Traveling di Era Instagram : Menikmati Tempat atau Membangun Citra Diri?

I am a Bachelor of Communication Science graduate with a concentration in Broadcasting and a student of Magister Communication Science of Nasional University
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Tri Pra Setyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perjalanan hari ini tidak selalu dimulai dengan menentukan destinasi dan mengemas barang. Bagi sebagian orang, traveling juga berarti menyiapkan kamera, memilih sudut pengambilan gambar, memikirkan caption, hingga membayangkan bagaimana sebuah foto akan diterima ketika diunggah ke Instagram. Pemandangan yang indah tidak hanya dinikmati, tetapi juga dipersiapkan untuk ditampilkan kepada publik.
Fenomena ini terlihat dalam kebiasaan wisatawan mengabadikan matahari terbit, hutan yang rimbun, pantai, hingga kuliner lokal. Di Banyuwangi, misalnya, destinasi seperti Hutan De Djawatan, Kawah Ijen, dan Pulau Merah menawarkan pengalaman visual yang menarik untuk dibagikan di media sosial. Namun, di balik foto-foto perjalanan yang memikat, muncul pertanyaan sederhana: apakah kita benar-benar menikmati tempat yang dikunjungi, atau sedang membangun citra diri melalui pengalaman tersebut?
Pertanyaan ini bukan berarti menganggap aktivitas mengunggah foto sebagai sesuatu yang keliru. Persoalannya terletak pada bagaimana media sosial mengubah cara seseorang mengalami, mengingat, dan memaknai perjalanan.
Instagram dan Panggung Kehidupan
Untuk memahami fenomena tersebut, kita dapat menggunakan teori dramaturgi yang dikemukakan oleh sosiolog Erving Goffman dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life (1959). Goffman menjelaskan bahwa interaksi sosial dapat dipahami seperti pertunjukan panggung. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang menampilkan dirinya dengan cara tertentu untuk membentuk kesan di hadapan orang lain.
Goffman membedakan dua konsep penting, yaitu front stage dan back stage. Front stage merupakan ruang ketika seseorang menampilkan perilaku yang ingin dilihat oleh orang lain, sedangkan back stage adalah ruang ketika seseorang dapat melepaskan tuntutan penampilan sosial dan menjadi lebih leluasa.
Dalam konteks traveling, Instagram dapat menjadi panggung depan. Foto seseorang berdiri di puncak gunung, menikmati kopi dengan latar pegunungan, atau tersenyum di tengah hutan dapat membentuk kesan sebagai pribadi yang aktif, berjiwa petualang, bahagia, dan memiliki kehidupan yang menarik.
Sementara itu, pengalaman di balik foto tersebut bisa sangat berbeda. Perjalanan mungkin diwarnai kelelahan, cuaca buruk, rasa kecewa, atau perjuangan mencapai suatu tempat. Namun, sisi-sisi tersebut belum tentu ditampilkan karena tidak selalu sesuai dengan citra yang ingin dibangun.
Di sinilah dramaturgi menjadi relevan. Media sosial bukan sekadar ruang untuk membagikan dokumentasi, melainkan juga ruang untuk mengelola kesan. Seseorang memilih apa yang ingin diperlihatkan, bagaimana dirinya ingin dipersepsikan, dan bagian mana dari pengalaman yang sebaiknya tidak diketahui publik.
Meski demikian, tidak semua unggahan merupakan pencitraan yang disengaja. Seseorang dapat membagikan foto karena ingin menyimpan kenangan, berbagi informasi perjalanan, atau menunjukkan apresiasi terhadap keindahan alam. Yang perlu diperhatikan adalah kesadaran bahwa setiap pilihan untuk menampilkan sesuatu turut membentuk cara orang lain memahami diri kita.
Ketika Pengalaman Menjadi Konten
Perkembangan komunikasi digital membuat pengalaman personal semakin mudah diubah menjadi konten. Perjalanan yang dahulu cukup dikenang melalui cerita kepada keluarga atau teman kini dapat disaksikan oleh audiens yang jauh lebih luas.
Perubahan ini menghadirkan manfaat. Media sosial membantu wisatawan menemukan destinasi, memperoleh rekomendasi, berbagi informasi, dan mengenalkan potensi pariwisata daerah. Unggahan perjalanan juga dapat menjadi sarana promosi bagi pelaku usaha lokal dan masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada sektor pariwisata.
Namun, ada sisi lain yang patut direnungkan. Ketika hampir setiap momen dipandang memiliki potensi untuk diunggah, perhatian seseorang dapat bergeser dari pengalaman yang sedang dijalani menuju bagaimana pengalaman itu akan terlihat di layar.
Bayangkan seseorang yang mengunjungi Hutan De Djawatan di Banyuwangi. Ia datang untuk menikmati suasana pepohonan trembesi yang menjulang dan cahaya matahari yang menembus dedaunan. Akan tetapi, sebagian besar waktunya justru dihabiskan untuk mencari sudut foto terbaik, mengulang pose, memeriksa hasil gambar, dan memikirkan respons audiens.
Tidak ada yang salah dengan mengambil foto. Masalah muncul ketika dokumentasi menjadi tujuan utama hingga pengalaman itu sendiri kehilangan ruang untuk dinikmati.
Dalam situasi tersebut, perjalanan berisiko berubah menjadi produksi konten. Tempat wisata bukan lagi sekadar ruang untuk mengalami sesuatu, tetapi juga latar untuk menyampaikan pesan tentang siapa diri kita kepada orang lain.
Kita tidak hanya bertanya, “Apa yang saya rasakan di tempat ini?” tetapi juga, “Apa yang akan orang lain pikirkan ketika melihat saya berada di sini?”
