Asal Usul Lampion, Ornamen Khas yang Selalu Ada Tiap Imlek

Setiap Tahun Baru Imlek tak hanya identik dengan banyak ucapan Gong Xi Fa Cai tapi biasanya juga akan dipenuhi banyak ornamen yang berkaitan dengan hari raya. Salah satu ornamen yang tak pernah absen adalah lampion. Biasanya lampion akan digantung dan bertebaran mulai dari di tempat ibadah, jalan, hingga rumah. Keberadaannya dipercaya bukan hanya sebagai pajangan belaka namun sebagai simbol pengusir roh jahat.
Pada zaman dahulu ada banyak monster yang menganggu manusia. Salah satu upaya yang bisa dilakukan masyarakat Tiongkok untuk mengusir roh jahat menurut legenda yakni menggunakan lampion. Kebiasaan itu berlangsung turun temurun.
"Itu ada sejarahnya. Kalau zaman dulu kan ada monster nah penduduk itu mengusirnya pakai lentera atau api supaya tidak masuk," cerita Luciana Iin, salah satu wanita keturunan Tionghoa saat ditemui di tokonya pada Jumat (24/1/2020).
Kepercayaan itu rupanya terus ia pegang hingga kini. Ia bahkan juga ikut menggantung lampion di rumahnya sebagai salah satu simbol mencegah roh jahat agar tak masuk ke dalam rumah.
"Kita biasanya gantung lampion di depan rumah. Nah itu menjadi satu legenda yang masih dipraktekkan hingga sekarang turun temurun," imbuhnya.
Menurut sejarah, lampion dipercaya berasal pada zaman Dinasti Han Timur Kuno yang berdiri pada tahun 25-220 masehi. Di masa itu, masyarakat menggunaian penerangan dengan lilin baik di dalam maupun di luar rumah. Karena penerangan penting saat itu untuk membantu membaca atau bekerja, pelindung untuk menjaga lilin agar tetap menyala. Pelindung yang digunakan saat itu bisa berupa kain sutra atau kertas.
Susunan bambu, kayu, atau jerami akan digunakan untuk merentangkan kain atau kertas. Lilin kemudian akan diletakkan ditengah-tengah bulatan sehingga api tidak akan mati tertiup angin.
Melansir dari sebuah situs China Higlight, keberadaan lampion kemudian diadaptasi oleh para biksu untuk ritual ibadah. Lampion kemudian masif dikenal oleh masyarakat luas ketika memasuki zaman Dinasti Tang sekitar 618-907 masehi. Di masa itu lampion dibuat untuk memeriahkan sebuah acara hingga akhirnya dikenal sebagai simbol kebanggaan masyarakat Cina juga salah satunya digunakan untuk keperluan mendekor.
Lampion pun terus berkembang, keberadaannya kini tak lagi dipandang sebagai pengusir roh jahat taoi juga sudah menjadi bagian dari budaya maupun dekorasi untuk memeriahkan sebuah acara masyarakat Tionghoa. Meskipun begitu, bukan berarti kepercayaan akan benda itu mampu mengusir roh jahat sudah luntur.
Beberapa menerapkannya karena memang masih mempercayai kepercayaan tersebut. Bahkan sebagian orang juga diketahui memajang jumlah lampion seperti dengan yang dipercayai masayarakt zaman dulu.
"Setahu saya kalau zaman dulu itu (lampion yang dipasang berjumlah )genap. 4 nya nggak boleh karena melambangkan kematian. Kalau bisa jumlah genap kiri kajan biar seimbang," pungkas wanita yang akrab disapa Iin.
Pada prakteknya di masa kini, ia mengatakan bahwa beberapa rumah tak memajang lampion dengan jumlah genap. Menurutnya keberadaan sebuah lampion saja dirasa cukup sebab seiring berkembangnya waktu hal seperti itu hanya dianggap sebagai simbolis saja.
"Prakteknya zaman sekarang nggak harus genap juga. Yang penting ada dekorasinya," imbuhnya.
