Cerita WNI di Spanyol yang Positif Corona

Sebagai Warga Negara Indonesia yang tinggal jauh dari Tanah Air di tengah pandemi COVID-19 seperti saat ini tentunya membawa sejumlah pengalaman yang berbeda. Apalagi jika ternyata harus tinggal di negeri orang dengan status sebagai pasien positif COVID-19.
Hingga 5 Mei 2020 tercatat berdasarkan data dari Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia ada sebanyak 703 kasus WNI di luar negeri yang mengidap COVID-19. Dengan rincian 314 sembuh, 34 meninggal dunia dan 355 dalam perawatan.
Toni (bukan nama sebenarnya) merupakan salah satu WNI yang masuk ke dalam pasien positif COVID-19 di luar negeri. Di Spanyol, tempat dia tinggal saat ini tercatat ada 13 kasus WNI yang terjangkit COVID-19 dengan rincian 11 diantaranya sembuh dan 2 dilaporkan dalam kondisi stabil.
Sebelumnya ia sendiri mengaku tak menyangka bisa terjangkit COVID-19. Bahkan kondisinya bisa dikatakan baik-baik saja meski awalnya ia mengaku sempat terkejut dengan hal itu.
"Ya menurut saya karena kondisi saya yang saat ini masih cukup sehat ya Puji Tuhan. Tapi karena pemberitaan itu mengejutkan ya sempat stres juga," aku pria yang sudah sekitar satu tahun tinggal di Spanyol itu, Selasa (19/5/2020).
Begitu hasil test keluar, ia lantas menghubungi dokter untuk berkonsultasi perihal kesehatannya.
"Waktu saya tanya ke dokter. Jadi saya bisa lihat hasil test itu hari Minggu di internet bahwa saya positif, saya langsung kontak ke dokter kemudian konsultasi dengan dokter dan dokter bilang 'tenang aja, kamu jangan stres juga'. Pesannya sama," tuturnya.
Sejak diketahui hasil test swab positif COVID-19, ia pun langsung diharuskan menjalani karantina mandiri selama 14 hari. Aktivitas berjalan seperti biasa, hanya saja yang membedakan adalah kegiatan di luar tak seintes dulu. Mengingat ia harus menjalani isolasi mandiri dan juga otoritas setempat memberlakukan protokol terkait penanganan dan pencegahan COVID-19.
Sebelumnya dilaporkan kondisi terkini di daerah dia tinggal kurva sudah mulai melandai. Dimana beberapa waktu belakangan beberapa tempat mulai dibuka seperti tempat perbelanjaan.
"Waktu itu Wuhan masih nomor satu, kedua Italy, ke tiga Spanyol. Karena lockdownnya ada beberapa pertimbangan tidak langsung di lockdown akhirnya Spanyol langsung melampaui Italy jumlah yang terinfeksi corona,"
"Waktu awal-awal juga orang di jalan masih banyak nggak pakai masker. Karena nggak test nggak tahu juga mana yang sakit akhirnya menjadi yang nomor dua setelah Amerika sekarang," ujarnya.
Di tempat Toni tinggal kini dia melaporkan adanya kestabilan grafik kasus corona dimana kini menujukkan kurva yang melandai.
"Di Spanyol sendiri, kita udah memulai fase nol sekarang untuk membuka diri karena grafiknya udah mulai mendatar. Melai per Sabtu kemarin udah mulai dibuka anak-anak dan orang tua udah boleh keluar dari rumah tetapi dibatasi jam tertentu
Selain itu tidak boleh keluar lebih dari satu kilometer dari rumah. Cukup banyak orang yang keluar rumah setelah menjalani masa-masa lockdown tersebut.
"Kalau grafiknya mendatar kemungkinan nanti dibuka beberapa. Sekarang yang boleh buka hanya supermarket bagian makanan. Yang peralatan dapur pakaian mereka kasih police line. Yang kedua (boleh dibuka) adalah apotek," ujarnya.
