Fast Beauty dan Budaya Konsumtif: Ketika Cantik Harus Selalu Baru

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Tsara Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Industri kecantikan mengalami lonjakan tren dalam beberapa tahun terakhir, yang disebut fast beauty - model bisnis yang mengandalkan produksi cepat, peluncuran produk massal, dan siklus tren yang terus berganti dalam waktu singkat. Fast beauty merespons permintaan konsumen yang tinggi terhadap produk-produk baru yang murah, cepat hadir di pasaran, dan viral di media sosial.
Namun, di balik gemerlap kemasan lucu, kolaborasi dengan selebriti dan koleksi yang selalu update, fast beauty menyisakan sejumlah isu serius yang perlu menjadi perhatian publik dan konsumen.
Produksi besar-besaran dengan umur tren yang pendek berarti lebih banyak limbah kemasan dan produk sisa yang berakhir di tempat sampah. Ini memperparah masalah limbah plastik dan sampah kosmetik yang sulit terurai. Fast beauty mendorong pola konsumsi yang tidak berkelanjutan terlebih pada era sekarang yang seharusnya lebih ramah lingkungan.
Fast beauty juga memperkuat budaya konsumtif dan standar kecantikan yang tidak realistis. Dengan adanya tren baru dan banyaknya influencer yang mempromosikan menjadikan fast beauty sebagai “barang wajib punya," terutama perempuan muda yang merasa harus selalu mengikuti perubahan agar tetap relevan. Hal ini dapat memicu rasa tidak percaya diri dan tekanan psikologis, apalagi jika tidak mampu mengejar produk yang terus berganti.
Lebih dari sekadar urusan makeup, fast beauty adalah cermin bagaimana standar kecantikan modern dikendalikan oleh algoritma dan strategi pasar. Sudah saatnya kita bertanya ulang: siapa yang sebenarnya mengatur standar ini? Dan apakah kita benar-benar ingin ikut terus dalam perlombaan yang tidak ada akhirnya?
