Pengalaman Saya Terjun di Dunia Event Organizer

Mahasiswa S1 Marketing Communication Universitas Bina Nusantara.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Bryan Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya lahir dari kedua orang tua yang sudah bergelut di dunia event. Ayah saya mempunyai usaha vendor dekorasi dan tenda sedangkan ibu saya menjalankan bisnis event dan wedding organizer. Saya mempunyai seorang saudara perempuan yang hanya berjarak dua tahun dengan umur saya. Dari kecil saya sudah terbiasa dengan kehidupan dan cerita event yang sudah diceritakan puluhan kali oleh kedua orang tua saya. Memasuki sekolah dasar ayah saya mulai mengajak dan memperkenalkan berbagai macam peralatan event yang dimilikinya. Ia merupakan orang dengan optimisme tinggi bahwa anaknya akan melanjutkan usahanya. Tidak jarang juga ayah saya mengajak saya untuk mengikuti beberapa event yang diselenggarakannya.
Jalan tidak selalu lurus, dalam sebuah bisnis ada saja pertikaian. Usaha tenda dan dekorasi yang dibangun oleh ayah saya dan temannya akhirnya harus berhenti karena satu dan lain hal. Saat itu saya masih duduk di bangku SMP, seperti anak pada umumnya yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi saya juga merasakannya. Di saat itu saya hanya merasakan bingung mengapa harus dihentikan padahal pekerjaan itu menyenangkan bagi saya yang hanya datang menikmati sebagai seorang anak kecil. Mulai dari saat itu saya bertekad untuk mengetahui lebih dalam mengenai industri event organizer ini.
Tahun demi tahun berlalu akhirnya saya mendapatkan KTP saat saya kelas 2 SMA. Menjelang libur panjang kenaikan kelas saya memutuskan untuk mencari kerja paruh waktu. Tujuan saya untuk mengisi waktu luang selama liburan kenaikan kelas. Yang terpikirkan oleh saya adalah bekerja di event Pekan Raya Jakarta. Selain banyak informasi mengenai kerja paruh waktu yang dilakukan anak sekolah saat liburan. Saya juga memiliki beberapa saudara yang sudah pernah bekerja di Pekan Raya Jakarta. Untuk pertama kalinya saya membuat riwayat hidup dan surat lamaran kerja. Untuk pertama kalinya juga saya melakukan wawancara kerja, sekalipun saya pernah melakukan wawancara untuk masuk OSIS menurut saya rasa geroginya tetap berbeda.
Tetapi memang semesta belum berpihak kepada saya. Setelah delapan percobaan wawancara yang saya lakukan tidak satupun panggilan yang datang. Berdasarkan informasi dari internet yang saya dapatkan tinggal beberapa hari lagi event akan dimulai dan tidak ada juga panggilan yang datang kepada saya. Tepat satu hari sebelum event berlangsung saya mendapatkan satu panggilan. Saya melihat ke ponsel ternyata itu adalah salah satu teman yang berkenalan dengan saya saat wawancara kerja tersebut. Saya baca pesan darinya ternyata menawarkan saya untuk bergabung dengan team kerja dia selama event di Pekan Raya Jakarta dan meminta saya untuk datang ke pelatihan hari itu juga. Tanpa berpikir panjang saya menyiapkan semua kebutuhan dan langsung berangkat untuk mengikuti pelatihan.
Saya datang saat mereka sedang mendapatkan pelatihan dan di saat itu juga saya mengetahui bahwa posisi yang ditawarkan untuk saya adalah sales promotion boy. Saya tidak peduli apa pun posisi yang diberikan tetapi yang saya pikirkan hanya bisa bekerja di event dan mengisi waktu selama liburan. Saat hari pertama event berjalan saya baru tahu dan merasakan bahwa sehari menjadi sales promotion boy sangat melelahkan. Saya merasakan sakit di seluruh kaki saya sampai ke punggung. Yang terpikirkan oleh saya mungkin memang seperti ini rasanya bekerja. Tetapi nasib baik selalu berpihak kepada orang baik. Team leader menawarkan saya untuk mengisi kekosongan di posisi data spesialis karena melihat latar belakang saya dengan kemampuan mengolah data yang baik. Saya merasa orang paling beruntung pada saat itu karena tidak harus berdiri seharian menawarkan brosur lagi.
