Hari Ini Fenomena Astonomi Bulan Redup Bertepatan Masuk Malam 1 Ramadhan 1441 H

Traveller, Writter and Researcher in Geosciences IAGI-FGMI-MAGI Instagram @topanrmdhans
Tulisan dari Topan Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Republik Indonesia, menyatakan bahwa pada 23 April 2020 terjadi fenomena astronomi bulan baru. Fenomena ini terjadi akibat Bulan terletak di sisi Bumi yang sama dengan Matahari, sehingga tidak akan terlihat di malam hari.

Berdasarkan penjelasan lengkap dari LAPAN RI dalam unggahan nya di Akun Instagram @lapan_ri, menerangkan bahwa saat ini merupakan waktu terbaik dalam sebulan untuk mengamati benda-benda redup seperti galaksi dan gugusan bintang karena tidak ada cahaya bulan yang mengganggu.
Fase bulan tersebut bertepatan dengan kondisi bulan baru yang dijelaskan NASA pada situs Space.com. Bulan seperti Bumi adalah seperti bola dan selalu setengah diterangi oleh matahari. Saat bulan berjalan di sekitar Bumi, kita melihat kurang lebih setengahnya yang diterangi. Fase bulan menggambarkan seberapa banyak disk bulan diterangi dari perspektif kita. Kemudian itu fase bulan terdapat beberapa bagian di antaranya:
Bulan baru: Bulan berada di antara Bumi dan matahari, dan sisi bulan yang menghadap ke arah kita tidak menerima sinar matahari langsung; hanya diterangi oleh sinar matahari redup yang dipantulkan dari Bumi.
Lilin sabit: Saat bulan bergerak di sekitar Bumi, sisi yang bisa kita lihat secara bertahap menjadi lebih diterangi oleh sinar matahari langsung.
Kuartal pertama: Bulan berjarak 90 derajat dari matahari di langit dan setengah diterangi dari sudut pandang kami. Kami menyebutnya "kuartal pertama" karena bulan telah melakukan perjalanan sekitar seperempat jalan di sekitar Bumi sejak bulan baru.
Waxing owa: Lebih dari setengah wajah bulan tampak mendapat sinar matahari.
Bulan purnama: Bulan berjarak 180 derajat dari matahari dan sedekat mungkin dengan sinar matahari sepenuhnya dari sudut pandang kita. Matahari, Bumi, dan bulan sejajar, tetapi karena orbit bulan tidak persis berada di bidang yang sama dengan orbit Bumi di sekitar matahari, mereka jarang membentuk garis yang sempurna. Ketika mereka melakukannya, kita memiliki gerhana bulan saat bayangan bumi melintasi wajah bulan.
Waning gibbous: Lebih dari setengah wajah bulan tampak mendapatkan sinar matahari, tetapi jumlahnya menurun.
Kuartal terakhir: Bulan telah pindah seperempat jalan di sekitar Bumi, ke posisi kuartal ketiga. Cahaya matahari sekarang menyinari bagian lain dari wajah bulan yang terlihat.
Memudarnya bulan sabit: Kurang dari setengah wajah bulan tampak mendapat sinar matahari, dan jumlahnya berkurang.
Akhirnya, bulan kembali ke posisi awal bulan yang baru. Sekarang, bulan berada di antara Bumi dan matahari. Biasanya bulan lewat di atas atau di bawah matahari dari tempat yang menguntungkan, tetapi kadang-kadang lewat tepat di depan matahari, dan kita mendapat gerhana matahari. (Diterjermahkan dari space.com)
Selain itu bertepatan dengan 23 April 2020 malam ini juga merupakan malam 1 Ramadhan 1441 H berdasarkan keputusan Menurut PP Muhammadiyah, 1 Ramadhan 1441 H jatuh pada hari Jumat, 24 April 2020. Hal tersebut tertuang dalam Maklumat PP Muhammadiyah nomor 01/MLM/I.0/E/2020 yang diunggah di situs resmi PP Muhammadiyah pada Sabtu (7/03/2020). Dalam maklumat tersebut menyatakan bahwa penetapan 1 Ramadhan 1441 H/2020 berdasarkan hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.
Dikutip di Tribun News, Ijtimak jelang Ramadhan 1441 H terjadi pada Kamis Wage, 23 April 2020 pukul 09.29.01 WIB. Tinggi Bulan pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta ( f= -07°48¢ (LS) dan l= 110°21¢BT ) = +03°53¢09² (hilal sudah wujud). Kemudian itu, Muhammadiyah akan melaksanakan ibadah salat Tarawih pada Kamis, 23 April 2020 malam hari dan memulai ibadah puasa Ramadhan 1441 pada Jumat Kliwon, 24 April 2020.