Perubahan pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi digital dapat memengaruhi cara seseorang memberi makna pada pengalaman pribadinya.
Personal Branding atau Kebutuhan Akan Pengakuan?
Fenomena ini juga berkaitan dengan personal branding. Dalam pengertian yang positif, personal branding merupakan proses membangun identitas dan persepsi publik melalui nilai, kompetensi, pengalaman, serta konsistensi perilaku.
Seseorang yang rutin membagikan perjalanan, misalnya, dapat membangun identitas sebagai pencinta alam, penjelajah budaya, atau penulis perjalanan. Jika dilakukan secara konsisten dan autentik, konten tersebut dapat menjadi sarana untuk berbagi pengetahuan, membangun kredibilitas, dan membuka peluang profesional.
Akan tetapi, personal branding perlu dibedakan dari ketergantungan pada pengakuan digital. Ketika keberhasilan sebuah perjalanan diukur terutama melalui jumlah likes, komentar, jumlah tayangan, atau respons pengikut, pengalaman pribadi berpotensi bergantung pada penilaian orang lain.
Unggahan yang memperoleh banyak respons dapat menghadirkan kepuasan, sedangkan unggahan yang sepi interaksi mungkin menimbulkan kekecewaan. Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan dapat merasa perlu terus mengunjungi tempat-tempat menarik demi mempertahankan citra yang telah dibangun.
Tentu saja, tidak setiap orang yang memperhatikan jumlah likes mengalami ketergantungan. Respons audiens merupakan bagian wajar dari komunikasi di media sosial. Namun, penting untuk menyadari kapan respons tersebut hanya menjadi pelengkap dan kapan mulai menentukan nilai sebuah pengalaman.
Personal branding yang sehat tidak mengharuskan seseorang selalu terlihat bahagia, produktif, atau memiliki kehidupan yang sempurna. Justru, kredibilitas dapat tumbuh ketika identitas yang ditampilkan di ruang digital selaras dengan nilai dan perilaku dalam kehidupan nyata.
Dengan kata lain, membangun citra diri bukan persoalan berpura-pura menjadi orang lain, melainkan menyampaikan siapa diri kita secara sadar tanpa kehilangan kejujuran terhadap pengalaman sendiri.
Belajar Hadir di Tengah Budaya Digital
Di tengah budaya yang semakin visual, tantangan terbesar bukanlah menjauh sepenuhnya dari media sosial, melainkan menjaga keseimbangan antara berbagi pengalaman dan benar-benar mengalaminya.
Ada kalanya kita perlu meletakkan ponsel, menikmati suara alam, mengamati kehidupan masyarakat setempat, atau berbincang dengan orang yang ditemui selama perjalanan. Tidak semua pengalaman harus segera diubah menjadi unggahan agar memiliki arti.
Kita tetap dapat mengambil foto, menulis cerita, dan membagikan rekomendasi perjalanan. Namun, memberi jeda sebelum mengunggah sesuatu dapat membantu kita bertanya: apakah saya membagikan pengalaman ini karena ingin berbagi makna, atau semata-mata karena membutuhkan pengakuan?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menghakimi, melainkan untuk membangun kesadaran dalam menggunakan media sosial.
Dalam perspektif komunikasi, manusia bukan hanya pengirim pesan yang ingin membentuk persepsi audiens. Manusia juga merupakan individu yang menafsirkan pengalaman, membangun hubungan, dan mencari makna melalui interaksi sosial. Karena itu, kehidupan tidak seharusnya direduksi menjadi rangkaian pesan visual yang menunggu penilaian publik.
Perjalanan yang bermakna tidak selalu menghasilkan foto terbaik atau unggahan dengan interaksi tertinggi. Terkadang, pengalaman paling berharga justru hadir dalam momen yang tidak sempat direkam: percakapan sederhana dengan warga lokal, udara pagi yang terasa sejuk, atau keheningan yang memberi kesempatan untuk memahami diri sendiri.
Menikmati Perjalanan, Bukan Sekadar Menampilkannya
Pada akhirnya, Instagram bukanlah masalah utama. Media sosial hanyalah ruang komunikasi yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan, mulai dari berbagi informasi hingga membangun identitas. Persoalannya terletak pada bagaimana kita menempatkan media tersebut dalam kehidupan.
Teori dramaturgi Erving Goffman membantu kita memahami bahwa setiap orang, dalam kadar tertentu, mengelola kesan ketika berinteraksi dengan orang lain. Di era digital, pengelolaan kesan itu semakin mudah dilakukan melalui foto, video, caption, dan berbagai bentuk konten.
Namun, kita tetap memiliki pilihan untuk menentukan batasnya. Kita dapat membangun personal branding tanpa harus mengubah setiap perjalanan menjadi pertunjukan. Kita dapat membagikan kebahagiaan tanpa harus membuktikan bahwa hidup selalu menyenangkan. Kita juga dapat menikmati sebuah destinasi tanpa merasa wajib menunjukkan keberadaan kita kepada semua orang.
Mungkin, sesekali, kita perlu mengajukan pertanyaan sederhana ketika berada di tempat yang indah: apakah saya sedang menikmati momen ini, atau sibuk memikirkan bagaimana orang lain akan melihatnya?
Sebab, perjalanan bukan hanya tentang tempat yang berhasil kita kunjungi, melainkan juga tentang pengalaman yang kita rasakan dan makna yang kita bawa pulang. Foto dapat menunjukkan kepada dunia ke mana kita pergi, tetapi tidak selalu mampu menceritakan apa yang sebenarnya kita temukan di dalam diri sendiri.
Di era ketika hampir semua hal dapat menjadi konten, kemampuan untuk benar-benar hadir mungkin menjadi salah satu bentuk kebebasan yang paling berharga.
