kumparan
KONTEN PUBLISHER
11 November 2019 12:52

Buya Syafii soal Larangan Bercadar: Mari Pakai Pakaian Nasional Saja

20191110_202237.jpg
Buya Syafii saat peresmian patung Panglima Besar Jenderal Sudirman di Yogyakarta, Minggu (10/11). foto: atx
Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Buya Syafii Ma'arif menanggapi soal polemik larangan bercadar. Buya beranggapan bahwa seseorang harus secara hati-hati dalam menggunakan cadar dan celana cingkrang di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Terkait masalah penggunaan, Buya sendiri mengatakan bahwa hal tersebut merupakan hak asasi. Akan tetapi menurutnya, kedua hal baik cadar maupun celana cingkrang merujuk pada simbol dari sebuah paham tertentu.
"Sesungguhnya dari sudut hak asasi biasa saja ya. Tapi kan itu (pemakaian cadar dan celana cingkrang) sebuah simbol dari sebuah paham yang kalau nggak hati-hati bisa berbahaya. Karena ada ideologi di belakang itu," ujar Buya Syafii di Sleman, Minggu (10/11).
Buya Syafii tidak merujuk pada ideologi tertentu bagi yang menggunakan atribut tersebut. Dia hanya menegaskan bahwa tak melulu kedua atribut tadi menunjukkan hal yang negatif. Akan tetapi pun ada juga orang yang mengenakan atribut tersebut malah melakukan tindak kejahatan seperti yang terjadi dalam kasus penusukan mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhumkam) Wiranto.
ADVERTISEMENT
“Ideologi itu bisa macam-macam tapi ndak semua yang celana cingkrang, sebagian juga damai juga. Tapi sebagian lagi seperti yang menikam Pak Wiranto itu kan sudah teror. Jadi memang kita harus hati-hati," imbuhnya.
Berkaitan dengan peraturan bagi pegawai negeri atau ASN terkait pakaian, Buya mengimbau agar mereka taat pada peraturan yang ditetapkan.Ia mengajak para pegawai yang masih mengenakan celana cingkrang dan cadar di lingkup kantor Pemerintahan untuk mengenakan pakaian yang sudah tertuang pada peraturan setiap instansi.
"Kalau saya, mari pakai pakaian yang nasional saja, tidak macam-macam itu (celana cingkrang dan cadar). Karena kita kan sudah punya kultur sendiri, tradisi sendiri, ndak usah tiru-tiru orang lain lah," kata Buya.
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan