Anak Muda Didorong Jaga Jakarta: Bawa Tumbler & Tinggalkan Air Tanah
·waktu baca 4 menit

Di balik megahnya gedung-gedung pencakar langit Jakarta, deretan kafe estetik, dan gaya hidup kaum urban yang kerap menghiasi media sosial, tersimpan ancaman ekologis yang semakin nyata.
Eksploitasi air tanah yang menyebabkan permukaan tanah Jakarta turun setiap tahunnya dan tingginya konsumsi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) menjadi dua persoalan besar yang mengancam keberlanjutan ibu kota.
Persoalan besar inilah yang menjadi fokus utama diskusi publik “Eco-Luxury Jakarta: Menyusun Ulang Standar Estetika Kota yang Bersih dan Ramah Lingkungan” yang diselenggarakan oleh Komunitas Muda Itu Kita di Putih Melati Kantin, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (16/6/2026).
Kegiatan ini mempertemukan puluhan peserta yang terdiri dari berbagai komunitas seperti komunitas difabel, NGO, pegiat lingkungan, pegiat perkotaan, akademisi, dan generasi muda untuk membahas tantangan ekologis Jakarta sekaligus mendorong aksi nyata berupa transisi ke air perpipaan dan penggunaan tumbler sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan.
Diskusi menghadirkan Fariz Egia Gamal selaku Konten Kreator yang konsen Isue Pekotaan, Rizzah Aulifia selaku Inisiator Platform Melihat Kota, dan Aland Dinda Pradana selaku Edufluencer.
Fariz Gamal mengatakan persoalan krusial yang dihadapi oleh Jakarta saat ini adalah penurunan muka tanah yang bisa mencapai 15 cm setiap tahunnya. Penurunan muka tanah ini bukan arena air laut naik, tetapi karena amblesnya tanah akibat eksploitasi air tanah menggunakan sumur bor.
Pemerintah sudah memiliki aturan tahun 2021 yang mengatur bangunan dengan luas lantai 5.000 meter persegi atau lebih tidak boleh menggunakan air tanah. Kebijakan ini adalah bagian dari sistem yang dibuat pemerintah untuk mencegah Jakarta dari prediksi potensi tenggelam tahun 2050.
“Ini aturan untuk bangunan komersil seperti apartemen. Kalau rumah tangga ngebor antara 20-40 meter, sedangkan kalau komersil bisa ngebor air tanah sampai 60-100 meter. Kalau air tanah kita ditambang terus menerus, makin ambles. Dan ini yang bikin kita tenggelam,” ujar Gamal dalam acara Diskusi Eco-Luxury Jakarta, Selasa (16/06/2026).
Karena itu, menurut Gamal, masyarakat harus mulai beralih dari air tanah ke air perpipaan. Dalam hal ini, yang bisa dilakukan adalah menjadi pelanggan Perusahaan Air Minum (PAM) sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
“Semua daerah punya PAM masing-masing karena air bersih adalah hak masyarakat. Di Jakarta kebetulan ada PAM JAYA. Dan di sini PAM JAYA memang sedang mengejar target tahun 2029 seluruh bagian Jakarta bisa memiliki jaringan perpipaan,” terang Gamal.
Aland Pradana mengakui bahwa masyarakat Jakarta khususnya anak muda harus menjadi bagian dari gerakan peduli lingkungan. Salah satu kontribusi yang paling mudah adalah mengurangi konsumsi air dari AMDK dengan membawa tumbler ke mana-mana.
“Kita memang bukan pemangku kebijakan publik. Di sini kita bisa berkontribusi, yang paling mudah adalah minum jangan dari AMDK. Dan kita juga mesti mencoba untuk sosialisasikan ke orang-orang sekitar kita untuk bisa menggunakan air perpipaan. Kasih tahu bahayanya air tanah sumur bor kepada teman-teman kita,” terang Aland.
Di sisi lain, menurutnya, anak muda mesti menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi yang berguna. Termasuk informasi penggunaan air tanah yang berbahaya bagi masa depan Jakarta.
“Medsos kita bisa gunakan untuk sebarkan informasi bahwa tenggelamnya Jakarta bukan karena AC (Air Conditioner), tetapi justru karena air tanah. Kita mesti bisa bawa narasi ini ke masyarakat,” papar Aland yang juga adalah content creator ini.
Sementara itu, Rizzah Aulifia mengingatkan kepada masyarakat bahwa selama kita masih minum dari air tanah, itu berarti kita berkontribusi pada kesusahan hidup masyarakat ke depan. Dan, apabila kita juga masih menggunakan AMDK, itu berarti kita juga berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan.
“Kita ke manapun mesti bawa tumbler sendiri. Di beberapa titik fasilitas publik seperti perpustakaan, taman, ataupun transportasi umum, PAM JAYA memiliki beberapa titik pengisian air,” tutup Rizzah.
Dalam acara, diinfokan bahwa, PAM JAYA sudah memasang Water Hub di berbagai fasilitas publik Jakarta, seperti Perpustakaan Nasional RI, Taman dan Hutan Kota Tebet, Lapangan Banteng dan titik-titik lainnya mulai dari pemberhentian transportasi umum, sekolah, universitas, taman, tempat olahraga, hingga rumah sakit.
Kegiatan ini menghadirkan dua juru bicara isyarat bagi komunitas difabel sebagai bentuk semangat inklusivitas menjaga Jakarta dari berbagai kelompok.
Diskusi ditutup dengan acara bagi-bagi tumbler dan seruan pentingnya menjaga Jakarta dengan membawa tumbler dan beralih ke air perpipaan.
