Konten dari Pengguna

Blunder Putin dalam Menyerang Ukraina

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Trystanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Putin tampaknya melakukan ke Ukraina apa yang gagal dilakukan Amerika Serikat selama 20 tahun: Menyerang sebuah negara dan memaksakan penggantian rezim di negara lain

Ilustrasi Vladimir Putin dan Adolf Hitler. Sumber: twitter @Ukraine
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Vladimir Putin dan Adolf Hitler. Sumber: twitter @Ukraine

Serangan Rusia ke Ukraina pada hari Kamis, 24 Februari 2022 mengejutkan banyak orang. Dunia terguncang atas sebuah serangan militer antar negara terbesar di Eropa sejak tahun 1945. Presiden Vladimir Putin nampaknya sudah memiliki tekad bulat untuk menundukkan negara bekas bagian Uni Soviet itu.

Namun, perang Rusia-Ukraina, walaupun baru meledak sekarang, sebenarnya sudah diperkirakan setidaknya sejak akhir dari perang dingin. Pada tahun 1993, misalnya, profesor ilmu hubungan internasional terkemuka di University of Chicago John Mearsheimer berpendapat bahwa Ukraina seharusnya diperbolehkan untuk menyimpan senjata nuklir bekas Uni Soviet sebagai pelindung dari serangan Rusia karena beliau memperkirakan bahwa terdapat kemungkinan besar perang Rusia-Ukraina akan terjadi.

Ekspansi NATO ke negara-negara Eropa Timur juga menyulut kemarahan Putin. Ia bahkan mengatakan secara terang-terangan kepada Presiden Amerika Serikat George W. Bush bahwa apabila Ukraina diperbolehkan bergabung ke NATO, ia akan “menghapus Ukraina dari muka bumi” setelah KTT NATO pada tahun 2008 menyatakan bahwa Ukraina dapat bergabung ke NATO. Puncaknya terjadi pada tahun 2014 setelah Presiden Ukraina yang Pro-Rusia Viktor Yanukovych digulingkan di tengah demonstrasi pro-barat besar-besaran. Untuk mencegah Ukraina bergabung ke NATO, Putin memberikan peringatan dengan menginvasi Krimea.

Paparan di atas bukanlah sebuah pembenaran atas tindakan Putin yang secara terang-terangan melanggar hukum internasional, terutama pasal 2 ayat 4 Piagam PBB dan pasal 2 Memorandum Budapest (Memorandum on security assurances in connection with Ukraine’s accession to the Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons) yang ditandatangani oleh Rusia, Amerika Serikat, dan Inggris.

Hampir tidak ada alasan strategis bagi Rusia untuk menginvasi Ukraina pada tahun 2022, terlebih ketika hampir tidak ada dukungan kuat dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, atau Jerman terhadap inklusi Ukraina ke dalam NATO. Selain itu, justru Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyylah yang dianggap sebagai calon presiden yang lebih bersahabat terhadap Rusia pada saat pemilihan presiden tahun 2019 di Ukraina dan dinilai lebih siap bernegosiasi pada Rusia sebelum perang meletus pada tahun 2022. Invasi Krimea oleh Rusia tampaknya sudah cukup untuk menghentikan akses Ukraina ke NATO.

Justru, perang ini merupakan blunder strategis bagi Presiden Vladimir Putin. Alih-alih membawa Rusia ke kejayaan masa lampau, invasi ini justru akan menghancurkan citra Vladimir Putin. Perang ini akan menyedot sumber daya Rusia yang terbatas, Rusia akan terjebak di Ukraina melawan gerilyawan, dan Vladimir Putin selamanya akan disamakan dengan Adolf Hitler. Upaya memasang dan menopang pemerintahan baru di Ukraina akan sangat sulit dengan kemungkinan keberhasilan yang sangat kecil.

Belajar dari Pengalaman Amerika Serikat

Siapakah dulu salah satu kritik utama upaya penggantian rezim Amerika Serikat di Libya dan Suriah? Ya, Vladimir Putin. Pada tahun 2011, Vladimir Putin mengkritik habis-habisan upaya Amerika Serikat dalam mengganti rezim Muammar Gaddafi di Libya dengan menyamakannya dengan “perang salib pada abad pertengahan.” Setahun kemudian, Putin menolak upaya penggantian rezim di Suriah karena prinsip Rusia yang memegang teguh non-intervensi di urusan domestic negara lain.

Putin memang benar dalam mengkritisi habis-habisan Amerika Serikat dan sekutunya dalam upaya penggantian rezim di Libya, Suriah, dan negara lain. Alih-alih membuat Amerika Serikat lebih makmur dan aman, intervensi Amerika Serikat di Timur Tengah membuat Amerika Serikat dibenci oleh banyak kelompok Islamis di Timur Tengah dan dunia.

