Konten dari Pengguna

Uang Makin Mudah Dibayar, Tapi Kenapa Menabung Masih Terasa Sulit?

Tiya Rejeki

Tiya Rejeki

Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tiya Rejeki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi AI Generated
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI Generated

Di tengah kehidupan yang serba digital, mengeluarkan uang sekarang terasa jauh lebih mudah dibanding beberapa tahun lalu. Kita tidak perlu membawa uang tunai atau pergi ke ATM untuk membeli makanan, membayar transportasi, sampai berbelanja. Cukup membuka ponsel, memindai QRIS, dan transaksi selesai dalam hitungan detik. Kemudahan ini tentu membawa banyak manfaat, tetapi ada satu pertanyaan yang menarik: kalau membayar semakin mudah, apakah mengatur uang juga ikut menjadi lebih mudah?

Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa transaksi ekonomi dan keuangan digital terus berkembang. Pada triwulan II 2026, volume transaksi pembayaran digital mencapai 16,07 miliar transaksi dan tumbuh 36,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Transaksi QRIS juga tumbuh 100,12 persen secara tahunan. Angka tersebut menunjukkan bahwa pembayaran digital sudah semakin dekat dengan aktivitas sehari-hari masyarakat. (Bank Indonesia, 2026)

Masalahnya, kemudahan dalam membayar tidak otomatis membuat seseorang lebih disiplin dalam mengelola keuangan. Justru karena transaksi menjadi cepat dan praktis, pengeluaran kecil bisa terasa tidak terlalu berarti. Membeli minuman, makanan lewat aplikasi, ongkos perjalanan, atau sekadar checkout barang yang sedang diskon mungkin terlihat sebagai pengeluaran biasa. Namun, ketika dilakukan berkali-kali dalam satu bulan, jumlahnya bisa menjadi cukup besar.

Di sinilah persoalan pengelolaan keuangan menjadi menarik. Menurut saya, tantangan keuangan pada era digital bukan hanya soal berapa besar pendapatan seseorang, tetapi juga bagaimana seseorang mengambil keputusan ketika uang dapat digunakan dengan sangat mudah. Dulu, mengeluarkan uang mungkin membutuhkan proses yang lebih panjang. Sekarang, hambatan itu semakin kecil.

Kondisi ini juga perlu dilihat bersama dengan tingkat literasi keuangan masyarakat. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dilakukan OJK, LPS, dan BPS menunjukkan indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 69,57 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen. Artinya, akses masyarakat terhadap layanan keuangan sudah sangat luas, sementara tingkat pemahaman keuangannya masih berada di bawah angka inklusinya. (OJK, LPS, dan BPS, 2026)

Perbedaan tersebut tidak berarti bahwa masyarakat tidak mampu mengelola uang. Namun, angka itu menunjukkan bahwa akses terhadap produk dan layanan keuangan berkembang sangat cepat sehingga perlu diikuti pemahaman yang memadai. Memiliki rekening, dompet digital, atau akses pembayaran digital memang penting, tetapi pengguna juga perlu memahami konsekuensi dari setiap keputusan keuangannya.

Contoh sederhananya adalah kebiasaan menggunakan promo. Diskon sering membuat seseorang merasa sedang menghemat uang. Padahal, kalau barang tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan, membeli karena diskon tetap merupakan pengeluaran. Hal yang sama dapat terjadi ketika seseorang terlalu sering menggunakan layanan pembayaran digital. Karena tidak melihat uang berpindah secara fisik, pengeluaran terkadang terasa lebih ringan daripada kenyataannya.

Bukan berarti pembayaran digital harus dihindari. Justru, perkembangan teknologi keuangan memberikan banyak manfaat. Transaksi menjadi lebih cepat, pencatatan pengeluaran lebih mudah dilakukan, dan masyarakat memiliki semakin banyak pilihan dalam menggunakan layanan keuangan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan.

Menurut saya, salah satu kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan adalah membedakan antara uang yang boleh dibelanjakan dan uang yang harus disimpan. Ketika pendapatan diterima, sebagian uang dapat langsung dialokasikan untuk kebutuhan rutin dan tabungan sebelum digunakan untuk keperluan lainnya. Dengan cara tersebut, menabung tidak lagi bergantung pada sisa uang di akhir bulan.

Selain itu, mencatat pengeluaran juga tidak harus rumit. Pengguna bisa memanfaatkan catatan di ponsel atau aplikasi keuangan untuk melihat ke mana uangnya pergi. Dari sana, pengeluaran kecil yang selama ini dianggap sepele bisa terlihat secara lebih jelas. Kadang masalahnya bukan satu pengeluaran besar, tetapi banyak pengeluaran kecil yang terjadi tanpa disadari.

Perkembangan pembayaran digital pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang teknologi. Di balik transaksi yang cepat dan praktis, ada kebiasaan keuangan yang ikut berubah. Semakin mudah seseorang melakukan pembayaran, semakin penting pula kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum membeli dan mempertimbangkan apakah pengeluaran tersebut memang diperlukan.

Teknologi seharusnya membantu masyarakat mengelola keuangan, bukan membuat kita kehilangan kendali atas uang sendiri. Karena itu, ketika transaksi semakin mudah, kebiasaan mengatur uang juga perlu dibuat semakin sadar. Bukan berarti harus berhenti menikmati kemudahan teknologi, tetapi jangan sampai kemudahan membayar membuat kita lupa bahwa setiap transaksi tetap mengurangi saldo.