak.
