Cerita Loper Koran Kuliahkan Anaknya hingga Lulus Cum Laude di UGM
ยทwaktu baca 3 menit

Perasaan bahagia dan haru masih menghinggapi Muryadi Ilyas (52), warga Dusun Tawarsari, Kalurahan Wonosari, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul. Perjuangannya belasan tahun mampu kuliahkan anak sulungnya hingga lulus cum laude di Universitas Gajah Mada (UGM).
Apa yang telah diraih anaknya, Indah Choirunisa (23) seolah mimpi baginya. Terlebih anaknya meraih nilai cum laude di universitas ternama di Indonesia. Indah berhasil meraih nilai 3,65 di jurusan Sastra Indonesia UGM.
Muryadi adalah seorang ayah yang bekerja sebagai loper koran. Tentu ada rasa bangga ketika anaknya bisa meneruskan pendidikan di UGM dan mampu selesai dengan nilai yang sangat memuaskan.
"Alhamdulillah, semuanya berkat Allah SWT," ujar dia ketika ditemui di rumahnya, Selasa (30/8/2022).
Sejak tahun 1996, Muryadi mulai bekerja sebagai loper koran. Masih ingat di benaknya kala itu, dengan modal yang sangat minim ia mencoba membuang malu berjualan koran. Saat itu, uangnya hanya cukup untuk membeli koran sebanyak 12 eksemplar.
Dia mencoba menjajakan koran dari rumah ke rumah dan kantor ke kantor. Selepas sholat subuh, ia mengayuh sepedanya mengelilingi kota Wonosari untuk mengantarkan dan mencari pelanggan koran yang dia miliki.
"Alhamdulillah pelanggan koran kami semakin banyak," ujarnya.
Kini, hampir semua Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) Pemerintah Daerah (Pemda) Gunungkidul telah menjadi pelanggannya. Bahkan sebelum pandemi COVID-19 melanda, Muryadi mengaku memiliki pelanggan sebanyak 500 orang.
Beragam koran dari media memang ia jual semuanya berdasarkan kesenangan pelanggan. Melalui loper koran inipula ia mengaku hampir semua pejabat di Gunungkidul ia kenal. Mulai level terbawah hingga maksimal asisten bupati ia kenal.
"Dulu sewaktu bupatinya Bu Badingah dan Bupati sebelum-sebelumnya semua saya kenal. Bahkan Bu Badingah sering memanggil saya ke rumah beliau. Kalau bupati sekarang (Sunaryanta) saya belum begitu kenal," ungkapnya.
Pandemi memang membuat usaha loper korannya terdampak. Pelanggannya turun menjadi sekitar 300 orang. Di samping pandemi, penurunan pelanggan koran ini juga imbas dari digitalisasi yang belakangan juga terjadi.
Karenanya, ia mencoba untuk menambah jenis dagangannya. Dia kini juga mencoba menjual kayu bakar, arang dan juga madu. Semua itu ia lakukan agar anaknya bisa menyelesaikan pendidikan.
"Indah kuliah di UGM dan anak saya yang kedua di SMK N 2 Wonosari. Tentu butuh biaya yang tidak sedikit," ujar dia.
Muryadi mengaku sangat terbantu ketika Indah kuliah di UGM. Karena Indah diterima di UGM melalui program Bidik Misi. Sehingga ia mendapat beasiswa gratis selama kuliah di samping juga biaya hidup setiap sebulan sekali.
Meskipun gratis biaya kuliah, namun yang paling berat dirasakannya adalah untuk biaya kos, biaya makan dan biaya lain-lain. Apalagi biaya kost di seputaran UGM sudah tidak murah lagi, perbulan ia harus membayar Rp 450 ribu.
"Itu baru kost saja. Belum biaya lain-lain," katanya.
Ia mengaku tidak memiliki usaha lain kecuali loper koran dan berjualan kayu bakar serta arang. Untuk biaya pendidikan anaknya dan makan sehari-hari semuanya dari loper koran tersebut. Namun ia bersyukur selama ini tidak pernah merasa kekurangan.
"Alhamdulillah saya itu tidak pernah sakit. Jadi berangkat terus, saya hanya libur pas nikah dulu. Itu saja cuma dua hari," ujar dia.
Indah sendiri mengaku sangat berterimakasih dengan kedua orangtuanya yang telah berjuang banting tulang. Ayahnya sudah berangkat selepas subuh sementara ibunya sibuk mempersiapkan segala keperluan ia dan adiknya
"Jadi saya berangkat sekolah sendiri, jalan kaki. Tapi tidak masalah karena saya tahu perjuangan bapak ibu sudah sangat keras untuk kami," tuturnya.
Dan untuk membantu orangtua agar tidak terlalu terbebani akan biaya pendidikannya, Indah mengaku sering menjadi 'joki' tugas-tugas kuliah teman-temannya. Terkadang dia juga menerima jasa pembuatan dan penyelesaian skripsi.
Usai lulus, ia mengaku ingin segera bekerja. Mimpinya tidak terlalu muluk, karena ia ingin bekerja di perusahaan penerbit. Tetapi bukan di DIY, ia ingin bekerja di perusahaan penerbit besar yang ada di Jakarta.
