Cerita Pemilik Kebun Kurma di Jogja, Pesanan Stabil saat Ramadhan
·waktu baca 3 menit

Memasuki bulan Suci Ramadhan 2023, kurma biasanya menjadi salah satu takjil yang banyak dicari oleh masyarakat. Pasalnya bagi sebagian orang, tidak afdol jika memulai dan berbuka puasa tanpa memakan kurma.
Meski permintaan akan buah kurma itu melonjak di pasaran, salah satu pemilik kebun kurma di Yogyakarta, Suparyoto (65) mengatakan permintaan akan bibit pohon kurma saat menjelang ramadhan itu tetap stabil.
Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat nya untuk terus bercocok tanam membudidayakan bibit kurma di kebun seluas 3500 meter yang ia miliki.
"Biasa saja (penjualannya). Karena bibit (pohon) kurma itu kan butuh waktu agar bisa panen menjadi buah. Biasanya 15 tahun baru produktif," kata pegiat Kurma di Jogja, Suparyoto, Selasa (28/3/2023).
Suparyoto menceritakan awal mula ia mendirikan Kebun Kurma yang diberi nama Ngadinah sejak 2016 tersebut. Dirinya menyebut tidak berfokus pada produksi kurmanya melainkan bagaimana menghasilkan bibit kurma yang memiliki kualitas baik.
Menurutnya kurma memiliki peluang yang sangat apik di masa mendatang, apalagi kurma telah menjadi tren makanan yang selalu ada setiap kali bulan puasa, sehingga kebutuhan akan bibit pohon kurma itu diyakini akan selalu dibutuhkan untuk jangka waktu yang panjang.
Di sisi lain, Suparyoto juga membeberkan alasan ia mulai bercocok tanam itu. Rupanya karena melihat kondisi generasi muda yang mulai jarang menoleh untuk meneruskan profesi sebagai petani karena dinilai tidak menghasilkan. Padahal, jika ditekuni, ada beberapa tanaman yang cukup menjanjikan di masa mendatang seperti kurma yang jumlah permintaan setiap puasa itu tidak sedikit.
"Meskipun (saat ini) belum berhasil, endingnya bisa menarik generasi muda untuk mau bertani. (Karena) nggak ada anak muda yang mau terjun ke sawah. Nanti kalau hasilnya lumayan otomatis masyarakat akan tertarik sendiri tidak usah dipromosikan," ujarnya.
Saat ini, Suparyoto mampu mengelola lebih dari 5.000 pohon kurma dengan memperkejakan beberapa orang dalam menjalankan bisnis tersebut. Jumlah pohon yang ditanam itu menjadi yang terbanyak di Yogyakarta.
Setidaknya, ada sekitar 9 jenis pohon kurma yang ditanam, di antaranya kurma ajwa, kurma barhee, kurma KL-1 atau kolak one, kurma medjool, kurma sukari, kurma khalas, kurma zaghloul, kurma khenaizi dan kurma mazafati.
"Bersyukurnya, pohon kurma yang saya tanam itu tumbuh dengan tidak mengenal musim. Jadi tumbuhan itu berbuah dengan sistem menyusul seperti kepala," paparnya.
Meski sempat alami kesulitan lantaran iklim tropis, Suparyoto bersyukur dapat menumbuh kembangkan bibit kurma tersebut di kebunnya.
Kondisi iklim tropis menjadi tantangan tersendiri bagi dirinya saat merawat ribuan bibit pohon kurma itu, dimana harus rutin memberikan cairan pestisida untuk membasmi hama yang kerap hinggap di pohon kurma.
"Kalau musim hujan gini tidak ada perawatan khusus, tapi biasanya akan ada jamur di pohon kurma. Jadi biasanya saya semprot insektisida untuk membasmi jamur yang tumbuh di pohon itu," tandasnya.
