Cerpen | Kesempatan Kedua

Aku mengamati gadis yang duduk di hadapanku. Dia diam, telapak tangannya mengitari gelas es coklat yang berembun. Sudah sejak lima menit yang lalu dia begitu.
“Kamu kenapa?”
Aku berusaha memutuskan suasana canggung ini. Risa tersentak, menatapku bingung lalu menggumam.
Lantas, aku bertanya padanya sekali lagi, “Kamu kenapa?”
Dia hanya menjawab tiga kata yang sering sekali muncul dari mulut wanita ketika tidak ingin menjawab jujur jika ditanya seperti itu.
“Aku enggak apa-apa.”
Aku tidak ingin memastikan lagi dengan bertanya, ‘yang benar atau masa atau bohong nih’ karena aku tahu betul sikapnya jika dia tidak baik-baik saja.
Dia meminum es coklatnya lagi. Sedangkan aku, berusaha menerka apa yang dipikirkan wanita di depanku ini.
Suasana kafe di Jalan Palagan, Yogyakarta, itu semakin sore semakin ramai dipenuhi anak muda. Obrolan dari meja lain pun kedengaran, layaknya dengungan-dengungan lebah. Sesekali, terdengar suara tawa terbahak-bahak.
Di sini ribut, tapi kami berdua terasa begitu sunyi. Aura kami berdua begitu berbeda dengan semua orang yang diliputi aura kebahagiaan di situ. Beberapa menit berlalu dalam diam.
“Risa, aku minta maaf.”
Aku berusaha kembali membuka obrolan yang terhenti. Ini harus diselesaikan, aku tak ingin ini berlarut-larut dan menghantui kehidupanku nanti.
Risa mulai bisa mengangkat wajahnya lebih lama. Kuamati matanya yang bulat, bulu matanya yang lentik, bibirnya yang pink alami, kujelajahi setiap inci indah wajahnya yang membuatku ingin menciuminya.
Sayang, di balik wajahnya yang rupawan, tersimpan kesedihan yang membuatku gemas ingin mengenyahkannya. Aku bersalah. Aku punya andil melukis sedih di wajahnya. Dia pantas menyalahkan aku karena sudah membuatnya tidak bisa tidur, bahkan tidak nafsu makan, juga kehilangan senyum dan gairah.
“Kenapa?" katanya sambil menatap wajahku.
“Maaf, kamu jadi begini,” kataku dengan penuh kehati-hatian.
Takut semakin melukiskan sedih. Lagi pula, ini tempat umum, aku tak ingin dia menangis di tempat ini. Bisa-bisa, aku memberikan tontonan gratis pada pengunjung lain. Nantinya, juga akan ada bisik-bisik. Hingga akhirnya, aku dikatai sebagai lelaki brengsek karena sudah membuat wanita menangis.
Raut wajahnya berubah drastis. Tadi dia diam saja berusaha tabah, walaupun aku tahu hatinya sedang kacau.
Matanya yang tadi hanya membuat tatapan kosong dan putus asa, kini sedang berusaha kuat menahan air yang tengah sesak memenuhi matanya. Tinggal menunggu satu momen lagi, mungkin air matanya itu akan berjatuhan.
“Ayo. Ini kunci mobilnya, kamu masuk duluan. Aku bayar dulu ya.”
Aku berdiri, melangkah ke sebelahnya, mengusap punggungnya. Aku berharap dia sedikit tenang dan mau beranjak dari tempat duduknya.
Dia menurut, meraih sling bag-nya, lalu beranjak. Aku cepat-cepat ke kasir dan menyelesaikan pembayaran. Harus cepat pergi dari sini. Kami butuh privasi untuk menyelesaikan masalah kami.
Sepanjang perjalanan, dia diam saja. Aku juga diam saja tak berusaha mengungkit pembicaraan yang belum selesai tadi. Takut terbawa emosi dan tidak fokus di jalan. Berdasarkan data, emosi tidak stabil dan tidak fokus saat berkendara di jalan jadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan.
Tentu saja, aku tidak ingin aku dan juga Risa masuk ke daftar orang yang kecelakaan di jalan akibat kelalaianku. Beberapa menit kemudian, aku sampai di tempat kosnya.
