Bahaya Tambal Gigi Sendiri Bisa Picu Kematian

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Drg. Aprillya Sakila menjelaskan soal apa yang terjadi pada gigi jika ditambal menggunakan tambalan sementara seperti yang sempat ramai di Threads, di Tangerang, Selasa (1/9/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Drg. Aprillya Sakila menjelaskan soal apa yang terjadi pada gigi jika ditambal menggunakan tambalan sementara seperti yang sempat ramai di Threads, di Tangerang, Selasa (1/9/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Penggunaan bahan tambal gigi yang dibeli secara online dan dipasang sendiri menjadi perhatian setelah sejumlah pasien mengalami masalah kesehatan. Salah satunya mengalami pembengkakan dan infeksi setelah menggunakan bahan tambal tersebut selama beberapa bulan.

Kasus ini bermula dari cerita dokter gigi, Aprillya Sakila, yang mengungkap kondisi seorang pasien melalui media sosial. Pasien tersebut sebelumnya sempat menjalani perawatan di puskesmas, tetapi terkendala jadwal untuk melanjutkan perawatan.

Pasien kemudian membeli bahan tambal gigi secara online dan memasangnya sendiri di rumah. Beberapa bulan setelah pemakaian, pasien mengalami sakit pada gigi bagian belakang bawah kanan yang kemudian disertai pembengkakan.

"Setelah beberapa bulan pasca pemakaian tambalan tersebut, pasien merasa giginya sakit dan muncul bengkak di hari selanjutnya," kata Sakila saat dihubungi kumparan, Senin (31/8).

Pasien sempat mencoba melepas sendiri bahan tambalan tersebut, tetapi tidak berhasil karena bahannya sulit dilepaskan. Ia juga sempat mendatangi sejumlah dokter gigi, tetapi dua kali ditolak karena keterbatasan alat dan bahan untuk mengangkat tambalan tersebut.

Bahan tambalan gigi yang dibeli sendiri oleh pasien via Online Shop, diangkat usai tindakan. Foto: Dok. Threads @regitapspt

Pasien akhirnya ditangani Sakila. Dari pemeriksaan, bahan tambalan tersebut diketahui bertekstur padat dan lengket serta hanya dapat melunak ketika bersentuhan dengan instrumen yang panas.

Sebelum melakukan tindakan, Sakila melakukan pemeriksaan rontgen periapikal untuk melihat kondisi jaringan di bawah tambalan yang tidak terlihat secara klinis.

"Setelah itu saya potong bahan tambal tersebut dengan gutta cutter. Setelah bahan tersebut terangkat, baru terlihat sisa jaringan gigi yang sudah membusuk dan membuat pasien mengalami infeksi," jelas Sakila.

kumparan post embed

Dokter Ingatkan Risiko Infeksi

Drg. Aprillya Sakila: dokter yang membagikan cerita dampak tambalan gigi sementara yang viral di Threads. Foto: Dok. Istimewa

Menurut Sakila, penggunaan bahan tambal gigi yang dibeli secara online secara sembarangan dapat membahayakan kesehatan, terutama jika gigi yang ditutup sudah mengalami kerusakan atau infeksi di bagian dalam.

Pasien yang menggunakan bahan tersebut dapat mengalami sejumlah dampak, mulai dari bau mulut dan peradangan gusi. Jika kondisi tersebut dibiarkan, infeksi dapat berkembang hingga menyebabkan pembengkakan pada wajah, demam, dan rasa sakit.

"Pasien memilih cara yang lebih mudah, yaitu membeli bahan via online yang mereka tidak tahu itu sangat membahayakan untuk mereka. Mereka tidak tahu dampak berkelanjutannya seperti apa," kata Sakila ketika ditemui kumparan di Tangerang, Selasa (1/9).

Sakila juga mengingatkan infeksi yang semakin parah dapat menjalar ke bagian leher dan dalam kondisi tertentu berujung pada kematian.

"Yang paling parah dampak yang tidak kita inginkan adalah kematian. Karena bengkak extraoral itu enggak bisa kita gampangin. Biasanya dalam keadaan-keadaan yang sudah kronis dia akan menjalar ke leher kita," kata Sakila.

Bahan tambal tersebut sebelumnya ditawarkan melalui siaran langsung di salah satu aplikasi media sosial. Bentuknya menyerupai butiran plastik yang dipanaskan menggunakan air panas sebelum dipasang pada gigi berlubang.

Sakila mengingatkan masyarakat tidak mudah percaya terhadap penjual bahan tambal gigi di media sosial hanya karena penjual terlihat mengenakan jas putih atau snelli.

"Kalau kita lihat live di salah satu aplikasi media sosial, itu memang banyak sekali live orangnya pakai snelli ya, pakai jas putih, sehingga kadang orang merasa bahwa itu adalah dokter," katanya.

