Dhaup Ageng Pura Pakualaman, Pengantin Jalani Prosesi Siraman
ยทwaktu baca 3 menit

Jelang hari pernikahan, prosesi Dhaup Ageng Pura Pakualaman pernikahan putra bungsu KGPAA Paku Alam X dan GKBRAA Paku Alam, BPH Kusumo Kuntonugroho dengan Laily Annisa Kusumastuti saat ini sudah memasuki prosesi siraman untuk kedua calon pengantin.
Adapun upacara siraman ini memiliki makna sebagai pembersihan diri kedua calon pengantin sebelum resmi menjadi pasangan suami istri. Upacara ini digelar sesuai dengan adat yang berlaku di Kadipaten Pakualaman Yogyakarta.
"Upacara siraman ini sebagai bentuk pembersihan diri secara lahiriah dan batiniah bagi calon pengantin," ujar Tim Pranata Adat Dhaup Ageng Kadipaten Pakualaman, Kanjeng Raden Nganten Tumenggung Retno Sumbogo, Selasa (9/1/2024).
Prosesi siraman ini diawali dengan penyampaian ubarampe siraman kepada pengantin putri termasuk toya Perwita Adi dari Maerokoco ke Ndalem Kepatihan Pura Pakualaman, serta pengantin putra di Parangkarsa. Ubarampe yang diserahkan berupa handuk, ratus, kebaya dan sejumlah barang lainnya.
Sebelum siraman, dilangsungkan juga prosesi sungkeman kepada orang tua masing-masing.
Untuk pengantin putri, prosesi siraman diawali dengan mengenakan busana yang diberi bunga melati pada bagian dadanya.
Prosesi siraman ini juga menunggu Gusti Putri atau istri Paku Alam X untuk memberikan restu terlebih dahulu.
"Calon pengantin putri kita busanani (dikenakan pakaian) ngagem sekar, bunga melati di bagian dadanya kemudian melakukan prosesi siraman," ujar dia.
Lebih lanjut, prosesi siraman pengantin putri ini dilakukan oleh permaisuri Kadipaten Pakualaman, GKBRAA Paku Alam, orang tua calon pengantin putri, Tri Prabowo, bibi, serta eyang dari pengantin putri. Selian itu juga ada B.R.Ay. Indrokusumo, Suryopadmonagoro.
Tak lama, prosesi itu diakhiri dengan calon pengantin putri berwudhu yang kemudian dilanjutkan dengan acara pecah klenthing yang dilakukan oleh GKBRAA Paku Alam. Lalu pengantin putri dirias, dimana diawali dengan Ngerik yang dilakukan oleh Gusti Putri dilanjutkan perias penganten.
Ngerik mengandung arti mencukur sinom atau rambut halus yang ada di dekat dahi. Setelah rambutnya kering, calon pengantin wanita mulai dirias dengan membuat cengkorongan paes, baru kemudian penata rias mulai ngerik.
"Sembari mengucap niyat ingsun mecah klenthing dadi sarana pecah pamore dr. Laily Annisa Kusumastuti. Ucapan tersebut adalah harapan pada saat calon pengantin perempuan dirias akan memancarkan aura, sehingga terlihat semakin cantik," jelasnya.
Sementara untuk calon pengantin putra menjalani prosesi siramannya di KD Gedhong Parangkarsa.
Prosesi siraman untuk calon pengantin putra ini dilakukan GKBRAA Paku Alam selaku ibunda, kemudian permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Hemas. Lalu, eyang dari caten kakung atau ibunda Gusti Putri yakni Harnadi, dan beberapa Bendara dari Kasunanan dan para pejabat di pemerintahan DIY.
"Setelah siraman berjumlah ganjil, Gusti Putri yang mengakhiri dengan berwudhu dan pecah klenthing, sambil mengucap niyat ingsun mecah klenthing dadi sarana pecah pamore BPH Kusumo Kuntonugroho," tuturnya.
Calon pengantin putra kemudian berganti busana di KD Gedhong Ijem dengan mengenakan nyamping batik bermotif Indra Widagda Jatmika, yang merupakan varian motif Indra Widagda dengan paduan motif tradisional'nitik'.
(M Wulan)