Dalam buku The Israel Lobby and the US Foreign Policy, misalnya, John Mearsheimer dan Stephen Walt berpendapat bahwa kebijakan-kebijakan Amerika Serikat di Timur Tengah, terutama dukungan tanpa syarat terhadap Israel, telah merusak nama baik Amerika Serikat di dunia internasional, terutama di Timur Tengah. Alih-alih membawa perdamaian di Timur Tengah, Amerika Serikat justru melancarkan perang yang membunuh banyak rakyat sipil tidak bersalah di Libya, Afghanistan, Irak, dll.

Petualangan Rambo Amerika Serikat juga memakan sumber daya Amerika Serikat, sumber daya yang dapat digunakan untuk membangun infrastruktur Amerika Serikat. Dalam salah satu blunder terbesarnya, Amerika Serikat menghamburkan uang $2 triliun dalam upaya mengubah Afghanistan selama 20 tahun. Hasilnya? Rezim yang dijatuhkan Amerika Serikat pada tahun 2001 sudah kembali memerintah di Kabul. Kemajuan Afghanistan yang diklaim oleh Amerika Serikat sudah hancur. Bayangkan saja berapa banyak sekolah, jembatan, rumah sakit, jalan, dan infrastruktur lain yang dapat dibangun oleh Amerika Serikat untuk menopang dan melayani rakyatnya. Namun, Amerika Serikat malah menghamburkannya untuk membangun negara lain.

Selain itu, reputasi Amerika Serikat di mata dunia juga terdampak. Hipokrasi Amerika Serikat sebagai negara pelindung HAM dan demokrasi semakin terekspos. Penyiksaan tahanan Kamp Guantanamo dan penggunaan pesawat nirawak yang membunuh rakyat sipil juga menodai nama baik Amerika Serikat. Revelasi pada tahun 2013 bahwa Amerika Serikat telah menyadap ponsel orang di seluruh dunia tanpa izin juga mencederai reputasi Amerika Serikat dan menggambarkan Amerika Serikat sebagai negara hipokrit dan menerapkan standar ganda.

Melihat dari sudut pandang Amerika Serikat, seluruh tindakan tersebut sangat perlu untuk mendukung operasi militer penggantian rezim di negara lain dan untuk mengantisipasi serangan terorisme di Amerika Serikat. Namun, tindakan Amerika Serikat tersebut malah merusak demokrasi di Amerika Serikat sendiri dan menghancurkan reputasi Amerika Serikat di mata dunia.

Posisi Amerika Serikat dalam tatanan kekuatan global juga terpengaruh secara negatif. Amerika Serikat yang teralihkan oleh perang di Timur Tengah gagal mempersiapkan diri menghadapi kebangkitan Tiongkok. Alih-alih berinvestasi dalam infrastruktur, pendidikan, dan layanan sosial Amerika Serikat untuk mempersiapkan diri dalam kompetisi melawan Tiongkok, Amerika Serikat justru menghambur-hamburkan uang dalam membangun negara lain. Militer Amerika Serikat juga tidak siap untuk menghadapi Tiongkok karena selama 20 tahun terakhir militer Amerika Serikat diorientasikan untuk melawan kelompok teroris, bukan militer sebuah negara.

Menilik Peran Nasionalisme

Mengapa Amerika Serikat, yang notabene merupakan negara adidaya nomor wahid di dunia, gagal dalam mengubah banyak negara di Timur Tengah sesuai kemauannya? Hal ini dikarenakan nasionalisme merupakan sebuah kekuatan yang perkasa dalam sebuah negara dan politik internasional.

Dalam buku The Great Delusion: Liberal Dreams and International Realities, John Mearsheimer berpendapat bahwa nasionalisme akan selalu menang melawan upaya kekuatan asing dalam memaksakan sebuah pemerintahan di sebuah negara. Keinginan untuk memerintah negara sendiri dan menentukan nasib negara sendiri akan selalu menang diatas ideal-ideal utopis yang dikemukakan dan diperjuangan sebuah negara tertentu.

Maka dari itu, hasrat untuk memerintah negara sendiri dan menentukan nasib negara sendiri di Afghanistan akan selalu menang melawan ide-ide utopis demokrasi liberal ala Amerika Serikat. Tidak semua tempat cocok diterapkan demokrasi liberal dan sebaiknya tidak usah dipaksakan apabila ternyata demokrasi liberal tidak dikhendaki rakyat sebuah negara.

