Pilu Sopir Truk di Bali Dibakar Bos Hidup-hidup Gegara Uang Setoran

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kobaran api. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kobaran api. Foto: Shutterstock

Nasib pilu dialami IGS (20), sopir truk di Karangasem, Bali. Ia dibakar hidup-hidup oleh bosnya, IPCP (37), diduga karena masalah uang setoran.

Peristiwa itu terjadi pada Jumat (18/9) sekitar pukul 11.30 WITA di rumah IGS yang berada di Banjar Dinas Susut, Desa Muncan, Selat, Karangasem.

Kasus tersebut kemudian berkembang. IGS yang semula mendapat perawatan di RSUD Karangasem harus dirujuk ke RSUP Prof. Ngoerah Denpasar karena mengalami luka bakar hingga 68 persen. Sementara itu, IPCP telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Rutan Polres Karangasem.

Berikut rangkuman kasus sopir truk yang dibakar bosnya tersebut:

Sopir Dibakar karena Diduga Tunggak Setoran Rp 8,5 Juta

Polisi mengamankan tempat kejadian perkara pembakaran sopir berinisial IGS (20) oleh bosnya yang berinisial IPCP (37) di Banjar Dinas Susut, Desa Muncan, Selat, Karangasem, Jumat (18/9/2026) siang. Foto: Dok. Polres Karangasem

Kasus bermula ketika IPCP mendatangi rumah IGS untuk menanyakan uang setoran. Saat itu, IGS sedang beristirahat di kamar karena sebelumnya tidak bekerja selama dua hari akibat sakit.

IPCP kemudian masuk ke kamar IGS. Keduanya diduga terlibat cekcok terkait uang setoran.

“Diduga karena korban menunggak setoran sebanyak Rp 8,5 juta kepada pelaku. Korban bekerja sebagai sopir truk milik pelaku,” ungkap Kasi Humas Polres Karangasem, Ipda I Nengah Artono, dalam keterangannya pada Jumat (18/9).

Menurut polisi, uang setoran yang diberikan IGS jauh dari jumlah Rp 8,5 juta. IGS sebelumnya menyampaikan dirinya tidak bekerja selama dua hari karena sakit.

Tidak lama setelah cekcok tersebut, kobaran api muncul dari kamar IGS. Polisi menduga IPCP menyiram korban dengan bensin jenis Pertalite lalu membakarnya.

kumparan post embed

IGS kemudian berlari keluar rumah dalam kondisi tubuh terbakar. Warga membantu memadamkan api sebelum korban dibawa ke Puskesmas Selat. Ia kemudian dirujuk ke RSUD Karangasem.

Luka Bakar Korban Mencapai 68 Persen

Kondisi korban kasus pembakaran sopir truk galian. Foto: Dok. Satreskrim Polres Karangasem

Kondisi IGS kemudian diketahui lebih serius. Setelah menjalani perawatan di RSUD Karangasem, IGS dirujuk ke RSUP Prof. Ngoerah Denpasar.

IGS tiba di rumah sakit tersebut pada Jumat (18/9) pukul 19.00 WITA. Dokter menyebut luka bakar yang dialami IGS mencapai 68 persen.

Kepala Instalasi Rawat Intensif RSUP Prof. Ngoerah, I Putu Kurniyanta, mengatakan sejumlah tindakan medis telah dilakukan, mulai dari pembersihan luka, pengamanan jalan napas, pemberian cairan, hingga pertolongan pertama.

“Rawat luka seluruh tubuh, yang mana cukup luas juga luka bakarnya yaitu kurang lebih sekitar 68 persen. Hari keempat ini masih kami lakukan stabilisasi untuk memulihkan proses-proses dalam tubuhnya dan mencegah infeksi di kemudian hari,” kata Kurniyanta ketika ditemui wartawan di Instalasi Luka Bakar RSUP Prof. Ngoerah, Selasa (22/9).

Dokter juga mencurigai IGS mengalami trauma inhalasi akibat menghirup uap panas. Karena itu, pernapasannya masih harus dibantu dengan alat.

Dokter I Putu Kurniyanta (kiri) dan Dokter Agus Roy Rusly Hariantana Hamid (kanan) memberikan keterangan mengenai kondisi sopir yang dibakar hidup-hidup oleh bosnya, Selasa (22/9/2026). Foto: Sandra Gisela/kumparan

Dokter spesialis bedah plastik, Agus Roy Rusly Hariantana Hamid, mengatakan luka bakar IGS dominan berada di bagian dada atau toraks dan melingkar hingga bagian belakang. Luka tersebut juga cukup dalam, yakni derajat 2B hingga derajat 3.

