BMKG Sebut Ciri-ciri Bakal Terjadi Tsunami

Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan memang pernah terjadi gempa dan tsunami di pesisir selatan DIY. Mereka menyebut ada beberapa kali terjadi gempa dan tsunami dalam kurun waktu ratusan tahun yang lalu.
Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Geofisika Kelas I Yogyakarta, Teguh Prasetyo, mengungkapkan di Yogyakarta memang pernah terjadi tsunami 600 tahun yang lalu. Kemudian terjadi lagi pada tahun 1840, dan kembali terulang tahun tahun 1859, 1921 serta tahun 2006.
"Ini artinya apa? Artinya bahwa tsunami itu terus terulang,"tutur Teguh, Jumat (2/8/2019).
Oleh karena itu, yang perlu dipahami oleh masyarakat adalah lempeng bumi itu selalu bergerak. Dan dengan pergerakan itulah, maka akan terjadi gempa bumi. Gempa bumi akan menyebabkan tsunami jika syarat-syarat tertentu menyertainya, paling tidak dengan magnitudo lebih dari 7, gempa dangkal serta gerakan tanah naik turun.
Artinya terjadi hal tersebut maka masyarakat perlu waspada terkait dengan kemungkinan terjadinya tsunami. Masyarakat harus menyadari bahwa wilayahnya adalah masuk dalam kawasan rawan bencana (KRB). Sehingga yang paling penting adalah mitigasi bencana semaksimal mungkin untuk menekan jumlah korban jiwa maupun harta.
Selama ini, hal yang paling disorot adalah terkait dengan keberadaan bandara Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulonprogo yang berada di pesisir. Kendati demikian, Teguh menandaskan apa yang dilakukan oleh pemrakarsa proyek bandara sudah benar.
"Membangun shelter dan bangunan lebih tinggi itu sudah benar,"ujarnya.
Jika ada pihak yang meminta pembangunan bandara YIA dihentikan, maka ia meminta untuk memahami terlebih dahulu proses pembangunan bandara tersebut. Di mana pembangunan bandara Yogyakarta International Airport (YIA) sudah melalui kajian dan tidak mungkin lagi dihentikan.
Ia mengakui memang ada ancaman terkait terjadinya bencana tsunami di kawasan pantai selatan DIY termasuk Kulonprogo. Namun hal tersebut justru akan menjadi peluang jika mitigasi dilaksanakan secara sungguh-sungguh. Bandara sendiri bisa menjadi peluang bagi masyarakat jika bisa memanfaatkannya.
Pelaksana Tugas Sementara (PTS) General Manager YIA, Agus Pandu Purnama mengatakan terkait dengan ancaman tsunami, pihaknya telah melakukan berbagai upaya mitigasi. Pembangunan bandara YIA ini sudah melalui Fisibility Studi (FS) dengan melibatkan para ahli termasuk Jepang.
"Bahkan kita sudah simulasikan dengan kekuatan magnitudo 8,8,"ungkapnya.
Bahkan, Bandara YIA ini justru menjadi shelter baru ketika terjadi bencana tsunami. Sebab, area bandara ini lebih tinggi 7,5 meter dari pemukiman warga. Tak hanya itu, pihaknya juga telah mendesain lantai 2 bangunan bandara menjadi tempat penyelamatan diri dengan kapasitas mencapai 6.000 orang
Bangunan bandara ini juga ada sacrificed coloumn atau kolom yang dikorbankan ketika terjadi gempa dan tsunami. Tak hanya itu, jika nanti ada gempa besar maka pintu barat dan timur akan dibuka untuk memberi kesempatan kepada warga mengungsi ke dalam bandara. (erl/adn)
