3 Tahun Hidup di Hutan, Keluarga di Gunungkidul Ini Kini Tinggal di Kandang
ยทwaktu baca 4 menit

Nasib pilu dialami oleh pasangan suami istri, Ngadiono (52) dan Sumini (44). Warga Padukuhan Kedungranti, Kalurahan Nglipar, Kapanewon Nglipar, Gunungkidul. Sudah 4 bulan ini mereka tinggal di kandang sapi ukuran 2 x 2,5 meter.
Bersama dua anaknya, pasangan suami istri ini berbagi dengan 3 ekor sapi yang mereka pelihara. Sebagai kamar multifungsi, ia menyekat ruang ukuran 1x1 meter dan mengelilinginya dengan plastik terpal. Kasur yang ia letakkan juga sangat tipis hanya dengan ketebalan 3 cm.
Untuk memasak, ia membuat tungku seadanya di luar kandang. Sementara keperluan mandi dan mencuci, keluarga ini mengambil air dari Sungai Oya yang ada di dekat kandang tersebut. Namun untuk memasak, mereka masih meminta kepada tetangganya.
Dan yang lebih memprihatinkan lagi, tanah untuk mendirikan kandang tersebut adalah tanah milik orangtua mereka dan berada di bantaran Sungai Oya. Sehingga ketika musim penghujan tiba, dikhawatirkan akan tergenang banjir.
Selasa (31/8/2021) siang, pasangan ini nampak beristirahat di luar kandang. Mereka terlihat duduk di sebuah karpet plastik lusuh ukuran 1,5x1,5 meter yang mereka letakkan di dekat kandang. Tak ada suguhan meski hanya air minum teh ataupun kopi.
Kepada awak media, Ngadiono menceritakan alasan mengapa ia bersama keluarganya tinggal di kandang dekat dengan sungai. Tahun 2007 yang lalu sebenarnya mereka mendapat bantuan pembangunan rumah sederhana dari sebuah lembaga sosial yang memang sengaja memprioritaskan korban gempa 2006.
Saat itu Ngadiono sudah memiliki usaha sablon kecil-kecilan dan sang istri berjualan sayuran keliling menggunakan sebuah sepeda motor Honda Astrea. Karena mereka memiliki anak yang masih kecil-kecil akhirnya keluarga ini mulai berani mengajukan utang.
"Utang pertama saya ke BPR BDG dengan agunan sertifikat tanah yang ada rumah bantuannya itu. Dapat Rp 10 juta," ujar dia.
Dana dari BPR tersebut mereka gunakan untuk menambah modal usaha. Namun dalam perjalanannya mereka tak mampu lagi membayar cicilan yang menjadi kewajiban. Tahun 2012 Ngadiyono memutuskan untuk pergi ke pulau Bangka bekerja di perkebunan sawit.
Harapannya dengan bekerja di perkebunan kelapa sawit mereka mampu pembayaran cicilan di Bank BPR tersebut. Namun kenyataannya di Pulau Bangka Ngadiyono tidak mendapatkan pekerjaan. Istrinya pun kembali mengajukan utang ke sebuah Koperasi Syariah dengan agunan BPKB sepeda motor.
"Saya utang 5 juta. Ya untuk hidup karena ndak ada kiriman uang, jualan saya juga tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari," ceritanya sedih.
Tak hanya itu istri Ngadiono pun mulai terjerat utang dari rentenir. Tak hanya 1 rentenir, namun Sumini terjerat hingga 7 rentenir. Selain untuk hidup, wanita ini sengaja meminjam uang di rentenir untuk membayar cicilan di Koperasi. Sementara di BPR BDG, ia sudah tidak mampu membayar angsuran lagi.
Apes, keluarga ini juga tak mampu membayar cicilan di Koperasi hingga akhirnya satu-satunya motor untuk berjualan disita Koperasi jika ingin dianggap lunas. Kehidupan Sumini yang ditingal suami merantau kian memprihatinkan.
"Suami saya pulang. Dan lantas menjual rumah bantuan itu ke adik untuk menutup utang di Bank BDG," ujar Sumini
Teror demi teror pun mereka terima karena cicilan di rentenir tidak ada yang bisa mereka bayar. Hingga akhirnya Ngadiyono dan keluarga pindah ke Sumatera. Mereka merantau karena sudah jenuh dikejar rentenir
5 tahun merantau di Sumatera, Ngadiyono memutuskan untuk kembali pulang ke Gunungkidul. Awalnya keluarga ini pulang ke rumah orang tua Sumini di Kapanewon Semanu. Namun mereka hanya bertahan selama 4 bulan karena alasannya tidak bisa mendapatkan pekerjaan.
"Terus saya balik ke Kedungranti. Saya awalnya tinggal di rumah yang saya jual dulu. Namun karena ndak enak, saya akhirnya tinggal di hutan," kata Sumini.
3 tahun mereka tinggal di hutan milik Perhutani. Untuk bertahan hidup, mereka menanam berbagai tanaman mulai dari ketela hingga sayur-sayuran di sela-sela tanaman kayu putih milik Perhutani. Tiga tahun lebih, Sumini mengaku hidup tentram meskipun tinggal di hutan yang letaknya sekitar 1 kilometer dari tanah kelahirannya.
Lima bulan yang lalu, ia mendapatkan tawaran untuk memelihara dua ekor sapi milik saudara mereka. Awalnya, keluarga ini ingin membangun kandang di dekat mereka tinggal di hutan milik Perhutani. Namun ternyata pihak Perhutani tidak mengizinkan jika keluarga ini membangun kandang sapi di area hutan.
"Terus saya minta izin sama orangtua untuk mbangun kandang di sini (dekat sungai)," terangnya.
Karena capek bolak-balik dari ladang ke kandang maka akhirnya keluarga ini memutuskan untuk membuat sebuah kamar menyatu dengan kandang sekedar untuk tidur dan beraktivitas lainnya. Hingga akhirnya mereka benar-benar tinggal berbagi dengan 3 hewan ternak.
"Jadi awalnya sapi hanya dua, terus beranak 1. Anaknya milik saya," ungkapnya.
Keluarga ini sebenarnya memiliki 4 orang anak dimana anak ke-3 baru kelas 7 dan untuk anak tempat baru kelas 3 SD. Sementara anak pertama mereka sudah bekerja sebagai buruh serabutan dan anak ke-2 menjadi tukang parkir di sebuah pasar setiap 3 hari sekali.