Menjadi seorang data spesialis menurut saya merupakan hal yang mudah. Tugas saya mengatur keluar masuk barang dan juga mencatat segala macam yang berkaitan dengan data event tersebut. Sepanjang hari saya hanya duduk di depan laptop, menghabiskan makanan yang ada, dan menonton film sambil menunggu ada data baru yang harus saya masukan. Tidak terasa 40 hari event berjalan dan akhirnya selesai juga. Dengan pekerjaan yang sangat mudah dan ringan waktu terasa berjalan sangat cepat. Tepat setelah event telah selesai saya juga harus melanjutkan sekolah saya karena liburan juga sudah berakhir. Pada saat itu saya berpikir mau melanjutkan pekerjaan di industri event setelah lulus dari SMA.
Satu tahun berlalu selama kelas 3 SMA dan tujuan saya untuk melanjutkan bekerja di industri event semakin kuat. Saya memutuskan untuk menunda kuliah saya dan fokus menjadi pekerja event. Pekerjaan dan posisi di industri event saya jajaki satu persatu mulai dari Team Leader, Talent Coordinator, Project Officer, Project Manager, Liaison Officer, Show Management dan masih banyak lagi. Saya menikmati semua posisi yang saya dapatkan. Saya sering berpikir mungkin ini yang dinamakan bekerja sesuai dengan passion. Pada akhirnya setelah setahun menggeluti industri event sebagai seorang pekerja lepas, saya memutuskan untuk menetap di salah satu kantor Event Organizer dan Promotor Konser. Semua berjalan dengan sangat baik hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan saya jalani dengan berbagai macam project dan event. Tapi takdir berkata lain virus corona mulai menyebar di Indonesia. Semua event terpaksa harus ditiadakan dan diundur untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.
Masih jelas di ingatan saya di mana virus corona mulai menyebar di awal tahun. Padahal sebagai promotor konser musik awal tahun adalah waktu yang paling tepat untuk merencakan segala macam acara yang akan diadakan untuk setahun perjalanan. Pembayaran untuk lokasi acara dan talent sudah terlanjur dibayarkan dan tidak dapat ditarik kembali. Terpaksa untuk berpikir kreatif dan beradaptasi kami memutuskan untuk menggelar konser secara virtual. Tapi sayang usaha kami untuk beradaptasi tidak berjalan mulus, kerugian demi kerugian harus kami dapatkan. Pada akhirnya kas kantor tidak cukup untuk membiayai semua kerugian. Terjadilah hal yang tidak diinginkan oleh seluruh pegawai yaitu perampingan atau pemutusan hubungan kerja. Dalam pikiran saya akhirnya dapat juga bagian saya, dari total 80 pegawai saya menjadi 10 orang terakhir yang merasakan dampak tersebut. Pada akhirnya hanya tersisa 4 orang pegawai yang bertugas mengurus administrasi perkantoran.
Tidak pernah ada di pikiran saya bahwa segala hal yang saya cita-citakan dari masa kecil harus berhenti sejenak karena pandemi ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur, dibanding mengeluh dan menyerah dengan keadaan saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di salah satu universitas di Jakarta. Saya mencoba berbagai macam usaha yang bisa saya lakukan sembari menempuh pendidikan. Pada akhirnya saya menemukan satu usaha yang bisa saya bangun sedikit demi sedikit dan setidaknya bisa membantu saya membayar uang kuliah dan kebutuhan saya. Saya jadi teringat salah satu kutipan yang disampaikan oleh seorang Ali bin Abi Thalib. Semangat untuk terus berjuang dan jangan menyerah sampai batas akhir kawan.
Apabila sesuatu yang kau senangi tidak terjadi, maka senangilah apa yang terjadi
