Cerita Mahasiswa di Jogja Ikuti Sidang Skripsi dari Ruang Isolasi

Di saat pandemi COVID-19, seluruh kegiatan perkuliahan mulai dari belajar, mengerjakan tugas akhir, bahkan hingga sidang skripsi, semuanya dilakukan dari jauh atau melalui online. Menghadapi sidang online dari rumah mungkin sudah terdengar biasa saat ini. Namun bagaimana jadinya jika menghadapi sidang skripsi dari ruang isolasi? Hal itulah yang menjadi pengalaman berharga Siti Nurhaliza, salah satu mahasiswa tingkat akhir di sebuah universitas di Yogyakarta.
Mengutip dalam ceritanya di kanal YouTube Narasi Stories, pada 19 April 2020 lalu, sebuah hantaman disarankan oleh gadis yang akrab disapa Ica itu. Pasalnya di hari itu dokter mendiagnosa bahwa dirinya positif COVID-19.
Mulanya Ica tengah menyelesaikan tugas akhirnya dengan praktek di klinik. Namun pandemi ini justru membuat segalanya terhambat dan prakteknya dihentikan. Akhirnya dia memutuskan pulang ke kampung halamannya yang ada di Kalimantan. Saat itu dia sempat menjalani pemeriksaan kondisi tubuh dan seluruhnya dilaporkan sehat.
"Saya pulang ke Kalimantan tempat saya tinggal di tanggal 29 Maret. Selang empat hari setelahnya saya merasakan batuk sampai muntah. Saya diperiksa test tanggal 4 sama tanggal 5. Di tanggal 19 April, saya kembali lagi ke rumah sakit. Saya sudah dinyatakan sebagai orang yang positif COVID-19," tuturnya.
Dia mengaku bahwa ketakutan terbesar baginya adalah tugasnya yang terbengkalai.
"Ketakutan terbesar saya adalah saya mahasiswa tingkat akhir. Saya harus menjalankan ritual-ritual mahasiswa semester akhir. Salah satunya saga harus menyelesaikan tugas akhir saya," paparnya.
Betul saja, dia sempat depresi dan merasakan yang namanya titik terendah dalam hidup. Ica hanya menangis dan meratapi keadaannya.
"Selama dua hari saya hanya menangis meratapi nasib saya. Merasa saya adalah sampah. Di situ titik terendah saya. Sampai saya harus menjalani terapi dari berbagai psikiater," kenangnya.
Banyak yang Mendukung
Kesedihan dan putus asa yang dialaminya wajar mengingat Ica tak pernah menyangka akan terkena salah satu penyakit COVID-19 hingga membuat studinya sempat terhenti beberapa waktu. Di balik itu semua rupanya banyak orang-orang yang mendukung Ica.
Sebuah titik balik muncul tepatnya di momen Ramadan kemarin. Seseorang yang bahkan ia tak kenal memberikan sebuah Alquran dan menu buka puasa. Dari situ dia kemudian berpikir bahwa orang memberinya suntikan harapan dan tidak ada gunanya untuk merasa menyerah dengan keadaan.
"Ketika mood saya sudah membaik, saya mengerjakan tugas-tugas saya mengerjakan tugas akhir saya. Dan saat itu saya jadwal sidang online sudah keluar. Akhirnya saya mengejar," katanya.
Pihak kampus tempat Ica berkuliah membenarkan perjuangan mahasiswa nya itu. Mereka bahkan memberikan support begitu besar bagi Ica. Mereka juga memberikan perhatian dan dukungan moral agar Ica juga tetap bisa melanjutkan tugas akhirnya walaupun diterpa penyakit COVID-19.
"Iya benar (itu mahasiswa kami)," kata Kepala Biro Humas, Kerjasama, dan Protokol (BHKP) UNISA, Sinta Maharani saat mengkonfirmasi cerita salah satu mahasiwa pada Sabtu (13/6/2020).
"Kami sangat mendukung sekali saat dia menyelesaikan tugas akhir. Saat dia dinyatakan positif, kami dari satgas COVID-19 UNISA Yogyakarta memberikan arahan juga untuk penguatan psikologi agar bisa tetap positif thinking, semangat, optimis dan menjaga protokol kesehatan pencegahan COVID-19," tuturnya.
Ica tak ingin menyerah. Dia merasa masih mampu melakukan yang dia bisa. Namun usahanya tak mulus-mulus saja. Mengerjakan tugas dari ruang isolasi tentunya juga ada kendala yang dirasakan Ica. Seperti misalnya koneksi internet di tempat itu yang sangat sulit. Ditambah seluruh berkas tugas akhir Ica ada di rumah. Alhasil dia meminta tolong keluarganya untuk mendapatkan berkas tersebut.
Menjalani sidang online ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan sekaligus mengharukan baginya. Sekilas memang seperti sidang online pada umumnya di mana bisa ditonton oleh keluarga di rumah atau setidaknya ada teman. Namun di situ dirinya hanya sendirian ditemani pasien lainnya dan para tenaga medis.
"Sebenarnya sama seperti teman-teman yang lain saat sidang online di rumah. Tapi berbeda hanya di mereka ditonton oleh keluarga, tapi di sini saya harus duduk di kasur putih dan laptop saya, saya letakkan di meja makan pasien," ungkapnya.
Dia pun berhasil menjalankan sidang online dengan lancar. Bahkan dia mendapat kiriman bunga dari temannya yang dari jauh. Ia iuga bahkan dikunjungi meski hanya bisa saling menatap dari balik kaca ruang isolasi. Namun hal itu membuat Ica bahagia.
"Dan pada sore perawat masuk dan itu kita foto bareng. Saya merasa semangat dan tidak sendiri lagi. Semuanya mengucapkan semangat dan semua mengucapkan bangga dengan apa yang telah saya capai," katanya.
Kini Ica tinggal menunggu waktu untuk wisuda online. Dia mengaku dengan apa yang sudah dia perjuangkan selama ini tentunya terbayar dengan wisuda meski harus dilaksanakan secara online.
"Tidak perlu berkecil hati karena wisuda ini hanyalah sebuah momen. Jika kamu memang berkompeten memiliki ilmu yang berguna, mau sidang dimana pun atau wisuda dimana pun, itu tidak masalah," pungkasnya.