"Jadi orang meyakini bahwa ‘Eh ini dokter nih, dokter yang mempromosikan ini pasti sumbernya kredibel’. Salah pahamnya di situ sih," lanjutnya.

kumparan post embed

Warga Cerita Sakit hingga Sulit Menelan

Drg. Aprillya Sakila menjelaskan soal apa yang terjadi pada gigi jika ditambal menggunakan tambalan sementara seperti yang sempat ramai di Threads, di Tangerang, Selasa (1/9/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Pengalaman serupa juga dialami warga bernama Nafilatul. Ia mengaku menggunakan bahan tambal gigi tersebut karena memiliki trauma untuk pergi ke dokter gigi.

Nafilatul kemudian mencari alternatif untuk menutup lubang pada giginya yang semakin besar. Ia menemukan produk tambal gigi melalui mesin pencarian dan platform e-commerce.

"Saya ada trauma untuk pergi ke dokter gigi. Akhirnya saya mencari alternatif lain bagaimana menutup lubang di gigi saya karena semakin besar, semakin besar," kata Nafilatul kepada kumparan, Selasa (1/9).

Ia semakin tertarik menggunakan produk tersebut setelah melihat banyak pembeli memberikan penilaian bagus. Nafilatul juga menemukan informasi bahwa bahan tersebut disebut direkomendasikan oleh dokter.

"Jadi saya klik, saya lihat, saya cari-cari informasi dan katanya direkomendasikan dokter dan bintangnya bagus dan pembelinya banyak. Dan saya pun mulai tertarik," ujarnya.

Nafilatul menganggap penggunaan bahan tersebut lebih cepat dan murah dibandingkan harus menjalani perawatan ke dokter gigi.

"Mengapa akhirnya saya memutuskan menggunakan itu karena itu efektif, lebih cepat, dan menurut saya juga aman," katanya.

Namun, setelah digunakan, Nafilatul mengalami kesulitan ketika hendak melepas bahan tersebut. Beberapa waktu kemudian, ia merasakan sakit dan kaku pada bagian leher hingga kesulitan menoleh dan menelan.

"Semakin hari kok leher saya semakin sakit, buat pusing, berat, leher juga rasanya kaku, tidak bisa menelan. Akhirnya saya ke UGD," tuturnya.

Di UGD, Nafilatul sempat diduga mengalami meningitis atau radang otot. Setelah menjalani pemeriksaan lanjutan di puskesmas, ia dinyatakan mengalami radang otot.

Setelah kondisinya membaik, Nafilatul mendatangi poli gigi untuk melepas bahan tersebut. Prosesnya cukup sulit karena bahan harus dibor hingga akhirnya dapat dikeluarkan dan dibersihkan.

Ia kemudian menjalani enam kali kontrol gigi hingga lubang pada giginya dapat ditangani. Pengalaman tersebut membuat Nafilatul kapok dan mulai berani memeriksakan gigi secara rutin.

"Saya sudah kapok banget sama rasa sakitnya itu rasanya kayak leher ini rasanya panas, nyeri, sampai di kepala. Makanya saya ya udahlah daripada saya kesakitan terus di rumah, berlarut-larut saya mau berobat lagi," katanya.

kumparan post embed

Dokter Minta Pasien Tak Takut Berobat

kondisi tambalan gigi yang dibeli sendiri via online. Foto: Dok. Threads @ikaputrys

Sakila memahami trauma terhadap dokter gigi dapat membuat seseorang enggan menjalani perawatan. Namun, ia meminta pasien tidak menyerah ketika merasa tidak cocok dengan seorang dokter.

"Memang dokter itu kan cocok-cocokan ya. Kita mencari pengobatan itu juga cocok-cocokan, entah cocok-cocokan treatment plan-nya, cocok dengan dokternya atau tidak, komunikasinya cocok atau tidak," kata Sakila.

Menurutnya, pasien yang memiliki trauma dapat mencari dokter gigi lain yang dirasa lebih nyaman, baik dari sisi komunikasi maupun rencana perawatan.

"Jadi memang jangan begitu bertemu satu dokter gigi dan kamu enggak cocok jangan berputus asa, coba cari lagi yang sekiranya memang komunikasinya dan treatment plan-nya bisa kamu terima," ujarnya.

Sakila menegaskan masalah pada rongga mulut tetap sebaiknya ditangani tenaga profesional.

"Jadi tetap apa pun masalah kamu yang ada di dalam rongga mulut jangan datang ke mana-mana selain dokter gigi," katanya.

Ia juga meminta masyarakat yang telanjur menggunakan bahan tambal gigi tersebut segera mendapatkan penanganan dokter.

"Saran saya jangan coba-coba untuk kesehatan kita. Jangan memilih treatment yang tidak baik untuk diri kita. Baiknya memang kalau misalnya ada masalah dalam rongga mulut datanglah ke yang pihak profesionalnya yaitu dokter gigi," tutur Sakila.

"Dan yang udah telanjur pakai, segeralah diambil. Karena mungkin sekarang belum ada rasa sakit, belum ada efek samping yang kamu rasakan, cuma suatu hari nanti kita enggak tahu itu kapan, barangkali memang kita lagi tidak beruntung hari itu, akan terjadi bengkak dan sakit yang tidak kita inginkan, bahkan terjadi hal-hal yang lebih berat yang sangat tidak kita inginkan," pungkasnya.