Apa Itu JOMO dan Kenapa Gen Z Mulai Meninggalkan FOMO?
Tulisan dari Tsabita Dzikra Mumtaza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah pesatnya perkembangan zaman saat ini, rasa tertinggal bisa muncul hanya karena kita belum mencoba sesuatu hal yang baru. Seperti, belum mengunjungi tempat-tempat yang baru, mencoba makanan atau minuman yang sedang viral, dan terkadang kita merasa menjadi satu-satunya orang di lingkaran yang tidak hits. Perasaan cemas karena takut ketinggalan inilah yang disebut dengan Fear of Missing Out (FOMO). Tiap membuka media sosial, rasa cemas karena merasa ketertinggalan itu muncul kembali, seakan kehidupan orang lain lebih seru daripada kehidupan kita. Sebuah kajian kualitatif tentang remaja perempuan menemukan bahwa remaja cenderung merasa takut ketinggalan apabila tidak mengikuti hal-hal yang sedang viral atau digunakan oleh temantemannya. Sehingga muncul rasa minder, cemas, dan kurang percaya diri.
Masalahnya, perasaan FOMO tidak berhenti di perasaan saja. Terkadang perasaan FOMO tersebut mengundang seseorang untuk bertindak dan sering kali tindakannya

mahal. Hanya karena takut merasa tertinggal, seseorang mulai memaksakan diri membeli barang yang sedang tren, mengunjungi acara yang sebenarnya kurang diminati, atau nongkrong di tempat yang harganya melebihi uang saku. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya memakai paylater atau berhutang agar tetap terlihat mengikuti zaman. Kepala OJK Jawa Barat menyebut FOMO dan YOLO sebagai perilaku belanja impulsif dan jumlah penggunaan pinjaman daring (pinjol) hampir mencapai 8 juta orang. Yang awalnya hanya soal citra di media sosial, lama-lama menjadi beban yang nyata bagi keuangan.
Namun saat ini, muncul istilah baru yang akrab di telinga anak muda yaitu “in this economy”. Walaupun dicapkan dengan nada bercanda, kalimat ini sebenarnya menyimpan kegelisahan yang serius. Menurut Metro TV, istilah “in this economy” ini dipakai secara sarkastis atau bercanda untuk mempertanyakan keputusan mengeluarkan uang ditengah biaya hidup yang semakin tinggi, dan mencerminkan kondisi ekonomi yang dirasakan banyak anak muda. Harga barang, makanan, dan hiburan yang terus naik, sementara penghasilan mereka tidak selalu ikut naik. Terkadang, dengan satu kali nongkrong di kafe bisa saja menghabiskan setengah dari kebutuhan sehari-hari. Mengikuti semua tren jelas bukan pilihan yang masuk akal. Dari kesadaran itulah, banyak Gen Z yang mulai berpikir ulang tentang apa yang benar-benar harus diikuti.
Dari sini lahirlah istilah Joy of Missing Out (JOMO). Kebalikan dari FOMO, JOMO adalah perasaan senang dan puas karena sengaja memilih untuk melewatkan acara atau suatu tren tertentu untuk menikmati hidup tanpa merasa takut ketinggalan. Perilaku JOMO bukan berati antisosial. Intinya adalah kesadaran untuk mulai memilih mana yang hanya kesenangan sementara atau yang benar-benar bermakna untuk kita. Mereka tetap bergaul dan tetap aktif bermedia sosial, tetapi berani berkata, “aku skip dulu,” tanpa rasa bersalah.
Menurut saya, ada tiga alasan kenapa peralihan dari fenomena FOMO menjadi JOMO ini patut didukung.
Pertama, dengan menerapkan JOMO, kesehatan mental kita ikut terjaga karena tidak lagi terbebani oleh tuntutan untuk selalu hadir dan selalu tau tentang semua hal. Sebuah kajian dari Jurnal Khazanah (UII) ditemukan bahwa FOMO berkontribusi pada meningkatnya kecemasan, menurunnya kepercayaan diri, dan terganggunya konsentrasi pada remaja. Dengan kata lain, saat tidak lagi dikejar keharusan untuk selalu ikut, pikiran punya ruang untuk tenang.
Kedua, JOMO juga dapat menjaga kesehatan finansial. Dengan menekan pengeluaran yang tadinya hanya demi gengsi, kini uang dapat dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih penting, seperti, tabungan, biaya kuliah, atau dana darurat. Di Tengah harga kebutuhan yang terus naik, kemampuan untuk menahan diri bukanlah tanda kekurangan, melainkan wujud dari kepandaian mengatur hidup.
Ketiga, JOMO juga dapat meningkatkan kualitas hidup dengan orang lain. Waktu yang sebelumnya terbuang untuk menggulir layar media sosial bisa dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang lebih bermakna, seperti belajar, mengembangkan hobi, atau sekadar beristirahat. Selain itu, saat bertemu dengan teman, kita bisa benar-benar hadir tanpa sibuk membandingkan hidup kita dengan hidup mereka, sehingga hubungan terasa lebih hangat.
Tentu saja ada yang berpendapat bahwa menerapkan JOMO hanyalah alasan untuk menghemat uang atau menghindari pergaulan. Kekhawatiran itu patut didengar, karena memang realita di kehidupan kita memang seperti itu. Namun, JOMO adalah seleksi, bukan isolasi. Kita tetap boleh mengikuti mengikuti perkembangan zaman, tetapi harus pintar memilih dan memilah mana yang benar-benar bermanfaat dan sesuai dengan kemampuan kita, bukan karena mengikuti semuanya hanya karena takut ketinggalan tanpa memikirkan kemampuan finansial diri sendiri.
Lalu bagaimana cara memulainya? Dengan melakukan Langkah-langkah kecil seperti, mematikan notifikasi yang mengundang rasa iri atau rasa tertinggal, menetapkan jam tanpa ponsel, atau menjadwalkan satu hari tanpa belanja online dalam seminggu. Kita perlu belajar menahan diri untuk tidak membeli sesuatu hanya karena merasa pantas diberi self reward. Seing kali, alasan itu hanya menjadi tameng untuk pengeluaran yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Lingkungan juga berperan penting dalam membentuk kebiasaan ini. Keluarga, teman, dan lingkungan sekolah juga bisa menjadi alasan kita untuk merasa cukup dengan diri sendiri. Tetapi mereka juga bisa menjadi pemicu munculnya FOMO. Oleh karena itu, kita perlu pandai memilih lingkungan, terutama dalam berteman. Carilah teman yang membawa kita kearah positif, bukan yang membuat kita terus membandingkan diri dan terjerumus ke pergaulan yang salah.
Pada akhirnya, hidup bukanlah ajang perlombaan untuk mengikuti semua hal. Dengan peralihan Gen Z dari FOMO ke JOMO menunjukkan lahirnya kesadaran baru bahwa kebahagiaan tidak selamanya ditentukan oleh banyaknya tren yang kita ikuti, tetapi oleh kemampuan memilih apa yang layak diberi waktu dan uang. Mari kita mulai memilih dan memilah hal-hal yang tidak ada habisnya, dan mulailah berani untuk memilih.