Menjalani Hari dengan Isolasi Mandiri
Di awal usai dia mendapat diagnosa dan mengontak dokter, ia lalu diarahkan untuk menjalani protokol isolasi mandiri selama di rumah mulai dari memisahkan perangkat makan, sering mencuci benda atau yang dipakai bersama dengan rekan serumahnya dan memakai masker meski di dalam rumah.
Seluruh aktivitas berpangsung seperti biasanya hanya saja yang membuatnya berbeda adalah seluruhnya dilakukan dari rumah. Bahkan termasuk pemantauan kesehatan, ia menceritakan tidak perlu harus bolak-balik ke rumah sakit. Seluruh pantauan kesehatan kini dilakukan rutin via komunikasi telepon dengan dokter.
"Dokter ini yang memantau tiap dua hari, dia akan telepon saya bagaimana keadaannya. Keadaan ya kondisi apakah masih sehat atau ada gejala seperti batuk, pilek," ujar dia.
Bicara tentang sakitnya, dia mengaku dokter sama sekali tak meresepkan obat-obat aneh. Justru dokter meresepkan obat sesuai dengan gejala yang dia alami dan dapat dicari dengan mudah di apotek.
"Karena saya ada batuk jadi dokter kasih saya resep di apotek, baru tadi pagi saya minum obat batuk," ujarnya.
"Sejak diketahui hasilnya positif harus karantina 14 hari, dan 7 hari sejak batuknya sembuh dilakukan tes lagi.
Tinggal di negara yang menempati urutan ke dua dengan jumlah terbanyak kasus corona di dunia tentunya membuat pikiran Toni was-was. Berbagai pemberitaan yang menghiasi media lokal tempat Toni tinggal rupanya juga membawa efek tersendiri baginya selama menjalani karantina mandiri. Ia mengatakan bahwa ada peningkatan stres selama pandemi corona.
Diakuinya bahwa kebijakan otoritas setempat yang memberlakukan lockdown ditambah lagi dengan masifnya pemberitaan terkait corona yang tiada habis membuat ia stres. Ia pun akhirnya memilih untuk memfilter dirinya melihat pemberitaan terkait corona secukupnya.
"Semenjak dilockdown itu saya stres. Stresnya itu ke psikologis karena ketakutan to. Saya setelah itu udah nggak mengakses berita lagi. Di rumah stres, baca berita tambah stres. Akhirnya saya nggak baca berita lagi.
"Dulu kan saya ngikutin banget tiap hari sekarang akhirnya ya beginilah," katanya.
Disamping itu juga tak bisa dipungkiri menjalani masa lockdown bahkan ia sendiri harus melakukan isolasi setelah didiagnosa positif COVID-19 tentu membuat ada keinginan melepas jenuh.
Ia menceritakan salah satu kegiatan unik yang dia lakukan untuk menghibur diri. Salah satu kegiatan yang diakuinya cukup menghibur dirinya ialah menjemur pakaian.
"Jadi saya masih punya akses untuk keluar untuk jemur pakaian di atas. Jadi modelnya rumah kami itu seperti rumah susun, di lantai paling atas itu di atap kita bisa jemur. Hiburan saya satu-satunya adalah jemuran umum," katanya.
"Jadi hiburan saya adalah menjemur, jadi sering-sering cuci pakaian saja," imbuhnya.
Tak Selamanya Buruk, Banyak Orang-orang di Spanyol yang Supportif saat Pandemi
Menjalani hari sebagai penderita COVID-19 di Spanyol rupanya tak semenakutkan yang dibayangkan. Ia menyampaikan tidak menakutkannya dalam artian orang masih bisa berinteraksi secara wajar dan juga ada banyak orang yang supportif.
Hal ini jauh berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Lain halnya di Indonesia dengan Soanyol selama pandemi ini orang betul-betul menghargai satu sama lain.
Masing-masing orang di tempat sekitar dia tinggal menjaga jarak bukan dalam arti membatasi interaksi sosial melainkan membatasi interaksi atau kontak fisik.
"Biasa aja yang dijauhi itu penyakitnya bukan orangnya," ungkapnya.
Sama halnya dengan itu, pertama kali ketika dia didiagnosa positif COVID-19, tempatnya bekerja bahkan memberikan dukungan yang begitu besar.