Dia langsung turun dari mobil. Aku mengekorinya masuk ke kamar kosnya. Tidak ada peraturan bahwa laki-laki dilarang masuk ke dalam kamar kos putri. Jadi, ini sudah bukan pertama kalinya aku masuk ke kamarnya.
Beberapa pintu terlihat terbuka, sekilas kuperhatikan ada yang sedang nonton TV, ada yang sedang bergosip dengan sesama teman kosnya, bahkan ada yang sedang asik berbincang bersama beberapa cowok, yang menurutku tampangnya masih bau kencur.
Dia menaruh asal tasnya dan duduk bersandar pada salah satu sisi dinding. Aku memposisikan diriku tidak terlalu dekat dengan tempat dia duduk. Pikiranku dipaksa lagi untuk kembali ke pokok permasalahan.
###
Awal dari semua kerumitan ini berasal dari siang itu. Waktu itu, aku mengajak dia untuk menemaniku mencari bahan untuk proyekku. Sebenarnya kami sudah biasa pergi bersama sebelumnya. Kami teman yang cukup akrab dan dia sering aku mintai bantuan untuk memilihkan sesuatu untuk desainku. Matanya cukup jeli melihat hal detail dan itu sangat membantuku.
“Kayaknya kita harus mampir buat makan deh.”
Matanya mengamati setiap sisi jalan memerhatikan mungkin ada tempat makan yang enak. Hingga akhirnya, kami berhenti di Jalan Palagan di kafe makanan Korea.
Kami mengobrol banyak hal di situ. Mulai dari semua kesukaan kami, lawakan konyol, atau video yang sedang viral di sosial media, hingga menyindir beberapa pelanggan yang kelewat heboh berfoto di salah satu spot kafe yang ada gambar oppa Korea-nya.
Suasana saat itu begitu bahagia dipenuhi tawa. Lalu, untuk pertama kalinya, aku menatapnya begitu jelas dan lekat. Melihat senyumnya yang manis, bibirnya yang merah muda alami, bulu mata yang lentik, juga mata bulatnya yang berbinar.
Hari itu ternyata berujung pada chat panjang pada malam harinya. Biasanya, aku hanya menghubungi dia ketika minta saran soal proyek buatanku dan juga ajakan untuk menemani mencari bahan proyek. Kami melanjutkan obrolan tentang hal-hal konyol yang kami bahas ketika di kafe makanan Korea.
Pertemuan berikutnya jadi pertemuan yang begitu kutunggu. Ternyata, menghabiskan waktu dengannya terasa menyenangkan. Kepribadiannya hangat. Yang aku suka darinya adalah hal-hal tak terduga yang sanggup membuatku tertawa.
Dia wanita yang menggemaskan. Kami jadi sering menghabiskan malam bersama. Tempat kerja kami yang berbeda membuat kami jarang bisa bertemu di siang hari. Sehingga malam hari adalah waktu yang tepat mengajaknya jalan. Begitu jam kantor selesai, aku akan langsung pulang, lalu mandi dan siap-siap dengan penampilan terbaikku.
Sudah bisa ditebak bahwa aku sedang jatuh cinta dengan wanita bernama Risa itu. Dan perubahan yang ditunjukkan ketika sedang jatuh cinta seperti semakin memerhatikan penampilan, bersikap menyenangkan, dan menunjukkan versi terbaik bukan hanya dialami oleh wanita saja. Pria juga bisa berubah jika sedang jatuh cinta.
Falling in love never in my plan. Until I realized I love this girl so much.
“Kalau aku bilang aku suka kamu, what would you say?”
Kalimat itu meluncur begitu saja. Sudah beberapa minggu kalimat itu ada di benakku. Membuatku harus mencari timing dan prolog yang pas supaya segalanya lancar. Dan ungkapan cinta, dari seorang pria berumur 25 tahun sudah tidak zaman lagi jika masih harus diungkapkan lewat chat.
