Pilu Bayi 24 Hari Meninggal usai Diberi Telur Mentah

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bayi. Foto: banjongseal324SS/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bayi. Foto: banjongseal324SS/Shutterstock

Bayi perempuan bernama Alena meninggal dunia pada Minggu (11/10) di RSUD dr Soetomo Surabaya setelah menjalani perawatan intensif. Ia disebut sempat diberi telur mentah oleh neneknya untuk meredakan demam. Kasus ini viral di media sosial dan kini ditelusuri Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo. Penyebab kematiannya belum dipastikan secara medis.

Kabar duka ini pertama beredar lewat akun Threads @calisthaarisha yang mengaku sebagai tante Alena. Akun itu menyebut Alena kritis setelah diberi telur mentah oleh neneknya sendiri dengan alasan menurunkan demam.

Kepala Bagian Umum RSUD dr Soetomo, Robeth Jabbar, membenarkan kematian bayi berusia 28 hari tersebut. Alena dinyatakan meninggal sekitar pukul 07.10 WIB.

"Pasien tersebut memang benar sempat dirawat di RSDS dan tim medis telah memberikan upaya penanganan maksimal sesuai standar pelayanan dan kebutuhan pasien," ujar Robeth.

Dinkes Sidoarjo Telusuri Kasus

Ilustrasi bintik hitam di kuning telur. Foto: Shutterstock

Kepala Dinkes Sidoarjo, Lakhsmie Herawati Yuwantina, mengatakan laporan kasus ini baru masuk ke Dinkes pada Senin (12/10). Dari penelusuran awal, bayi itu sempat ditangani di salah satu rumah sakit di Sidoarjo, lalu dirujuk ke RSUD dr Soetomo karena kondisinya memburuk.

Dinkes belum bisa membeberkan hasil koordinasi dengan Dinkes Kota Surabaya dan RSUD dr Soetomo.

"Semua jawaban belum ada. Masih proses telusur," tegas Lakhsmie.

kumparan post embed

Risiko Telur Mentah untuk Bayi

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan, telur mentah atau setengah matang berisiko mengandung bakteri Salmonella. Bakteri ini dapat memicu salmonellosis dengan gejala diare, demam, muntah, dan dehidrasi, bahkan komplikasi serius pada kondisi tertentu. Gejala muncul sekitar 12-72 jam setelah makanan terkontaminasi dikonsumsi. IDAI menyarankan telur dimasak hingga putih dan kuningnya mengeras.

Dokter spesialis anak dr Rendy Yoga Ardian mengingatkan hal serupa.

"Kalau untuk telur mentah, bisa jadi mengandung Salmonella. Jadi anak bisa gangguan pencernaan, seperti mual, muntah, diare," kata Rendy saat dihubungi, Senin (12/10).

Menurut Rendy, bayi baru lahir belum siap menerima makanan pendamping ASI (MPASI), apalagi makanan yang tidak matang.

"Jadi selain terlalu cepat, makanan yang diberikan juga tidak matang. Jadi sangat berisiko untuk infeksi," katanya.

kumparan post embed

Demam pada Bayi: Kapan Harus ke Dokter

Rendy menegaskan, bayi berusia kurang dari tiga bulan dengan suhu tubuh 38 derajat Celsius atau lebih perlu segera diperiksa karena berisiko mengalami infeksi serius. Orang tua juga harus segera mencari pertolongan medis jika bayi tampak lemas, sulit dibangunkan, tidak mau menyusu, atau sesak napas.

Untuk meredakan demam, ia menyarankan kompres hangat di kepala, leher, ketiak, dan selangkangan, serta memperbanyak pemberian ASI. Rendy juga menyinggung parasetamol tetes saat suhu mencapai 38 derajat Celsius. Namun, pemberian obat harus memperhatikan usia, berat badan, dosis, dan arahan tenaga medis, terutama pada bayi baru lahir.

Komisi IX Pertanyakan Peran Pemda

Wakil Ketua Komisi IX DPR Yahya Zaini. Foto: Dok. Istimewa

Wakil Ketua Komisi IX DPR Yahya Zaini menyampaikan duka cita dan keprihatinan. Ia menilai kasus ini menunjukkan kurangnya perhatian pemerintah dalam mengedukasi masyarakat soal perawatan bayi. Yahya juga mengaitkannya dengan masih tingginya angka kemiskinan.

"Yang paling menyedihkan kasus tersebut terjadi di kota besar seperti Surabaya. Ke mana peran pemda selama ini dalam mengedukasi warga masyarakat. Seharusnya Surabaya posyandunya sudah lengkap, puskesmasnya lengkap, pustunya juga lengkap," kata Yahya.

kumparan post embed