"Bapak duta besar mengontak saya, memberi semangat, (mengimbau) jangan stres. Selama imunitas bagus nggak ada masalah, yang penting jangan stres. Dan teman-teman di sekeliling saya mendukung semua," katanya.
Bahkan termasuk juga orang yang tinggal serumah dengannya dan juga warga yang tinggal satu gedung dengan apartemen miliknya juga tidak memberikan perlakuan yang berbeda.
Seperti misalnya teman satu rumahnya yang membantu membelikan obat di apotek ketika sakit hingga masih bisa saling bertegur sapa dengan tetangganya.
"Kita sudah tinggal di negara ini resiko kena ya sudah biasa. Jadi saya sampaikan ke pacar saya kemudian dia bilang 'ya sudah mau gimana lagi, selama kita nggak sakit ya suda'. Kayak flu lah kita kena flu ya gimana lagi," ujarnya.
"Ya sudah seperti biasa," tuturnya.
Dia menuturkan bahwa memang di tempat sekitar ia tinggal memang ada cukup banyak orang berusia renta yang patut berjaga-jaga sebab mereka memiliki resiko terpapar dan kecenderungan positif COVID-19 yang cukup tinggi.
"Jadi mereka menjaga jarak supaya tidak tertular. Komunikasi masih di jarak satu meter nggak apa-apa tidak dijauhi. Dijauhi secara harafiah karena menjaga jarak. Bukan terus nggak mau ketemu," katanya.
Bahkan ada satu kebiasaan juga yang unik di sana. Warga di sana betul-betul mengapresiasi tenaga medis yang ada di sana dengan sebuah cara unik.
"Di sini kami setiap jam 7 malam kita membuka jendela kita tepuk tangan. Kita menghargai tenaga-tenaga medis yang sudah berjuang untuk kita. Dengan cara setiap jam 7 malam kita selalu keluar rumah dan tepuk tangan sekitar 5 sampai 10 menit. Terus kemudian kalau ada ambulans lewat, ambulans itu akan berhenti dan menyalakan sirinenya. Itu fenomena untuk menghargai tenaga medis yang sudah berjuang demi warga negara di sini," paparnya.
Hal ini jauh berbeda dengan ia rasakan saat melihat beberapa pemberitaan di Indonesia bahwa masyarakat diperlakukan seperti tidak manusiawi. Tenaga medis dijauhkan hingga warga yang menderita COVID-19 juga mendapat penolakan.
"Saya kadang kalau lihat berita di Indonesia kadang agak sedih miris, orang diusir dari kampung atau segala macem," ungkapnya.
"Kalau saya lihat di Indonesia malah perawat yang diusir, dokter yang melakukan karantina mandiri diusir dari rumahnya. Kita sama sama manusia lah tetep menghargai sesama," pesannya.
Sebagai warga negara Indonesia yang merasakan sendiri pengalaman mengidap COVID-19 dan menjalani hidup di negeri orang, tak banyak hal yang bisa dia lakukan. Dari sepenggal kisah yang dia bagikan, ia menilai agar corona tak semestinya terlalu ditakutkan dengan berlebihan bahkan hingga menjauhi orang lain. Ia hanya bisa berpesan pada warga negara lainnya khususnya yang ada di Indonesia bahwa seyogianya bisa membuat masyarakat menjadi lebih peduli akan kesehatan dan juga saling memanusiakan manusia yang ada.
"Ini mungkin pesan dari bumi kita tercinta ini ya bumi ini sedang self healing karena terlalu banyak polusi, kerusakan dimana-mana, terus sedang mengurangi jumlah populasi manusia yang sudah bertambah banyak ini kemudian mengajarkan kita untuk hidup lebih bersih. Jadi menghargai kesehatan diri kita sendiri dengan cara menjaga kesehatan diri kita sendiri tadinya kita lupa cuci tangan sekarang ya kita mulai hidup lebih bersih. Kemudian jangan menjauhi orangnya tapi yang dijauhi adalah virusnya. Jadi jangan takut sama virus ini," pungkasnya.
