Seminar Nasional UNIROW, Wamensos Soroti Peran Strategis Perguruan Tinggi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wamensos Agus Jabo Priyono tegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam pengentasan kemiskinan dan pemutusan rantai kemiskinan antargenerasi saat jadi narasumber Seminar Nasional UNIROW di Tuban secara daring dari Jakarta, Kamis (27/8/2026). Foto: Kemensos RI
zoom-in-whitePerbesar
Wamensos Agus Jabo Priyono tegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam pengentasan kemiskinan dan pemutusan rantai kemiskinan antargenerasi saat jadi narasumber Seminar Nasional UNIROW di Tuban secara daring dari Jakarta, Kamis (27/8/2026). Foto: Kemensos RI

Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam pengentasan kemiskinan melalui pengembangan ilmu pengetahuan, riset, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Agus Jabo saat menjadi narasumber Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat XI (SNasPPM XI) Universitas PGRI Ronggolawe (UNIROW) dengan tema “Peran Strategis Pendidikan Tinggi untuk Membangun Generasi Tangguh Menuju Indonesia Emas 2045”. Seminar digelar secara hybrid dari Aula Lantai II UNIROW, Tuban, dengan Wamensos Agus Jabo mengikuti kegiatan secara daring dari kantor Kementerian Sosial di Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Menurut Agus Jabo, pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan upaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan pendapatan, tetapi juga akses terhadap pendidikan, kesehatan, gizi, keterampilan, modal, serta kesempatan kerja.

“Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah. Pendidikan adalah alat perjuangan sosial, alat mobilisasi sosial, dan alat pembebasan manusia dari kemiskinan dan keterbelakangan,” ujar Agus Jabo.

Wamensos Agus Jabo Priyono tegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam pengentasan kemiskinan dan pemutusan rantai kemiskinan antargenerasi saat jadi narasumber Seminar Nasional UNIROW di Tuban secara daring dari Jakarta, Kamis (27/8/2026). Foto: Kemensos RI

Dalam konteks tersebut, ia menjelaskan Sekolah Rakyat sebagai salah satu upaya pemerintah memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan. Menurutnya, Sekolah Rakyat bukan sekadar penyediaan ruang kelas dan asrama, tetapi bagian dari perjuangan memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan.

“Sekolah Rakyat bukan sekadar sekolah. Sekolah Rakyat adalah gerakan sosial, gerakan pembebasan melawan kemiskinan, gerakan untuk memuliakan rakyat, dan gerakan untuk membuka jalan bagi anak-anak dari keluarga miskin,” katanya.

Agus Jabo menilai perguruan tinggi perlu mengambil peran lebih jauh dengan memastikan ilmu pengetahuan dan riset memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Ilmu pengetahuan tidak boleh hanya berputar di ruang seminar, riset tidak boleh hanya berhenti di jurnal, mahasiswa tidak boleh hanya mengejar nilai, dosen tidak boleh hanya mengejar publikasi. Karena ilmu pengetahuan yang tidak menyentuh persoalan rakyat akan kehilangan sebagian dari maknanya,” tegasnya.

Ia mendorong kampus mengukur keberhasilan tidak hanya dari jumlah lulusan atau publikasi penelitian, tetapi juga dari perubahan yang dihasilkan bagi masyarakat.

Wamensos Agus Jabo Priyono tegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam pengentasan kemiskinan dan pemutusan rantai kemiskinan antargenerasi saat jadi narasumber Seminar Nasional UNIROW di Tuban secara daring dari Jakarta, Kamis (27/8/2026). Foto: Kemensos RI

“Jangan hanya bertanya berapa banyak penelitian yang kita publikasikan, tetapi tanyakanlah berapa banyak petani, nelayan, UMKM, dan masyarakat miskin yang produktivitasnya meningkat karena dukungan dari kampus dan lulusan-lulusan perguruan tinggi,” ujarnya.

Menurut Agus Jabo, kolaborasi antara Kemensos dan perguruan tinggi dapat diarahkan pada pemberdayaan masyarakat. Kemensos memiliki sasaran program, pendamping sosial, sentra, dan berbagai instrumen layanan sosial, sementara perguruan tinggi memiliki ilmu pengetahuan, dosen, mahasiswa, laboratorium, riset, dan inovasi.

“Kalau kekuatan ini kita gabungkan, kita bisa melakukan sesuatu yang jauh lebih besar. Kemensos membawa persoalan nyata, kampus membawa ilmu pengetahuan, dunia usaha membawa modal dan pasar, pemerintah daerah membawa potensi wilayah, masyarakat akan menjadi pelaku utamanya. Inilah yang saya sebut sebagai ekosistem pemberdayaan masyarakat,” jelasnya.

Ia menegaskan perlindungan sosial tetap dibutuhkan bagi masyarakat yang menghadapi krisis dan membutuhkan bantuan. Namun, intervensi sosial perlu diarahkan hingga masyarakat mampu mandiri.

“Tugas kita bukan membuat masyarakat harus menunggu bantuan sosial. Tugas kita adalah membuat masyarakat bisa berdaya dan mandiri, hidup sejahtera,” kata Agus Jabo.

Karena itu, Kemensos mendorong pendekatan pemberdayaan ekonomi yang menggabungkan kewirausahaan, bantuan modal, dan pelatihan keterampilan. Menurut Agus Jabo, perguruan tinggi dapat berkolaborasi melalui pendampingan berkelanjutan, mulai dari asesmen, pelatihan, praktik, akses modal dan pasar, pengembangan usaha, hingga evaluasi dan graduasi.

Ia juga mengajak perguruan tinggi membangun gerakan “Kampus Berdaya Menuju Masyarakat Mandiri”, antara lain melalui desa binaan, UMKM binaan, laboratorium kewirausahaan sosial, serta program pemberdayaan yang melibatkan mahasiswa secara langsung.

“Bukan berapa banyak kegiatan yang kita lakukan, tetapi berapa banyak pendapatan masyarakat meningkat, berapa banyak usaha tumbuh, berapa banyak lapangan kerja kita ciptakan, berapa banyak keluarga keluar dari kemiskinan, dan berapa keluarga yang sudah berdaya dan mandiri,” tegasnya.

Wamensos Agus Jabo Priyono tegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam pengentasan kemiskinan dan pemutusan rantai kemiskinan antargenerasi saat jadi narasumber Seminar Nasional UNIROW di Tuban secara daring dari Jakarta, Kamis (27/8/2026). Foto: Kemensos RI

Agus Jabo berharap perguruan tinggi dapat melahirkan generasi yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga produktif, berkarakter, kreatif, dan memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

“Dari kampus kita bangun ilmu, dari ilmu kita bangun inovasi, dari inovasi kita bangun produksi, dari produksi kita bangun kemandirian dan kesejahteraan. Dan dari kesejahteraan rakyat, kita bangun Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.