Karena nasionalismelah Indonesia dengan gigihnya melawan upaya Belanda untuk menjajah kembali Indonesia pada tahun 1945-1949. Bangsa Indonesia jelas tidak mau menyerahkan nasibnya kepada sebuah negara asing. Indonesia jelas ingin memetakan nasibnya sendiri. Yang paling penting, bangsa Indonesia ingin memerintah bangsanya sendiri tanpa intervensi siapa pun. Terlepas dari niat baik Belanda pada saat itu (apabila ada), jelas sekali bahwa bapak bangsa Indonesia lebih memilih untuk menaruh nasib bangsa Indonesia di tangan bangsa Indonesia sendiri dan menolak upaya-upaya dan ideal-ideal utopis Belanda pada Indonesia.

Akan selalu ada sebuah kelompok di negara target yang menolak intervensi asing dalam urusan domestik negara mereka. Akan selalu ada oposisi dan perlawanan. Akan selalu ada tokoh-tokoh semacam Bung Karno dan Bung Hatta yang ingin memerintah negara mereka sendiri. Akan selalu ada kelompok yang menolak upaya rekayasa sosial yang dilakukan oleh negara asing, baik penolakan dengan cara damai maupun kekerasan. Upaya negara penyerang dalam menekan dan menghancurkan kelompok oposisi justru akan mendorong lebih banyak orang yang menentang, yang mengundang upaya penghancuran lebih besar, yang mendorong lebih banyak orang yang menentang. Lingkaran setan ini akan terus ada dan berjalan.

Lebih buruknya lagi, sebuah serangan militer untuk mengganti rezim akan memperlihatkan negara penyerang sebagai negara agresor. Terlepas dari ideal-ideal yang dipancarkan dan dipaparkan oleh negara penyerang (meskipun niat negara tersebut baik), fakta yang tak terbantahkan adalah negara agresor telah menyerang negara target. Pada Perang Irak pada tahun 2003, misalnya, terlepas dari niat baik Presiden Bush dan Amerika Serikat (apabila ada) untuk memasang demokrasi di Irak dan “membebaskan rakyat Irak” dari tirani Saddam Hussein, sebuah fakta akan selalu terpampang: Amerika Serikat telah melancarkan sebuah perang ilegal terhadap Irak.

Kesimpulannya jelas. Nasionalisme dan keinginan memerintah negara sendiri akan terus ada dan hidup, terlepas dari apa pun niat baik yang dimiliki oleh penjajah (dan, sebagai seorang realis, saya percaya bahwa tidak akan pernah ada sebuah negara melakukan sesuatu di dunia internasional karena kebaikan. Semua negara melakukan sesuatu di dunia internasional karena memiliki kepentingan sendiri)

Déjà Vu di Ukraina

Tampaknya Vladimir Putin telah mengidap penyakit amnesia karena ia melupakan seluruh argumen yang ia pernah gunakan dalam mengkritik upaya penggantian rezim di Ukraina. Sekarang, Putin tampaknya membawa Rusia masuk ke lubang setan yang pernah dimasuki Amerika.

Tampak jelas bahwa Putin berniat untuk mengubah Ukraina sesuai dengan keinginannya. Putin tampak tidak puas dan gundah terhadap pemerintahan Ukraina sekarang. Dalam sebuah artikel yang berjudul On the Historical Unity of Russians and Ukrainians, Putin berpendapat bahwa negara-negara Barat telah “mengubah sistem politik Ukraina dengan sedemikian rupa sehingga presiden, anggota parlemen, dan menteri dapat berubah namun sikap permusuhan dan separatisme terhadap Rusia akan tetap ada.” Maka dari itu, telah terdapat beberapa indikasi bahwa tujuan Putin menginvasi Ukraina adalah untuk mengganti pemerintahan di Kyiv dan memasang sebuah pemerintahan yang lebih bersahabat kepada Rusia.

Jelas sekali bahwa upaya ambisius ini akan sangat sulit bagi Rusia. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, nasionalisme di Ukraina akan tetap ada dan hasrat untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan akan terus berkobar. Perlawanan rakyat Ukraina akan terus membara, baik secara militer maupun perang gerilya. Sudah terlihat bahwa Putin meremehkan kemampuan tentara Ukraina dalam menahan pasukan Rusia. Pengalaman bertempur di Donbass dan Luhansk, ditambah perasaan nasionalisme dalam mempertahankan eksistensi bangsa mereka sendiri, membuat tentara Ukraina melawan tentara Rusia dengan sangat gigih. Laporan intelijen Amerika Serikat telah melaporkan indikasi bahwa Putin frustrasi terhadap kemajuan tentara Rusia dalam perang di Ukraina (sebelum anda menyepelekan laporan intelijen Amerika Serikat ini, mohon diingat bahwa laporan intelijen Amerika Serikat telah diabaikan oleh banyak pihak (termasuk saya) sebelum perang di Ukraina. Namun, ternyata hampir semua laporan itu benar).

