Konten Media Partner

Akumulasi Gas Dalam Perut Merapi Picu Letusan di Sabtu Pagi

Tugu Jogjaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Gunung Merapi yang mengeluarkan awan panas. Foto: Kumparan.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gunung Merapi yang mengeluarkan awan panas. Foto: Kumparan.

Akumulasi gas dalam perut gunung Merapi menjadi penyebab letusan yang terjadi pada Sabtu (9/11/2019) pagi tadi. Sama seperti dengan letusan-letusan yang terjadi selama ini akumulasi gas dalam perut gunung merapi memang menjadi pemicunya.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida. Menurut Hanik, sebenarnya tipe erupsi gunung merapi adalah lelehan, namun karena akumulasi gas dalam perut gunung, maka sesekali bisa terjadi lontaran.

"Lontaran tadi pagi terbilang kecil kalau dibandingkan dengan sebelumnya. Tanggal 15 Oktober 2019 dengan tinggi kolom 3.000 meter, tadi pagi 1.500 meter,"tuturnya, Sabtu (9/11/2019).

Hanik menyebut akibat lontaran awan panas tersebut, terpantau beberapa wilayah mengalami hujan abu namun dalam skala rendah alias tipis. Dari informasi yang BPPTKG terima, hujan abu tipis tersebut terjadi di Telogo lele Selo Boyolali dan juga Wonolelo Sawangan Magelang.

Meskipun arah angin saat terjadi letusan pagi tadi cenderung ke barat namun tidak terjadi hujan abu di wilayah Sleman, Kalitengah Lor, Kaliadem, Turgo ataupun Kaliurang. Kendati demikian, Hanik tetap menghimbau kepada masyarakat untuk tenang meskipun juga harus tetap waspada.

"Status masih sama seperti sebelumnya yaitu waspada atau level II. Masyarakat harus beraktivitas di luar area 3 kilometer dari puncak,"tambahnya. (erl)