Wamensos Agus Jabo: Wali Asuh & Asrama Ujung Tombak Karakter Siswa

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono sebut wali asuh dan wali asrama sebagai ujung tombak pembentukan karakter siswa Sekolah Rakyat saat tutup pelatihan di Yogyakarta, Sabtu (26/9/2026).  Foto: Dok. Kemensos
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono sebut wali asuh dan wali asrama sebagai ujung tombak pembentukan karakter siswa Sekolah Rakyat saat tutup pelatihan di Yogyakarta, Sabtu (26/9/2026). Foto: Dok. Kemensos

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menegaskan wali asuh dan wali asrama merupakan ujung tombak dalam membangun karakter siswa Sekolah Rakyat.

Pendampingan terhadap siswa perlu dilakukan dengan pendekatan yang tidak hanya formal, tetapi juga mengedepankan empati, perhatian, dan kasih sayang.

Agus Jabo mengungkapkan hal tersebut saat menutup Pelatihan Pengasuhan bagi Wali Asuh Sekolah Rakyat dan Pelatihan Pengelolaan Asrama bagi Wali Asrama Sekolah Rakyat di Yogyakarta, Sabtu (26/9/2026).

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono sebut wali asuh dan wali asrama sebagai ujung tombak pembentukan karakter siswa Sekolah Rakyat saat tutup pelatihan di Yogyakarta, Sabtu (26/9/2026). Foto: Dok. Kemensos

“Wali asuh dan wali asrama adalah ujung tombak dalam membangun karakter anak-anak di Sekolah Rakyat. Saya titip mereka, antarkan mereka, bangun karakter mereka, karena potensi mereka sama dengan anak-anak yang lain, hanya latar belakangnya yang berbeda,” ujarnya.

Pelatihan yang berlangsung pada 22–26 September 2026 di Yogyakarta tersebut diikuti 200 peserta dari Sekolah Rakyat yang masuk dalam lingkup Regional Yogyakarta, terdiri atas 160 wali asuh dan 40 wali asrama.

Agus Jabo menambahkan, siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga dengan latar belakang sosial dan ekonomi yang beragam. Kondisi tersebut perlu dipahami para pendamping agar proses pengasuhan tidak hanya berorientasi pada kedisiplinan dan aturan, tetapi juga mampu merespons kebutuhan setiap anak.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono sebut wali asuh dan wali asrama sebagai ujung tombak pembentukan karakter siswa Sekolah Rakyat saat tutup pelatihan di Yogyakarta, Sabtu (26/9/2026). Foto: Dok. Kemensos

“Anak-anak ini pada dasarnya membutuhkan perhatian dari kita, pendampingan dari kita, kasih sayang dari kita. Karena itu, saya mohon para pendamping betul-betul memahami anak-anak, tidak hanya secara kolektif, tetapi juga secara individual,” katanya.

Menurut Agus Jabo, pendekatan yang mengedepankan empati menjadi penting karena persoalan yang dihadapi siswa dapat berkaitan dengan kondisi keluarga, ekonomi, kesehatan, maupun lingkungan sosial.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono sebut wali asuh dan wali asrama sebagai ujung tombak pembentukan karakter siswa Sekolah Rakyat saat tutup pelatihan di Yogyakarta, Sabtu (26/9/2026). Foto: Dok. Kemensos

Ia meminta para wali asuh dan wali asrama tidak terburu-buru melihat perilaku siswa hanya dari sisi formal. Setiap perilaku perlu dipahami dengan melihat latar belakang dan kebutuhan anak.

“Kalau menggunakan logika formal, kebutuhan mereka akan terasa berat. Tetapi kalau kita menggunakan hati, kita bisa memahami bahwa mereka membutuhkan perhatian, pendampingan, dan kasih sayang,” ujarnya.

Pesan tersebut dapat ditangkap dengan baik oleh Baiq Windra Ishanda, salah satu peserta pelatihan dari Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 38 Lombok Timur.

Menurutnya, pelatihan memberikan pemahaman bahwa peran wali asuh dan wali asrama tidak sebatas mendampingi siswa dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, tetapi juga menghadirkan sosok pengasuh yang dapat menjadi tempat bagi siswa untuk berbagi dan mendapatkan keteladanan.

“Setelah mengikuti pelatihan, saya semakin memahami bahwa menjadi wali asuh dan wali asrama bukan hanya sebagai pendamping. Kami hadir sebagai ibu dan bapak bagi anak-anak, menjadi rumah kedua bagi mereka,” ujar Baiq.

Ia mengatakan, pelatihan juga menumbuhkan kesadaran bagi wali asuh dan wali asrama bahwa ketegasan dalam mendampingi siswa perlu diimbangi dengan keteladanan dan kedisiplinan yang dimulai dari diri sendiri.

“Pelatihan ini mengajarkan keteguhan, kesadaran, dan kedisiplinan dari diri sendiri agar bisa kami implementasikan di Sekolah Rakyat masing-masing,” katanya.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono sebut wali asuh dan wali asrama sebagai ujung tombak pembentukan karakter siswa Sekolah Rakyat saat tutup pelatihan di Yogyakarta, Sabtu (26/9/2026). Foto: Dok. Kemensos

Agus Jabo menambahkan, pendidikan di Sekolah Rakyat tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik. Pembangunan karakter menjadi bagian penting agar siswa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan mampu berdaya di masa depan.

Wali asuh dan wali asrama memiliki peran strategis karena pendampingan dilakukan tidak hanya selama proses pembelajaran di kelas, tetapi juga dalam kehidupan siswa sehari-hari di lingkungan sekolah dan asrama.

“Yang bertugas membangun karakter di luar jam belajar di kelas adalah wali asuh dan wali asrama. Tujuannya adalah agar anak-anak menjadi pintar, berkarakter, dan mandiri,” katanya.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono sebut wali asuh dan wali asrama sebagai ujung tombak pembentukan karakter siswa Sekolah Rakyat saat tutup pelatihan di Yogyakarta, Sabtu (26/9/2026). Foto: Dok. Kemensos

Lebih lanjut, Agus Jabo menekankan pentingnya keberlanjutan pendampingan hingga siswa menyelesaikan pendidikan. Kementerian Social tidak hanya memastikan anak-anak dari keluarga miskin mendapatkan akses pendidikan, tetapi juga mendorong agar setelah lulus mereka memiliki pilihan untuk melanjutkan pendidikan, bekerja, atau berusaha sesuai minat dan potensinya.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono sebut wali asuh dan wali asrama sebagai ujung tombak pembentukan karakter siswa Sekolah Rakyat saat tutup pelatihan di Yogyakarta, Sabtu (26/9/2026). Foto: Dok. Kemensos

Ia berharap wali asrama dan wali asuh yang menjadi peserta pelatihan dapat menerapkan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan dalam menjalankan tugas di Sekolah Rakyat.

“Potensi mereka sama dengan anak-anak yang lain, cuma latar belakangnya yang berbeda. Tugas kalian menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang besar,” pungkasnya.