Capai Rekor Tertinggi, Harga Gaplek Naik Rp 2.500 per Kg

Kemarau panjang yang terjadi di tahun 2018 ini mengakibatkan produksi ketela di Kabupaten Gunungkidul mengalami penurunan. Akibatnya, produk turunan dari ketela seperti Gaplek mengalami peningkatan harga yang cukup signifikan. Kesulitan bahan baku dituding menjadi pemicu utama kenaikan harga Gaplek di Gunungkidul.
Saat ini, harga Gaplek di Gunungkidul mencapai rekor tertinggi karena berada di level Rp 3.500 perkilogramnya. Padahal, ketika pasokan ketela lancar dan melimpah, harga gaplek perkilonnya paling tinggi hanya mencapai Rp 1.000 perkilogramnya, bahkan pernah mencapai level terendah Rp 500 perkilogramnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnubroto mengakui harga gaplek kini mencapai rekor tertinggi dalam sejarah industri Gaplek di Gunungkidul. Bahan baku utama pembuatan Tiwul ini sebelumnya memang tak pernah menyentuh level di atas Rp 2.500 perkilogramnya.
"Karena pasokannya sedikit sementara permintaan banyak, maka harga Gaplek melambung,"tuturnya, Selasa (2/10/2018).
Kemarau panjang yang terjadi sejak bulan April 2018 lalu memang mengakibatkan produksi dari Ketela menurun drastis. Selain luasan yang menyusut, kualitas tanaman ketela juga mengalami penurunan. Sebab, akibat kekurangan pasokan air, ukuran umbi ketela yang ditanam juga mengecil.
Menurunnya produksi ketela tersebut memicu penurunan produksi gaplek. Pihaknya memperkirakan terjadi penurunan produksi gaplek hingga 15 persen dari produksi normal. Gaplek merupakan hasil vermentasi dari ketela pohon yang banyak digunakan untuk pakan ternak dan juga bahan baku tiwul, makanan khas Gunungkidul.
"Hal ini tentu berbeda dengan apa yang terjadi biasanya. Yaitu ketika petani panen, maka harga akan turun,"ujarnya.
Saat ini, gaplek memang mulai terangkat terutama untuk produksi Tiwul. Permintaan Tiwul mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir setelah industri pariwisata di Gunungkidul menggeliat. (erl/fra)
