kumparan
16 Agu 2019 13:41 WIB

Aksi Kamisan, Mengingat Kembali yang Terlupakan

Banner Aksi Kamisan di Tugu Pal Putih (Tugu Jogja). Foto: Birgita.
Ada beragam cara yang bisa dilakukan menyuarakan pendapat. Salah satunya adalah yang biasa dilakukan oleh sekelompok orang yang tergabung dalam Aksi Kamisan. Rutin setiap hari Kamis, mereka berdiri di dekat Tugu Pal dan membentangkan banner. Di banner tersebut bertuliskan 'Aksi Diam Kamisan'. Dengan salah satu tulisan 'Kejahatan Terhadap Kemanusiaan adalah Pelecehan Terhadap Tuhan'.
ADVERTISEMENT
Dalam aksi tersebut, mereka mengangkat kembali isu-isu yang terlupakan dan yang urgent untuk diangkat. Ahmad Shalahuddin, Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi Kamisan, mengatakan aksi ini rutin digelar untuk terus mengingatkan masyarakat bahwa ada isu yang belum terselesaikan. Isu yang diangkat kebanyakan soal HAM (Hak Asasi Manusia), isu tentang lingkungan, dan isu lainnya.
Ahmad Shalahuddin, Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi Kamisan di Tugu Pal Putih (Tugu Jogja). Foto: Birgita,
"Kami secara konsiten, rutin berdiri di depan tugu setiap hari Kamis supaya menyadarkan orang bahwa ada permasalahan-permasalahan yang belum selesai" ungkap Ahmad saat ditemui di Tugu Pal, Kamis (15/8/2019) sore.
Sejak pukul 5 sore, mereka sudah siap berdiri dengan pakaian serba hitam, memegang payung hitam sambil membentangkan poster. Aksi yang mereka pilih memang hanya diam dengan membentangkan poster. Menurut Ahmad, itu dilakukan supaya tidak mengganggu ketertiban karena mereka menggelar aksinya di ruang publik. Mereka tak peduli beridiri di depan Tugu Pal walaupun dalam kondisi panas maupun hujan. Bahkan jumlah orang tak menghalangi mereka untuk menggelar aksi. Entah sedikit atau banyaknya orang, tetap mereka langsungkan aksi tersebut.
Banner Aksi Kamisan di Tugu Pal Putih (Tugu Jogja). Foto: Birgita.
"Mau panas, hujan, nggak peduli. Tetap ada aksi. Mau yang datang banyak, sedikit ya tetap ada. Tiga orang, dua orang. Yang penting pesan kami bisa tersampaikan" kata korlap Aksi Kamisan.
ADVERTISEMENT
Dia berujar bahwa aksi ini merupakan bentuk empati kepada orang-orang yang menjadi korban akibat permasalahan. Harapannya dengan aksi tersebut, orang akan menyadari dan memiliki empati bahwa ada isu yang belum selesai dan orang yang menjadi korban butuh tempat bersuara. (Birgita/adn)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan