Populer: Teddy Sebut Investasi Masuk Rp 2.430 T; SBY Minta RI Bijak Pakai Uang
ยทwaktu baca 3 menit

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya yang menyebut investasi masuk ke Indonesia Rp 2.430 triliun saat menanggapi kritik dari Dino Patti Djalal menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Selasa (2/6).
Selain itu, ucapan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menyebut Indonesia harus bijak dalam menggunakan uang juga menjadi sorotan. Berikut rangkumannya, Rabu (2/6).
Seskab Teddy soal Prabowo Sering ke Luar Negeri: Investasi Masuk Rp 2.430 T
Seskab Teddy mengungkapkan kunjungan Presiden ke luar negeri selama 1,5 tahun menjabat telah menghasilkan komitmen investasi senilai Rp 2.430 triliun. Angka fantastis ini, yang disebut berasal dari data Kementerian Investasi dan Hilirisasi (BKPM), membantah kritik mengenai frekuensi lawatan yang dianggap terlalu sering. Teddy menekankan bahwa perjalanan tersebut adalah upaya strategis untuk menarik modal dan memperkuat posisi ekonomi Indonesia di kancah global.
Hasil konkret dari lawatan tersebut termasuk masuknya Indonesia dalam keanggotaan BRICS, yang berimplikasi pada keamanan stok energi dan pangan. Selain itu, Indonesia berhasil meneken perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa, memungkinkan barang ekspor Indonesia tidak dikenakan tarif impor atau 0 persen oleh 25 negara anggota. Hal ini secara signifikan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar Eropa.
Kunjungan ke Korea Selatan dan Jepang bulan lalu bahkan disebut membawa investasi langsung sekitar Rp 575 triliun, menunjukkan potensi besar dari diplomasi ekonomi.
Teddy menjelaskan lawatan ini krusial mengingat Presiden mulai menjabat saat dunia dihadapkan pada berbagai krisis geopolitik dan ekonomi. Membangun hubungan baik dengan pemimpin dunia menjadi penting untuk memanen dukungan dan bantuan saat krisis. Hal ini menegaskan diplomasi bukan sekadar seremonial, tetapi instrumen vital dalam menjaga stabilitas ekonomi dan politik Indonesia di tengah ketidakpastian global yang dinamis.
SBY: Banyak Negara Berkembang Habiskan Uang untuk Bayar Utang, RI Harus Bijak
Presiden ke-6 RI, SBY, menyoroti fragmentasi perekonomian global yang menyebabkan banyak negara berkembang kini lebih banyak menghabiskan anggaran untuk pembayaran utang. Situasi ini terjadi di tengah peningkatan kebutuhan pembiayaan vital, seperti untuk sektor kesehatan, pendidikan, infrastruktur, transisi energi, dan adaptasi iklim. Geopolitik kini menjadi pendorong utama perdagangan, bukan lagi hanya efisiensi, sementara teknologi berkembang menjadi arena persaingan yang ketat, memperparah tekanan pada keuangan publik.
Dalam menghadapi tantangan ekonomi global ini, SBY menekankan pentingnya bagi Indonesia untuk bersikap bijaksana dan merancang strategi pembangunannya sendiri. Menurutnya, Indonesia tidak bisa sekadar meniru jalur yang ditempuh negara maju. Strategi pembangunan harus berakar pada kepentingan nasional, meskipun tetap terbuka terhadap dunia, untuk memastikan keberlanjutan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.
Lebih lanjut, SBY menggarisbawahi perlunya Indonesia untuk tetap berorientasi pada pasar tetapi dengan tanggung jawab sosial yang kuat. Pertumbuhan ekonomi harus berkelanjutan secara lingkungan, dan kemajuan digital harus tetap berpusat pada manusia. Pendekatan ini merupakan esensi dari pembangunan berkelanjutan yang akan memungkinkan Indonesia untuk tumbuh secara stabil dan merata di tengah kondisi global yang penuh tantangan.
