Cerita Medina Aulia, Pecatur Putri yang Selalu Memilih Lawan Putra

Pecatur perempuan Medina Warda Aulia, 22 tahun, masih memiliki mimpi terpendam meski sudah menyandang predikat sebagai Woman Grand Master, gelar tertinggi kejuaraan catur untuk kelas putri.
Pecatur yang tahun 2020 nanti mewakili Indonesia dalam Piala Dunia Catur Rusia itu berhasrat mengumpulkan lebih banyak lagi gelar catur putra agar makin mumpuni saat berlaga di berbagai kejuaraan, tanpa memandang kelas putra maupun putri.
“Saya sedang mengejar banyak gelar norma putra,” ujarnya, Jumat (21/06/2019).
Anak ketiga dari enam bersaudara itu menuturkan sangat senang jika dalam kesempatan turnamen yang diikuti bisa ditempatkan untuk bersaing di grup putra.
Menurut Medina, bermain melawan pecatur putra akan lebih mendapat banyak pengalaman dan juga sensasi tersendiri.
Perempuan yang tengah menyelesaikan skripsinya di Universitas Indonesia Fakultas Imu Administrasi itu punya pengalaman sendiri saat bertarung melawan pecatur pria. Permainan pecatur pria biasanya kerap tak terduga namun juga kerap berantakan dalam langkah-langkahnya. Baginya, permainan pecatur pria benar-benar menguras energi dan pikiran.
“Mungkin kalau pecatur cowok itu mainnya benar-benar pakai logika, dalam arti dia nggak main aman, sedangkan cewek lebih memilih safety, aku jadi kebawa belajar berani melangkah,” ujar perempuan yang mengidolakan grand master catur Susanto Megaranto itu.
Gaya permainan catur putra yang lebih terbuka ini sudah diminati Medina sejak sekolah catur di Enerpac, sekolah yang kini bernama Sekolah Catur Utut Adianto di Jakarta.
Medina pun mengakui seringnya latih tanding lawan pecatur putra itu yang membentuk kemampuannya meningkat pesat hingga memperoleh Norma Woman Grand Master pertamanya pada akhir tahun 2011. Ketika menjuarai Kejuaraan Catur Wanita ASEAN ke-2 di Singapura.
“Makanya untuk persiapan Piala Dunia 2020 aku sekarang juga lebih banyak ambil kesempatan turnamen putra,” ujar pecatur yang sudah mendapatkan tiga gelar norma International Master (IM) putra itu di Yogyakarta pada Rabu, 19 Juni 2019.
Termasuk keikutsertaan Medina di turnamen Japfa Grand Master-Woman Grand Master Chess yang berlangsung 13-22 Juni 2019, ia menjadi satu satunya putri yang memilih beratrung di grup putra. Di grup itu ia melawan tiga grand master sekaligus yakni GM Susanto Megaranto, GM Dimitry Kokarev (Rusia) dan GM Ivan Sokolov (Belanda).
“Dari turnamen (di Yogya) ini saya bisa mencombine berbagai ilmu dari para grand master itu untuk persiapan piala dunia nanti, sekaligus meningkatkan Elo rating,” ujarnya.
Medina menuturkan ia punya resep untuk setiap laga yang dihadapi agar tampil maksimal. Ia tak pernah muluk memasang target agar tetap tenang dan focus mengatur bidak caturnya.
“Tapi kalau menghadapi pecatur dalam piala dunia, pecatur Rusia yang paling perlu diwaspadai,” ujar Medina.
Medina menuturkan, pecatur Rusia menurutnya memiliki pemahan sangat mendalam disertai pengalaman bermain yang tak perlu diragukan. “Kalau pecatur Rusia itu dicantumin Elo ratingnya, data itu tak akan bohong, benar-benar sesuai dengan kemampuan mereka,” ujarnya. Beda halnya dengan pecatur Eropa lain. Dengan data Elo yang dimiliki pecatur Eropa lain selain Rusia, Medina mengaku masih bisa meraba-raba celah untuk berhitung kekuatannya. (atx/nny)
