Konten dari Pengguna

Gotong Royong di Tengah Era Individualisme: Masihkah Menjadi Budaya Bangsa?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Trihendriyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Hasil AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Hasil AI

Gotong royong telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu kala. Sebelum perkembangan teknologi dan kehidupan modern seperti sekarang, masyarakat banyak mengandalkan kerja sama untuk memenuhi berbagai kebutuhan bersama. Mulai dari membangun rumah, mengolah lahan, membersihkan lingkungan, hingga membantu tetangga yang sedang mengalami kesulitan, berbagai pekerjaan dilakukan secara bersama-sama. Kebiasaan tersebut tumbuh secara alami karena masyarakat menyadari bahwa kehidupan akan menjadi lebih mudah ketika dilakukan dengan saling membantu.

Budaya gotong royong juga berkembang di berbagai daerah dengan bentuk dan tradisi yang berbeda-beda. Meskipun memiliki cara yang beragam, nilai yang terkandung di dalamnya tetap sama, yaitu kebersamaan, kepedulian, persatuan, dan kesediaan untuk membantu tanpa mengutamakan kepentingan pribadi. Hal inilah yang membuat gotong royong menjadi salah satu nilai yang sangat melekat dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, gotong royong tidak hanya dilakukan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian dari berbagai kegiatan masyarakat. Kerja bakti, kegiatan sosial, perayaan hari besar, hingga kegiatan kepemudaan sering kali membutuhkan kerja sama banyak orang. Dari kegiatan tersebut, masyarakat dapat bertemu, berinteraksi, dan membangun hubungan yang lebih erat dengan lingkungan sekitarnya.

Gotong Royong, Budaya yang Menyatukan

Di tengah kehidupan yang semakin modern, kita bisa melakukan banyak hal hanya dengan menggunakan smartphone. Berkomunikasi, berbelanja, belajar, hingga bekerja dapat dilakukan tanpa harus bertemu secara langsung. Namun, ada satu hal yang seharusnya tidak tergantikan oleh perkembangan teknologi, yaitu kepedulian dan kebersamaan antarmanusia. Salah satu bentuk kebersamaan yang sejak dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia adalah gotong royong.

Gotong royong bukan hanya tentang bekerja bersama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Lebih dari itu, gotong royong mengajarkan masyarakat untuk saling membantu, peduli, dan tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Ketika warga bersama-sama membersihkan lingkungan, membantu tetangga yang sedang membutuhkan, atau mempersiapkan kegiatan masyarakat, sebenarnya ada nilai persatuan yang sedang dibangun.

Gotong Royong di Tengah Perubahan Zaman

Namun, perkembangan zaman juga membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat. Kesibukan pekerjaan, aktivitas perkuliahan, serta penggunaan teknologi yang semakin tinggi terkadang membuat interaksi secara langsung menjadi berkurang. Tidak sedikit orang yang lebih sibuk dengan aktivitas masing-masing sehingga kesempatan untuk berkumpul dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar semakin sedikit.

Meskipun begitu, bukan berarti budaya gotong royong sudah hilang. Di berbagai lingkungan masyarakat, semangat tersebut masih dapat ditemukan dalam berbagai kegiatan. Kerja bakti, kegiatan sosial, peringatan Hari Kemerdekaan, hingga kegiatan kepemudaan menjadi contoh bahwa gotong royong masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.

Pengalaman dalam Kegiatan Karang Taruna

Saya sendiri merasakan bagaimana pentingnya gotong royong ketika ikut terlibat dalam kegiatan Karang Taruna di lingkungan tempat tinggal. Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan, saya bersama teman-teman ikut menjadi panitia perlombaan Agustusan. Persiapan kegiatan tentu tidak dapat dilakukan sendirian. Kami harus membagi tugas, mempersiapkan perlombaan, mengatur peserta, hingga memastikan kegiatan dapat berjalan dengan baik.

Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa sebuah kegiatan sederhana dapat menjadi lebih mudah ketika dilakukan bersama-sama. Ada yang bertugas mempersiapkan perlengkapan, ada yang mengatur peserta, dan ada pula yang membantu mengatur jalannya perlombaan. Meskipun terkadang melelahkan, kegiatan tersebut justru memberikan pengalaman yang menyenangkan karena dapat bekerja sama dan berkumpul bersama masyarakat.

Peran Generasi Muda

Menurut saya, kita sebagai generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga budaya gotong royong agar tidak semakin ditinggalkan. Anak muda tidak harus melakukan sesuatu yang besar. Ikut dalam kegiatan lingkungan, membantu tetangga, bergabung dalam organisasi kepemudaan, atau berpartisipasi dalam kegiatan sosial sudah menjadi langkah sederhana untuk menjaga kebersamaan.

Di tengah era digital, generasi muda juga dapat memanfaatkan teknologi untuk mengajak lebih banyak orang terlibat dalam kegiatan positif. Media sosial misalnya, dapat digunakan untuk menyebarkan informasi mengenai kegiatan sosial, kerja bakti, penggalangan bantuan, maupun kegiatan masyarakat lainnya. Dengan begitu, teknologi tidak hanya menjadi sarana untuk kepentingan pribadi, tetapi juga dapat digunakan untuk memperkuat hubungan sosial.

Gotong Royong Masih Relevan

Pada akhirnya, gotong royong bukanlah budaya yang hanya berlaku pada zaman dahulu. Nilai tersebut masih sangat relevan untuk diterapkan di tengah kehidupan modern. Justru ketika masyarakat semakin sibuk dengan urusan masing-masing, kepedulian terhadap lingkungan dan sesama menjadi semakin penting.

Gotong royong mengingatkan kita bahwa manusia tidak dapat hidup sepenuhnya sendiri. Ada saatnya kita membutuhkan bantuan orang lain dan ada pula saatnya kita menjadi orang yang membantu. Karena itu, menjaga budaya gotong royong bukan hanya tugas orang tua atau masyarakat terdahulu, tetapi juga menjadi tanggung jawab generasi muda agar semangat kebersamaan tetap hidup di tengah perubahan zaman.