Konten Media Partner

Cerita Wanita di Yogyakarta Sukses Berbisnis Tas dengan Omzet Miliaran Rupiah

Tugu Jogjaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Stefi, pemilik bisnis tas Jims Honey saat berfoto dengan produknya. Foto: Meta/Tugu Jogja.
zoom-in-whitePerbesar
Stefi, pemilik bisnis tas Jims Honey saat berfoto dengan produknya. Foto: Meta/Tugu Jogja.

Stefi tak menyangka usahanya mengembangkan bisnis tas di Jogja bisa berkembang pesat. Bermula dari kesulitan yang dialaminya, wanita berusia 28 tahun itu memulai bisnis tas bernama Jims Honey yang semua produknya diproduksi dari Tiongkok.

Tepatnya di tahun 2014, gadis kelahiran 27 Januari 1992 itu sedang menempuh pendidikan masternya. Awalnya segalanya berjalan dengan baik hingga suatu ketika sebuah situasi mulai mengubah hidupnya hingga terjun ke dunia bisnis. Ayah Stefi yang berada di Kalimantan sakit- sakitan. Sebagai seorang anak yang berbakti, ia berusaha meringankan beban orang tuanya.

"Awal saya memulai bisnis Jims Honey itu papah saya sakit terus saya sudah ke sini (Jogja) itu kan butuh uang untuk ngekos, bayar kuliah dan lain-lain. Itu the power of kepepet, mau nggak mau harus kerja biar ada uang buat makan, buat bayar kost, buat kehidupan sehari-hari. Ditambah lagi saya punya seorang adik yang baru kuliah di Jakarta, itu juga butuh duit, mau nggak mau saling membantu," kata Stefi, Jumat (18/9/2020).

Sebagai pendatang baru dan sebagai anak muda, ia tak bisa meikmati waktunya untuk berfoya-foya atau menghabiskan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Fokusnya hanya satu saat itu yakni bisa bertahan hidup dan membantu perekonomian keluarganya yang sempat terseok karena ayahnya sakit.

Saat itu, ia tak langsung menggeluti bisnis tas. Awalnya dia memulai dengan berjualan baju. Setidaknya itu bisa mencukupi kebutuhan sehari-harinya kala dulu.

"Saya nggak bisa main. Pulang kuliah saya balasin chat, packing," kata dia.

Tas Jims Honey yang terpajang di toko. Foto: Meta/Tugu Jogja.

Namun bisnis pakaian tak semudah yang ia bayangkan. Kendala yang dihadapi saat bisnis pakaian ialah size yang terkadang tak sesuai dengan customer.

Berkaca pada hobinya mengkoleksi tas yang unik dan berkualitas, ia pun memutar otak dan beralih ke bisnis tas. Salah satu keuntungannya ialah tak terpaku pada size dan juga lebih memiliki prospek jangka panjang.

Bermula dari join bisnis dengan saudaranya, ia memulai usaha dengan membeli barang produksi China dan kemudian dijual di pasar Indonesia.

"Kita ngambil barang dari China itu belum berbrand, sampai akhirnya yang biasanya beberapa piece, jualnya susah akhirnya kita coba promosi ke temen, endorse artis kecil-kecil. Dari situ mulai berkembang," paparnya.

Dari biasanya hanya mengambil beberapa piece barang, usaha mereka berkembang dan pesanannya bertambah hingga beberapa dus. Sampai di tahun 2015, mereka memberanikan diri membuat brand dengan nama Jims Honey.

Jims diambil dari nama suami saudaranya. Sedangkan honey yang berarti madu. Stefi ingin usahanya Jims Honey ini dapat menghasilkan usaha yang manis serta membantu siapa saja terutama perekonomian keluarga.

"Akhirnya 2015 baru kita bikin brand yang namanya Jims Honey tapi jualannya tetep sama tas dompet gitu. Yang baru ada jam tangan pria dan wanita, ada tumbler, power bank, nantinya kita akan adakan kotak makan," kata dia.

Setelah berkembang bisnisnya, kini omset perbulannya bisa mencapai 1 miliar. Saat ini Stefi memiliki ribuan reseller. Dan impiannya membantu orang dengan menjadi resellernya berbuah manis juga. Bahkan untuk menjadi reseller tidak ada syarat khusus. Untuk menjadi reseller hanya perlu membeli satu produknya sudah bisa jadi reseller. Ia menekankan yang penting ada kemauan berusaha.

Stefi, pemilik bisnis tas Jims Honey saat berfoto dengan produknya. Foto: Meta/Tugu Jogja.

"Maunya bisnis Jims Honey ini bisa membantu siapa saja. Salah satunya saya dulunya nggak punya apa-apa sekarang bisa punya aset. Kemudian reseller yang sudah join di Jims Honey bisa membantu perekonomian keluarganya. Yang dulunya sampingan sekarang bisa menjadi pekerjaan utama mereka," papar Stefi.

Total sekarang sudah ada lebih dari 500 reseller. Jumlah itu belum termasuk yang ada di seluruh Indonesia.

Ia memanfaatkan adanya teknologi ditambah dengan kemajuan pesat promosi sehingga bisnis jualan onlinenya bisa berkembang dengan pesat.

Saat membangun awal, Stefi mendirikan Jims Honey dengan modal Rp 2,5 juta. Uang tersebut diberikan oleh ayahnya untuk membayar kebutuhannya dan membayar pendidikannya S2 ditambah dengan modal membeli barang.

"Aku nggak ada modal awal. Modal nekat the power of kepepet. Aku dikasih Rp 2,5 juta dari papa. Harus membayar kost, harus dibagi dengan yang lainnya. Pernah sih ditanya mau dikasih uang atau enggak, aku bilang enggak usah karena aku tahu kondisi papa lagi nggak memungkinkan," kata dia.

Terkait barang yang ia jual, yang saat ini menjadi trend ialah model yang mengikuti perkembangan zaman, dengan harga murah namun kualitas juga tetap terjamin dengan segmen anak muda hingga ibu-ibu.

Saat masa pandemi seperti sekarang ini usahanya juga berdampak. Tapi itu saat awal- awal sekitar bulan April- Mei, penjualan sempat menurun karena barang tidak bisa masuk ke Indonesia. Namun masuk bulan Juni berangsur normal. Malah beberapa reseller mengaku omsetnya naik hingga 20 persen.

"Sebelum kita produksi kita dikirimi sampelnya. Kalau yang best produksi tidak. Kalau yang sudah populer nggak kirim sampel," pungkas dia.