Bijak Gunakan Media Sosial Sebagai Media Unjuk Rasa Untuk Pelajar

Siswa SMA Citra Berkat
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Bernadetha Agna Callysta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Aksi unjuk rasa kembali marak dilakukan oleh masyarakat akhir-akhir ini. Berbagai kalangan masyarakat mulai turun dan ikut serta dalam aksi demo ini, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga orang dewasa. Gerakan ini dilatarbelakangi oleh rasa ketidaksetaraan yang dirasakan rakyat. Unjuk rasa ini kemudian meledak setelah seorang pengemudi ojek online tewas dilindas rantis brimob. Respon dari pemerintah yang kurang tanggap membuat masyarakat semakin geram hingga melakukan aksi yang kelewat batas. Fasilitas umum mulai dirusak dan dibakar guna meluapkan rasa amarah kepada pemerintah.

Disisi lain, media sosial kini sangat ramai dengan berita terkait unjuk rasa. Pada saat ini mulai muncul oknum pemecah belah bangsa Indonesia yang menyebarkan berita palsu di internet. Diduga ada Influencer yang dibayar dengan sangat mahal oleh pihak tertentu untuk berbohong dan menyuarakan aksi damai palsu. Ketenaran yang dimilikinya memudahkan masyarakat untuk percaya. Lalu apakah kita harus percaya dengan semua pro dan kontra yang ada tanpa selektif dalam memilih berita?
Tentu saja kita tidak boleh asal dan sembarangan dalam mengonsumsi konten dari internet. Kebenaran sebuah konten tersebut harus kita cek berulang kali sebelum kita menyebarkannya ke orang lain. Dengan begitu, opini publik dapat terbentuk sesuai dengan fakta aslinya. Selain itu ada berbagai cara untuk menunjukan aksi unjuk rasa tanpa merugikan suatu apapun. Aksi damai yang tertib dan jujur justru dapat membawa manfaat bagi masyarakat itu sendiri.
Sebagai seorang pelajar, tentu kita harus memfokuskan kewajiban kita sebagai murid. Tapi di kondisi negara yang sedang kacau ini, murid juga ikut geram dan ingin menyuarakan pendapatnya. Saat ini kecanggihan dari media sosial sudah dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat. Tak harus ikut turun di jalan tapi kita bisa menyuarakan pendapat kita lewat media sosial. Salah satu caranya adalah kita dapat memposting konten edukatif dan kreatif. Agar informasi lebih mudah dipahami dan teruji kebenarannya, kita harus mencari tahu kebenarannya dan tidak asal memberikan pro dan kontra.
Selain itu kita dapat menyuarakan lewat fitur Instagram Story yang saat ini ramai digunakan oleh kaum Gen Z. Poster unik dan mudah digunakan menjadi daya tarik sendiri oleh kepribadian Gen Z yang serba praktis. Kita juga dapat membuat tagar atau hashtag untuk mengumpulkan suara bersama sehingga isu yang terjadi lebih dikenal oleh masyarakat secara luas. Dengan begitu penyampaian pendapat oleh pelajar tetap bisa tersuarakan dengan aman dan damai.
Sebagai pelajar, kita tetap bisa menyuarakan pendapat melalui media sosial dengan cara yang bijak tanpa harus turun ke jalan. Kuncinya adalah selektif dalam memilih informasi, selalu cek fakta agar terhindar dari hoaks, serta menyampaikan aspirasi lewat konten edukatif, kreatif, dan damai. Dengan begitu, kita dapat berkontribusi bagi bangsa sekaligus menjaga tanggung jawab utama sebagai seorang pelajar.