Aku ingin membuat hal yang berkesan. Namun tampaknya, hati ini sangat tidak sabaran dan melumpuhkan logika. Aku didesak oleh hatiku sendiri untuk mengucapkannya. Malam itu, di atas rooftop sebuah mal di Jogja, kalimat itu meluncur begitu saja.
Wajah Risa memerah. Dia tersipu malu. Mataku mendeteksi senyum yang tertahan di bibir Risa. Manis sekali.
Dia menjawab ‘kamu boleh suka sama aku’ dengan nada yang pelan sekali tapi masih bisa ditangkap oleh telingaku. Aku menggodanya.
“Kamu jawab apa? Aku enggak dengar. Boleh diulangi?”
Aku menatap matanya menunggu dia meneriakkan dengan keras.
“Iya kamu boleh suka sama aku,” jawabnya keras tapi dengan terburu-buru.
Wajahnya sudah merah sekali menahan malu.
Aku tertawa, senang sekali ada perasaan lega karena berhasil mengungkapkan perasaan. Suasana di atas rooftop yang dingin menjadi hangat dan rasanya seperti bisa terbang menjelajah langit.
Hatiku dipenuhi bahagia. Dia menatapku bingung.
“Jadi?”
“Jadi,” aku tersenyum menatap wajahnya yang terlihat sangat menggemaskan malam itu.
“Ih bukan itu.”
Dia gemas karena aku hanya berkata aku menyukainya tanpa menjelaskan apakah itu sebagai ungkapan untuk mengajak ke fase hubungan yang baru.
“Sekarang kamu pacarku,” jawabku sambil mencubit pipinya.
Rutinitas kemudian jadi ada yang berbeda. Setidaknya, setiap beberapa hari sekali, kami mengagendakan kencan. Setiap hari ada pesan-pesan manis yang menyemangati untuk mengawali hari. Beberapa hari sekali, kami menghabiskan waktu saling bertukar suara saat malam hari hingga menjelang waktu tidur.
Fase di awal hubungan memang benar-benar indah. You can’t blame gravity for falling in love. Rasanya, setiap waktu ingin bisa dihabiskan hanya untuk bersayang-sayangan dengan si dia.
Memasuki bulan-bulan berikutnya, harusnya kalian sudah bisa menebaknya. Seperti dalam cerita cinta-cintaan atau bahkan dalam sebuah hubungan yang terjadi di real life, yang di awal pacaran sedang hangat-hangatnya, lalu mulai terjadi beberapa konflik-konflik kecil, salah satunya bahkan ada yang jadi mulai posesif atau malah mulai mengabaikan.
Saat ini, aku sedang menjalani fase kedua. Risa mulai posesif. Dia bahkan selalu ingin supaya aku terus di dekatnya. Padahal, sesekali aku ingin hangout dengan beberapa teman atau bermalas-malasan saat libur kerja. Selalu saja agenda kencannya harus ada.
Jika dia sudah mengajak pergi, hal itulah yang harus dituruti. Jika tidak, dia akan ngambek, mendiamkanku. Jika dibiarkan menenangkan diri lebih dulu, malah dianggap tidak peduli dan membuat dia marah-marah. Ah, kalau sudah begitu ribet.
Hal yang paling menyedihkan dari fase jatuh cinta pada setiap manusia adalah cepat atau lambat segala sesuatu akan berubah menjadi salah. Tak seindah di awal. Dan harimu akan mulai dipenuhi dengan kekesalan. Puncak kekesalan terjadi setelah keluar dari cinema.
Dia merajuk tidak ingin pulang. Masih ingin jalan-jalan, padahal aku lelah dan mengantuk karena filmnya yag begitu tidak menarik. Dia menarik lenganku sambil setengah berlari yang membuatku kaget dan nyaris tersandung kakiku sendiri.
“Risa!” aku menggertaknya.
Dia kaget bukan main. Aku belum pernah berbicara dengan nada tinggi seperti itu kepadanya. Raut wajahnya menunjukkan ketakutan.
“Aku mau pulang. Kamu ikut aku atau kamu pulang sendiri nanti.”
Aku melangkah mendahuluinya. Dia mengekor di belakangku dengan agak menyisakan jarak. Biasanya, dia menempel di dekatku, memeluk lenganku.