“Kalau dilihat dari gambaran klinis, kami melakukan perawatan luka kemarin itu bajunya sepertinya masih menempel pada saat luka bakar. Luka bakarnya cukup dalam, dari derajat 2B sampai derajat 3,” jelasnya.

Saat ini, IGS masih dalam kondisi tidak sadar. Dokter juga menemukan sisa jelaga atau asap yang masuk ke paru-paru korban.

“Jeratan luka bakar itu seperti diikat dengan tali di dada yang membuat pasien sulit bernapas. Ini sampai melingkar, sehingga benar-benar dijepit jaringan di dalamnya untuk bernapas,” ujar Roy.

IGS diperkirakan masih harus menjalani sejumlah tindakan operasi. Jika kondisinya membaik, dokter akan mengambil tandur kulit dari paha korban untuk membantu proses penyembuhan.

“Luka bakar yang lebih dari 40 persen, ditambah dengan adanya trauma inhalasi, itu risiko kematiannya lebih tinggi 300 kali lipat, secara teori dan jurnal,” imbuhnya.

kumparan post embed

IGS Jadi Tulang Punggung Keluarga

Paman sopir yang dibakar hidup-hidup, I Nengah Sridana (kiri) dan ibu korban, Ni Nyoman Sri Maryati (kanan) ketika diwawancarai di Instalasi Luka Bakar RSUP Prof. Ngoerah, Selasa (22/9/2026). Foto: Sandra Gisela/kumparan

Di tengah kondisi IGS yang masih kritis, keluarga juga menghadapi persoalan lain. Pemuda berusia 20 tahun tersebut selama ini menjadi tulang punggung keluarga.

Paman IGS, I Nengah Sridana, mengatakan IGS merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Kedua orang tua IGS bekerja sebagai petani.

Pekerjaan IGS sebagai sopir truk milik IPCP menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga.

“Jadi untuk biaya, pasti kurang banyak. Keluarga tidak berada, enggak bisa buat berobat. Ini juga mengandalkan donasi dari teman-teman,” kata Sridana yang mendampingi ibu IGS, Ni Komang Sri Maryati, di Instalasi Luka Bakar, RSUP Prof. Ngoerah Denpasar, Selasa (22/9).

Menurut Sridana, IGS memang tidak masuk kerja selama dua hari sebelum kejadian karena sakit. IGS juga disebut tidak pernah menceritakan persoalan setoran kepada keluarganya.

“Saat itu korban lagi sakit, panas dan kepalanya sakit. Itu setoran selama 15 hari. Namun, saya tidak mengetahui persisnya karena korban juga enggak pernah cerita masalah ini. Ke orang tua juga tidak pernah karena dia tertutup orangnya,” jelasnya.

Tempat kejadian perkara dalam kasus pembakaran sopir truk galian. Foto: Dok. Satreskrim Polres Karangasem

Kondisi IGS membuat keluarga harus memikirkan biaya pengobatan. Sridana menyebut biaya perawatan korban sudah mencapai Rp 63 juta hingga Selasa (22/9). Biaya pengobatan tidak ditanggung BPJS karena IGS merupakan korban tindak kriminal.

“Karena termasuk kriminal, enggak ditanggung. Status pasien untuk sekarang umum. Per hari ini, dari mulai masuk sampai hari ini, rincian Rp 63 juta total pengeluaran,” ungkapnya.

Keluarga pelaku juga sempat meminta agar keluarga korban mencabut laporan dan mengajukan penangguhan penahanan. Namun, permintaan itu ditolak karena IGS masih menjalani perawatan intensif.

kumparan post embed

Bos IGS Jadi Tersangka

Polisi menangkap IPCP sebagai tersangka kasus pembakaran sopir truk galian di Karangasem. Foto: Dok. Satreskrim Polres Karangasem

Terkait kasus ini, IPCP telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Karangasem.

“Untuk pelaku, berdasarkan dua alat bukti, sudah ditetapkan sebagai tersangka dan dilakukan penahanan di Rutan Polres Karangasem,” ujar Kasi Humas Polres Karangasem, Ipda I Nengah Artono, ketika dikonfirmasi pada Selasa (22/9).

Dari pendalaman awal polisi, dugaan motif pembakaran berkaitan dengan persoalan uang hasil pekerjaan dan modal usaha.

“Korban IGS diketahui bekerja sebagai sopir truk milik terduga pelaku dan diduga belum menyerahkan uang hasil kerja serta uang modal dengan total sekitar Rp 8,5 juta,” ungkap Nengah.

IPCP disangkakan dengan Pasal 467 ayat (2) subsider Pasal 466 ayat (2) KUHP tentang penganiayaan berencana yang mengakibatkan luka berat. Dalam persangkaan pasal tersebut, IPCP terancam hukuman pidana penjara paling lama 7 tahun.

kumparan post embed