Dawet Kemayu, Masa Pandemi Bisnis Malah Berkembang

Konten Media Partner
3 Mei 2021 12:53
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Dawet Kemayu, UMKM asal Yogyakarta yang berkembang di tengah pandemi corona. Foto: istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Dawet Kemayu, UMKM asal Yogyakarta yang berkembang di tengah pandemi corona. Foto: istimewa
ADVERTISEMENT
Kuliner klasik belakangan ini menjadi tren tersendiri di Yogyakarta, Salah satunya Dawet Kemayu menjadi jajanan lawas dengan tampilan yang kekinian. Menjadi brand jajanan yang baru berumur 1 tahun, Dawet Kemayu sudah berhasil memiliki 148 outlet. Bagaimana awal ceritanya sehingga Retno Intansari Rahmawati ini bisa menjadikan bisnis UMKM nya menjadi besar, ternyata ada kisah menarik dari bisnis ini.
ADVERTISEMENT
Mengawali dengan langsung membuka 10 gerai dipusat perbelanjaan, Dawet Kemayu langsung menuai pahit. Pasalnya tanggal 5 Maret 2020 saat launching gerai2 nya, pemerintah menerapkan PSBB kepada masyarakat untuk tidak keluar rumah dikarenakan penyebaran virus corona yang semakin tak terbendung. Kebingungan pasti dialami oleh Retno Intansari R sebagai founder Dawet Kemayu. “baru buka eh kok pas ada keputusan PSBB” ujar Intan saat ditemui (30 April 2021). Tapi kendati begitu , Intan tidak mungkin menutup gerainya, “Modal sudah keluar dan ga sedikit, terus kasihan juga dengan pegawai yang baru saja dipekerjakan. karena awalnya salah satu niat bisnis ini memang untuk membuka peluang kerja” imbuhnya
Dawet Kemayu, UMKM asal Yogyakarta yang berkembang di tengah pandemi corona. Foto: istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Dawet Kemayu, UMKM asal Yogyakarta yang berkembang di tengah pandemi corona. Foto: istimewa
Berfikir bagaimana caranya bertahan, karena tidak mungkin untuk saat itu mengandalkan jualan yang cup, Intan ber ide dengan membuat hampers dengan isi Dawet Kemayu. Karena bertepatan dengan moment bulan Ramadhan, ternyata ide ini lah yang menjadi penyelamat usahanya. Tanpa disangka, Intan kebanjiran order hampers Dawet Kemayu.
ADVERTISEMENT
Intan becerita Awal mulanya Intan berbisnis ayam geprek. Mulai dilanda bosan Intan sedang mencari sesuatu yang baru untuk bisnisnya . “waktu itu ga sengaja, pas jalan2 dan tanpa sengaja membeli dawet dijalan.” Karena dirasa dawetnya berbeda “lalu saya mencoba ngobrol dengan bapaknya yang berjualan dawet yg sudah sepuh untuk menjadi partner. Dari situlah saya mencoba untuk ikut tes pasar dengan ikut food bazaar. Dan ternyata Dawet nya laku keras. “ ujar Intan.
Intan tidak mengira kalau ternyata masyarakat sangat antusias dengan minuman khas jawa ini. Tingginya permintaan dengan Dawet Kemayu ini nampak dari rata-rata penjualan dari seluruh cabang di Pulau Jawa. penjualan kemasan cup di setiap outlet sebanyak 70-100 cups per hari. Tidak hanya itu, penjualan rata-rata per bulan untuk family pack Dawet Kemayu mencapai 4,000 pcs, sedangkan untuk botol sebanyak 2,000 pcs. Harganya pun juga sangat terjangkau mulai dari Rp.10Rb per cup, sudah bisa menikmati minuan dengan kwalitas bahan yang premium.
ADVERTISEMENT
Lalu bagaimana Dawet Kemayu ini bisa menjadi dawet premium? “ karena dari awal niatan bisnis ini akan menjadi bisnis waralaba (franchise) jadi kami ingin scale up bahan baku.” awal berjualan itu menggunakan santan, tapi santan ga awet, gimana nanti bisa dikirim keluar kota?” akhirnya kami menggunakan fiber crème sebagai pengganti santan. Selain lebih awet, rasa juga lebih enak, dan pastinya lebih sehat dibandingkan dengan santan. Jadi aman dikonsumsi oleh siapapun baik orang tua maupun anak2. Termasuk dengan gula yang digunakan juga dengan gula aren dan gula jawa saja. Jadi inilah yang jadi pembeda dawet kami dengan dawet lainnya.” Jawab Intan.
Intan menyadari bisnis jualan nya juga tetap memikirkan sisi promosi dalam dunia digital. “Makanya dari awal saya sudah persiapkan dengan membayar konten kreator untuk media sosial, karena sekarang kan media sosial sebagai jendela dari usaha.” Tutur Intan.
Dawet Kemayu, UMKM asal Yogyakarta yang berkembang di tengah pandemi corona. Foto: istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Dawet Kemayu, UMKM asal Yogyakarta yang berkembang di tengah pandemi corona. Foto: istimewa
Dan Karena niatan Intan dari awal ingin menjadikan Dawet Kemayu sebagai peluang usaha baru bagi masyarakat, dan juga menjadi lapangan kerja baru. Dawet Kemayu dikelola oleh tim yg profesional , sehingga para mitra franchise ingin bergabung sudah diberikan bisnis plan dan promosi tools. Dan harga dari paket franchise ny sendiri mulai dari harga Rp 3,9 juta tanpa booth, Rp 7,9 juta paket Juragan denganbooth minimalis, Rp 12 juta dan paling tinggi diharga Rp 15 juta untuk paket Sultan dengan booth galvalum. Sedangkan Untuk sistemnya sendiri kami franchise putus. Dan sampai saat ini mitra kami tersebar di kurang 30 kota di Pulau Jawa.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020