Bahkan, di dalam mobil dia sama sekali tidak bersuara. Aku merasakan kesalku mulai mereda, mencoba mengajaknya bercanda. Namun, dia sudah tidak berminat menganggapi. Dia masih takut. aku menurunkannya tepat di depan gerbang rumah kosnya. Dia langsung keluar tanpa berkata-kata.
“Good night.”
Aku menunjukkan senyum untuk memperbaiki keadaan.
Dia hanya menjawan ‘iya’ dengan pelan sekali dan langsung masuk.
Besoknya, dia sama sekali tidak ribut saat di-chat. Aku bisa sedikit menjalani hari dengan tenang. Hingga malam Risa tak juga menunjukkan ‘keributannya’ di-chat. Sebagai seorang pria yang berumur 25 tahun, aku berpikir dia sangat kekanak-kanakan.
Memangnya, aku dan dia sedang menjalani hubungan ala-ala anak ABG. Harusnya dia pengertian sedikit. Dan aku sama sekali juga tak menghubunginya. Aku lelah dengan pertengkaran tidak masuk akal yang malah menghambat diriku dan menghindar kurasa sudah seperti jawaban.
Kami kemudian terbiasa tidak menghubungi. Tenggelam dalam sibuk. Bahkan, hingga tidak ingat lagi bahwa ada satu kewajiban yang dulu disepakati bersama bahwa setiap hari setidaknya akan memberi kabar walau sebentar. Kami benar-benar tenggelam dalam emosi masing-masing tanpa ingin tahu atau menyelesaikan masalahnya. Semua berjalan biasa saja. Seperti sebelumnya saat pacaran.
Semudah itu perubahannya? Ya perubahan semudah itu. membiasakan diri semudah itu. Mungkin bagi Risa itu tidaklah mudah. Yang aku tahu dari beberapa artikel tentang wanita menyebutkan biasanya hari-hari wanita kan dihiasi dengan kegalauan yang berlarut-larut hingga akhirnya dia sembuh sendiri dan bisa move on. Sementara bagi pria, katanya di awal tidak akan merasakan kehilangan karena bisa menenggelamkan diri melakukan hal baru atau bermain bersama temannya hingga suatu ketika akan muncul perasaan kehilangan. Mungkin bisa dikatakan boys deny that they’re HURT.
###
Hingga suatu ketika, memang hal yang seperti artikel itu katakan terjadi. Kadang aku curi-curi lihat story di akun instagramnya yang begitu bahagia menghabiskan waktu dengan teman wanitanya. Bahkan tak jarang aku melihat feeds isntagramnya yang sering travelling mengeksplorasi wisata di Jogja. Aku penasaran bagaimana kabarnya. Menyapa tidak ada salahnya kan? Kalau nanti bisa balikan mungkin itu jadi bonus.
Harriza_A liked your post
Harriza_Adi commented: Keren tuh. Wisata dimana?
Risa Feb reply your comment: Di daerah Panggang, Gunung Kidul
Beberapa kali aku mengomentari feeds Instagram terbarunya.
Hingga aku memang tidak bisa lagi, I couldn’t deny that I missed her. Aku mengajak dia ketemu. Tidak mudah dan harus menahan gengsi. Dan itulah yang terjadi di café makanan Korea tempat pertama kali aku mulai memperhatikan bahwa ada yang berbeda dari dia.
Sekarang aku dan Risa berada di satu tempat dengan atmosfer yang begitu dingin. Aku ingin memperbaiki ini.
Aku menghela nafas. Berusaha memulai obrolan yang belum selesai.
“Ris, kamu kadang masih suka kepikiran aku nggak sih?”
Rasanya aneh sekali sebagai seorang pria bertanya hal itu kepada wanita.
“Hmm.”
Dia hanya bergumam dan aku tak tahu persis ‘Hmm’ itu dia sedang mengatakan ‘iya’ atau dia tidak menyimak yang kutanyakan atau malah maksudnya jawaban ‘tidak’.
“Ris.”
Aku menimbang lagi untuk mengataknnya. Dia tampak kacau.
