Konten Media Partner

Arief Yahya Ungkap Hal yang Terjadi Jika Tiket Pesawat Tidak Turun

Tugu Jogjaverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Pariwisata, Arief Yahya. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Pariwisata, Arief Yahya. Foto: Istimewa

Pemerintah bersikeras untuk menurunkan harga tiket pesawat terbang. Karena jika harga tiket pesawat tidak diturunkan maka akan mengancam beberapa sektor perekonomian di tanah air.

Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya, mengatakan porsi tiket pesawat terbang dalam dunia pariwisata menyumbang 30-40 persen biaya wisata. Jadi kalau tiket pesawat terbang naik harganya 40-50 persen seperti sekarang ini overall naik 20 persen. Namun dengan kenaikan harga tiket pesawat terbang seperti ini sudah berdampak terhadap penurunan okupansi hotel hingga 30 persen.

"Hampir semua propinsi tingkat hunian hotelnya mengalami penurunan. Mulai dari Aceh, Medan Batam Kepri, Palembang malah ada Gubernur yang protes langsung kepada saya. Akibat kenaikan tiket pembatalan perjalanan," ungkapnya, Jumat (15/2/2019).

Ia mengaku setuju dengan pendapat dari Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi. Kalaupun naik, menurutnya harus dilakukan secara bertahap. Tidak seperti yang terjadi saat ini di mana harga tiket pesawat terbang langsung mengalami kenaikan yang cukup tinggi dan dilakukan secara mendadak.

Ia memastikan akibat kenaikan yang cukup tinggi dan mendadak tersebut akan memicu industri pariwisata menjadi kolaps. Karena itu adanya price elasticity atau kelenturan harga yaitu ketika harga dinaikkan 20 persen maka demand akan mengalami penurunan 20 persen.

"20, 80 kali 100 menjadi 96 persen. In total kamu akan turun sebanyak 90 persen," paparnya.

Kalau nanti dinaikkan lagi menjadi 30 persen maka demannya akan turun 30 persen menjadi hanya 70 persen. Ketika harga tiket pesawat dinaikkan 50 persen maka demannya akan turun 50 persen dan itu yang terjadi sekarang ini akan mengakibatkan demand menjadi lebih kecil.

"Bahkan bisa jadi tidak ada sama sekali. Karena harganya di luar daya beli masyarakat," tambahnya.

Yahya menyebutkan apakah ini akan berlangsung lama atau tidak, hal tersebut tergantung dengan kondisi. Secara umum jika naiknya kecil yaitu hanya 20 persen maka akan berlangsung 2 bulan. Jika 3 persen maka akan berlangsung selama 3 bulan dan kalau naiknya 50 persen akan berlangsung 5 bulan, 6 bulan atau bahkan tidak akan kembali lagi ke angka normal.

Karena tidak kembali ke angka normal sebelum kenaikan maka nanti akan ada sebuah keadaan yang disebut sebagai angka new normal. Jika tadinya tingkat okupansi pesawat terbang sebesar 100 persen sekarang tinggal 40 persen. Sehingga angka 40 persen inilah yang harus diterima karena hanya ada 40 orang atau 40 persen yang mampu membeli tiket pesawat terbang yang tadinya Rp 1 juta menjadi Rp 1,5 juta.

"Itu pointnya, kecuali mau dilakukan secara kontroversi. Maskapai menaikkan harga cukup tinggi dan dilakukan secara mendadak lalu dijelaskan dengan tabel Y dan Z. Masyarakat tidak mau mengerti apa itu Y dan Z, pokoknya masyarakat maunya jangan naik tinggi-tinggi," tegasnya.

Kenyataannya memang saat ini sudah seperti itu di mana masyarakat sudah tidak mampu lagi membeli tiket pesawat terbang. Terlebih golongan masyarakat yang leusure sudah tidak bisa lagi membeli tiket pesawat terbang. Sehingga Yahya menandaskan kenaikan harga tiket pesawat terbang tersebut impactnya sangat besar.

"Tetapi alhamdulillah presiden sudah turun tangan. Dan kami berterimakasih kepada Garuda Group yang sudah mulai menurunkan harga tiket pesawat terbang 20 persen. Semoga diikuti oleh airline lainnya. Sementara untuk bagasi baru ada satu maskapai yang menaikkan. Semoga maskapai yang tidak menaikkan harga bagasi akan berjalan dengan bagus," selorohnya. (erl/adn)