Sudah pasti bahwa rakyat Ukraina tidak akan tunduk begitu saja terhadap tentara Rusia dan mereka pasti akan melanjutkan pertempuran dengan perang gerilya. Lingkaran setan akan berlaku. Apabila tentara Rusia menghancurkan oposisi dengan brutal, maka akan lebih banyak yang melawan, yang menyebabkan penghancuran oposisi dengan lebih brutal, yang akan menyebabkan lebih banyak orang lagi yang melawan, dan seterusnya. Plus, mereka akan dilengkapi oleh senjata modern yang diberikan oleh Amerika Serikat dan sekutunya.

Selain itu, Putin jelas harus menyisihkan banyak uang dari APBN Rusia dalam mendanai perang di Ukraina. Dana tersebut akan sangat diperlukan dalam menyokong pasukan Rusia, menopang pemerintahan boneka Rusia di Ukraina, dan memperbaiki infrastruktur Ukraina yang krusial untuk Rusia. Tentu bukan uang yang sedikit. Alih-alih menggunakan uang itu untuk membangun Rusia, Putin malah menggunakan uang itu untuk melancarkan sebuah perang illegal dan membangun negara lain. Di samping itu, sanksi-sanksi Barat juga pasti akan melemahkan ekonomi Rusia. Pada tahun 2014, misalnya, sanksi-sanksi Barat yang diterapkan ke Rusia merupakan salah satu penyebab krisis ekonomi di Rusia.

Sanksi kali ini yang lebih berat sudah pasti akan memiliki dampak yang lebih dahsyat pada Rusia, terlebih setelah Rusia dikeluarkan dari SWIFT, sistem komunikasi antar-bank dunia yang sangat diperlukan dalam melakukan transfer internasional. Maka dari itu, bank-bank Rusia tidak akan bisa melakukan pembayaran internasional.

Lalu, alih-alih membuat NATO ketar-ketir, aksi Putin justru menghidupkan kembali NATO setelah 30 tahun linglung tanpa tujuan. Dalam waktu seminggu, Putin telah berhasil ‘membunuh’ pasifisme Jerman dan kenetralan Swedia dan Finlandia. Jerman telah memutuskan untuk menaikkan anggaran pertahanan hingga 2% dari Produk Domestik Bruto. Finlandia dan Swedia juga telah memperkuat kerja sama mereka dengan NATO. Sebuah aliansi yang dianggap usang justru telah berguna kembali berkat Putin. Bahkan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban, yang dianggap sebagai salah satu teman Putin di Uni Eropa, juga telah menyatakan bahwa Hungaria tidak akan menolak pengeluaran Rusia dari SWIFT.

Selain itu, tindakan Putin telah memperkuat kembali solidaritas NATO dan menyudahi konflik Amerika Serikat dengan Uni Eropa atas pipa gas Nord Stream 2. Sepertinya Putin layak mendapat penghargaan dari NATO atas jasanya yang luar biasa dalam memperkuat aliansi NATO.

Reputasi Rusia di dunia juga berantakan. Rusia, yang selama ini merupakan pembela prinsip non-intervensi dan kedaulatan negara, telah melanggar kedaulatan negara lain. Putin, yang selama ini mengkritik prinsip Responsibility to Protect (R2P) – sebuah prinsip di mana negara lain harus merespons apabila terjadi genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan lainnya – sepertinya telah menggunakan prinsip tersebut untuk berdalih bahwa serangannya ke Ukraina adalah untuk melindungi etnis minoritas Rusia di Ukraina dari genosida. Putin, yang selama ini telah mengkritik habis-habisan upaya Amerika Serikat dalam melakukan penggantian rezim di Timur Tengah, malah melakukan hal yang sama. Diplomat Rusia telah mengalami krisis kredibilitas karena posisi yang berubah-ubah dari menyangkal niat untuk menyerang Ukraina beberapa jam sebelum perang Rusia-Ukraina ke posisi membenarkan penyerangan Rusia ke Ukraina beberapa jam kemudian.

Pada saat penulisan artikel ini, perang di Ukraina baru berlangsung selama 5 hari. Namun, kerusakan dan korban dari perang tersebut telah berjatuhan dan PBB memprediksi bahwa 5 juta orang Ukraina akan menjadi pengungsi. Kemenangan Rusia atau Ukraina masih jauh dari kata pasti. Namun, satu hal sudah pasti: Perang ini akan menjadi blunder Putin yang paling parah dan menempatkan posisi Putin sejajar dengan Adolf Hitler dan akan membawa kehancuran dan kemodaratan negara Rusia.

Trystanto adalah mahasiswa jurusan ilmu hubungan internasional Universitas Gadjah Mada. Ia juga merupakan ketua bidang riset dan pengembangan Foreign Policy Community Indonesia chapter UGM