Sudah setengah tahun berlalu. Aku tak bisa menduga bagaimana hati manusia bisa berubah dalam waktu setengah tahun. Apakah hati manusia masih bisa tetap sama, masih mendamba seseorang yang sama bertahun-tahun, masih memikirkan orang yang sama dan diam-diam merindukan, ataukah perlahan mulai mencari-cari yang baru, perlahan dengan susah payah membangun hidup lagi.
Lalu keputusanku memintanya bertemu mungkin memporak-porandakan hatinya lagi.
Aku tidak tahu lagi cara menghadapinya yang hanya diam seperti waktu aku mencoba memperbaikinya dulu sebelum berakhir dengan mengabaikan. Mungkin butuh trik khusus untuk membuatnya merespons.
Tidak tahu lah. Lupakan trik-trik menaklukan sikap wanita yang sedang diam. Aku bicara saja tanpa memperhatikan apakah dia kesal atau malah tambah rumit. Yang penting aku tidak gengsi mengutarakan bahwa dia wanita baik yang bisa mengerti aku.
Lalu rupanya kebebasanku waktu itu malah ternyata tidak begitu semenyenangkan yang aku pikir.
“Aku tanya sekali lagi.”
Ada jeda yang kuberikan. Aku ingin dia mencerna setiap kata yang kuucapkan nanti. Risa mengangkat kepalanya.
“Apa kamu masih kepikiran aku?”
Rasanya tidak karuan. Sama seperti ketika aku menunggu beberapa menit yang berlalu sampai akhirnya Risa mengiyakan untuk menjadi pacarku.
“Masih” kata yang begitu lugas.
Meluncur begitu saja dari mulutnya.
“Bisa mulai dari awal lagi?”
Meskipun aku tahu aku masih tersisa di hatinya, akan kupastikan lagi bahwa aku masih bisa menjalin hubungan dengannya.
Biar kutebak, mungkin jauh sebelum pertemuan ini terjadi, Risa bersumpah untuk mengubur kenangan dan kesedihannya dalam-dalam. Dia juga mungkin berjanji agar tak jatuh cinta lagi denganku atau bahkan dengan tipe pria sepertiku.
Dia perlahan terisak. Melihat air matanya membuat hatiku merasa ngilu sekaligus dihujani rasa bersalah.
‘Kenapa aku harus pergi meninggalkan dia saat itu?’
Dia belum memberikan jawaban. Malah dia membuka salah satu laci.
Aku lega dia dia akhirnya mau bergerak. Setidaknya aku merasa bahwa aku memang bicara dengan makhluk hidup yang emosinya sedang tidak stabil. Bukan bicara dengan sebuah mannequin.
“Aku pernah merasa hancur. Hingga enggan untuk bertemu orang dan hanya larut dalam gelisah saja. Aku pernah mencoba meyakinkan diri bahwa masalah itu sudah lewat dan tidak perlu diungkit-ungkit lagi.”
Dia meluapkan emosinya. Dia kembali duduk menghadapku. Kali ini di tangannya ada sebuah kotak yang sudah bisa kutebak bahwa isinya adalah perhiasan entah itu kalung atau cincing yang seseorang berikan untuk Risa.
Risa tak memakai perhiasan itu.
“Masih ada waktu untuk memutuskan apa aku akan mengambil isi di dalamnya atau mengembalikan pada si pemberi,”
Jadi sebenarnya ini apa? Dia pilih yang mana?
“Aku memilih untuk mengembalikan pada si pemberi.”
Dia tenang sekali menjawab pertanyaanku yang padahal jika dinalar dia tidak boleh bilang begitu mengingat statusnya yang mungkin tinggal sedikit lagi menjadi resmi.
“Maksudmu kamu ingin kembali?”
Lagi-lagi aku bertanya. Hari ini aku banyak sekali bertanya.
Dia menganggu sebagai jawaban. Dan kurasa tak perlu lagi aku memastikan.
Aku sudah tahu sejak awal bahwa wanita memang mudah luluh. Aku sudah menyadari sejak awal bahwa pintu masih terbuka buatku. (bfn)
